Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Keakraban


__ADS_3

Roy menatap Hana yang tertidur pulas dalam pelukannya. Dengan sangat berhati-hati dia menarik lengan yang menjadi alas kepala Hana. Roy bangkit, mengambil handphone yang dia letakkan di atas meja sofa berjalan keluar balkon.


Dia menghubungi seseorang. Panggilan mulai tersambung.


"Roy... kau selalu menggangguku jika malam. Kau lihat ini jam berapa? Jam satu malam tidak bisakah kau menghubungiku besok saja?'' gerutu Rama dari balik handphone.


" Aku hanya ingin bertanya satu hal penting padamu?" Roy mengapit handphonenya di leher sedangkan tangannya mulai menyalakan rokok.


"Kau mau tanya apa?" Suara Rama terdengar kesal dan tidak sabar.


"Apa yang kau katakan pada Hana ketika sesi pertemuan kemarin? Aku tidak ikut jadi aku tidak tahu kau mengajarinya apa."


"Memang apa yang Hana lakukan sehingga kau bertanya?" Rama menahan tawanya.


"Jawab saja! Atau akan ku tutup tempat praktekmu!"


"Aku hanya menyuruh Hana melakukan kontak fisik denganmu, melihat seberapa besar efek trauma yang masih dia rasakan." Mereka terdiam untuk beberapa saat. "Apakah dia melakukannya? Lalu apa yang terjadi?"


"Kalau begitu terimakasih." Roy mematikan handphonenya tetapi sebelum itu dia mendengar umpatan dari Rama karena telah mengganggu malamnya dengan sang istri.


Roy menghabiskan puntung rokoknya, sambil menulis chat pada Kakaknya.


'Kak... aku akan menikah dengan Hana. Sampaikan pada Ibu dan Ayah. Aku menyerahkan semua pengaturannya pada kalian. Hanya saja secepatnya.'


'Jangan hubungi aku dulu. Aku baru akan tidur. Ini jam satu satu malam.'


Tulis Roy dalam chatnya.


Roy lalu mematikan handphonenya. Dia meletakkannya di atas meja untuk mengisi daya. Setelah itu, dia kembali naik ke atas tempat tidur.


Gerakan tempat tidur yang merangsek turun membuat Hana membuka matanya.


"Kau belum tidur?" tanya Hana. Tubuhnya tertutup oleh selimut hanya wajahnya saja yang nampak kelihatan, dia bagai di gumpalan awan putih.


Roy mulai masuk ke dalam selimut. Menyadari jika Hana tidak memakai sehelai benang pun di dalamnya membuat hasratnya kembali naik. Dia ingin melakukannya lagi tetapi tidak ingin memaksa wanita itu.


Roy menelan salivanya ketika Hana memeluk tubuhnya dan menengadah tersenyum dengan mata setengah terpejam.


Okey, dia ingin mengecup bibir merah itu lagi. Hanya satu kecupan. Roy yang tidak tahan lalu menarik dagu Hana dan mengecupnya. Tidak puas dia sedikit menggerakkan bibirnya. Bukannya menolak Hana malah membuka mulutnya.


Tangan pria itu menekan bagian belakang tubuh Hana untuk tambah merapat dengannya. Jika dia tadi menahan dirinya dalam bercinta Tidak kali ini, dia mengeksplor Hana hingga membuat wanita itu menjerit nikmat dan itu membuat rasa puas baginya. Dia membuat Hana kelelahan dengan gaya bercintanya.


Pagi harinya, Roy terbangun terlebih dahulu. Hana masih terlelap mungkin karena keletihan setelah semalaman dia habisi. Dia bangkit lalu ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah itu, dia pergi ke kamar Bagus.


Rupanya, jagoannya sudah bangun dan hendak pergi ke kamar mandi.


"Ayah sudah pulang?" tanyanya. Roy mendekat dan mengusap rambut Bagus.


"Semalam." Roy melihat ke tumpukan buku di atas nakas.

__ADS_1


"Bagaimana PR-nya. Apakah kau bisa mengerjakannya tanpa Ayah?"


"Sedikit tidak mengerti tapi ketika melihat video tentang bab itu aku tahu bagaimana mengerjakannya."


"Kenapa tidak hubungi Ayah saja jika tidak tahu?"


"Kata Ibu, jangan mengganggu pekerjaan Ayah."


"Kalian adalah hal terpenting Ayah jadi tidak akan pernah mengganggu."


Bagus tersenyum. Dia lalu memeluk Roy. "Aku senang Ayahku adalah Ayah. Bukan orang lain."


"Aku juga senang karena memiliki anak pintar dan hebat seperti dirimu. Jika besar kau pasti akan jadi lelaki yang tangguh."


"Aku ingin jadi hebat seperti Ayah."


Roy mengangguk tetapi dalam hatinya dia berharap Bagus tidak mengalami nasib buruk seperti dirinya dulu.


"Sudah siang, sekarang mandi sana!"


"Ibu mana, Yah? Biasanya Ibu yang membangunkanku."


"Dia masih tertidur, tadi malam Ibu menunggu Ayah hingga tidur hampir pagi," jawab Roy berbohong.


"Oh, biasanya walau tidak tidur ketika menjaga aku atau Ayu yang sakit, Ibu selalu membangunkan kami."


Roy terjebak dengan kebohongannya sendiri. "Kali ini ada Ayah. Jadi Ayah yang akan mengurus semuanya dan membiarkan ibumu istirahat."


"Dia pasti masih tertidur. Dia itu manja, semua harus ibu yang mengerjakan."


Roy tersenyum. "Dia adikmu." Lalu melangkah keluar, masuk ke dalam kamar Ayu.


Benar saja, Ayu masih terbaring di tempat tidur. Dia seperti Hana kecil jika sedang tidur.


"Ayu, bangun. Ini sudah siang. Kau harus bergegas ke sekolah."


Ayu yang mendengar suara Ayahnya langsung membuka mata. Dia langsung bangkit dan memeluk Roy.


"Ayah sudah pulang? Kapan? Kenapa tidak bangunkan Ayu. Ayu rindu pada Ayah," ucapnya manja dan ekspresif. Dia lalu duduk di pangkuan Roy.


Roy menyentil hidung Ayu. "Ayah hanya pergi tiga hari dan setiap hari kita video call masa kau sudah kangen pada Ayah."


"Ish, tidak ada Ayah tidak seru."


"Oh, ya! Bukankah ada kakakmu dan Ibu?"


"Kakak sibuk dengan pelajarannya sedangkan Ibu sibuk menonton sinetron dengan Mbak-mbak dibawah. Itu kan acara ibu-ibu masa aku harus ikut."


"Kenapa kau tidak belajar bersama kakakmu?"

__ADS_1


"Aku menyalin saja PR dari kakak," celetuk Ayu.


"Ck! Kenapa anak Ayah jadi begini."


"Aku maunya belajar dengan Ayah saja kalau dengan kakak dia mengomel terus." Ayu memang tidak sepintar dan se mandiri Bagus, jadi butuh kesabaran penuh ketika mengajarinya. Semenjak bersama Roy dua anak itu memang belajar bersamanya. Bahkan Roy rela membatalkan berbagai pertemuan jika anaknya ada tugas yang sulit dari sekolah. Baginya kini, keluarga adalah prioritas utama.


"Kau mandi dulu. Ayah akan membuatkan kalian sarapan."


"Wow! Ayah yang akan memasak."


"Humm."


"Ibu mana?"


"Dia masih tidur, jangan diganggu."


"Apa Ibu sakit?"


"Tidak hanya kelelahan, maksud Ayah Ibu hanya kurang tidur karena menunggu Ayah pulang semalam."


"Oh!"


Roy lalu pergi ke dapur, mulai menyiapkan sarapan sendiri. Setengah jam kemudian. Bagus sudah terlihat turun ke bawah.


"Dimana adikmu!''


"Dia sedang mencari dasi dan kaos kakinya," jawab Bagus.


"Ini apa Ayah, kelihatannya enak."


"Ayah akan ke atas dulu." Roy tidak menjawab pertanyaan Bagus langsung ke kamar Ayu.


Benar saja anak itu sedang meminta bantuan pelayan untuk mencari kaos kakinya.


"Tidak ada, Nona," jawab pelayan itu.


"Ih... masa tidak ada sih."


"Pakai saja yang lain, Ayu," kata Roy meminta pelayan keluar degan isyaratnya.


"Tidak mau, aku mau pakai kaos kaki baru yang Ayah belikan, itu ada gambar kuda Pony-nya dan temanku bilang jika itu bagus. Kalau hilang bagaimana?" Ayu mulai menangis. Roy menekuk satu kakinya lalu menyeka air mata Ayu.


"Wah putri Ayah jika menangis nanti jadi jelek."


"Kok jelek sih, Yah?" Bukannya terdiam Ayu malah menangis semakin keras.


Hana yang mendengar keributan lalu pergi ke kamar Ayu. Dia berdiri bersandar di pintu dan tersenyum melihat keakraban antara Ayah dan Anak.


Beruntung karena pria yang membuatnya hamil adalah Roy. Jika pria lain, bisa saja tidak akan bertanggungjawab seperti yang Roy lakukan. Atau bisa saja pria itu sudah menikah dengan wanita lain, lalu hidupnya dan si Kembar masih dalam kesengsaraan.

__ADS_1


"Hana kau sudah bangun, apakah kau tahu dimana kaos kaki baru Ayu?" tanya Roy yang melihat Hana berdiri di pintu.


__ADS_2