Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Masa Lalu Kelam


__ADS_3

Hana mulai membuka matanya. Melihat ke sekeliling ruangan itu. Dia mulai merasa asing. Sesuatu yang berat menindih nya di bagian perut. Rasa hangat dan harum yang dia rindukan selama ini ada di sebelahnya. Hana memiringkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Roy.


"Kau sudah bangun?" tanya Roy. Hana mengangguk dalam dada Roy. Tangannya bermain-main di sana menyentuh bulu lebat yang ada.


"Apakah ada yang kau rasakan? Sakit atau apa?" Roy menarik tubuhnya agar bisa melihat wajah Hana lebih jelas lagi. Hana menengadah menatap balik Roy.


"Aku kira kau sudah dapat wanita baru sehingga mengabaikan aku."


"Memang, ada wanita baru dalam rumah kita, penggantimu. Ayu dan Bagus bahkan sudah menerimanya sebagai ibunya."


"Apa maksudmu?" Wajah Hana nampak emosi sekaligus terkejut mendengarnya.h


"Ya, ada wanita lain yang masuk ke dalam hidup kita sekarang sekarang bahkan sedang tidur di ranjang milik kita."


"Kau jangan bercanda!"


"Aku tidak berbohong untuk masalah ini."

__ADS_1


Hana memukul Roy keras. "Kau jangan membuatku kecewa karena mempunyai simpanan. Aku baru saja pergi seminggu dan kau sudah dapat penggantiku. Apa selama ini aku juga sudah punya wanita lain di belakangku?"


Deya memeluk tubuh Hana erat. "Hanya kau yang ada di hatiku."


"Bohong! Aku lihat kau duduk bermesraan dengan wanita itu."


"Itu kulakukan karena ada alasannya yaitu untuk melindungimu."


"Memang ada masalah apa sehingga aku harus dilindungi. Mengapa mereka ingin membunuhku?"


"Itu yang sedang ku selidiki. Mereka memasukkan kembaranmu, Hani untuk menjadi dirimu. Untuk itu kau harus tetap bersembunyi dari semua orang. Sampai aku bisa membongkar kejahatan semua orang."


"Untuk itu aku ingin tahu motifnya."


Hana mulai menangis. "Apakah sebegitu bencinya dia hingga tega berbuat itu padaku?"


"Aku tidak tahu masalahmu dengan Hani tetapi ketika ada api besar pasti ada masalah yang menyulut untuk pertama kali. Maukah kau bercerita padaku tentang masalahmu dengan Hani agar aku punya sedikit gambaran?"

__ADS_1


"Entahlah, dari kecil Hani selalu iri dengan perhatian Ayah dan Ibu padaku. Padahal mereka melakukan itu karena aku sering sakit-sakitan. Hingga pada suatu hari aku yang sedang menyebrang jalan ditinggal begitu saja oleh Hani. Aku memanggilnya tetapi Hani tetap berjalan sedangkan aku di tengah jalan yang liput. Aku yang takut menyebrang hanya terdiam dan berteriak memanggil Hani hingga sebuah motor sport dengan kecepatan penuh hampir menabrak ku. Aku meringkuk tetapi Ayah tiba-tiba datang dan mendorongku menjauh dari tempat itu." Hana terdiam sejenak.


"Aku selamat tetapi tubuh Ayah terpental jauh. Aku shock saat itu tidak bisa mengatakan apapun. Ayah selamat saat itu tetapi harus dirawat selama sebulan hingga akhirnya Ayah menutup mata untuk selamanya dan semua orang menyalahkanku atas peristiwa itu."


"Aku bukan hanya kehilangan Ayah tetapi seluruh anggota keluarga. Mereka membenciku atas apa yang terjadi pada Ayah. Mereka mengatakan jika aku adalah anak sial keluarga ini. Hatiku sakit rasanya tapi... tidak ada yang peduli dan mendengar aku. Hanya si Mbok saja yang masih menyayangiku, hingga aku keluar rumah Si Mbok ikut keluar dari pekerjaan dan mengurusku serta anak-anak."


Roy mendekap Hana mengusap kepalanya penuh kasih sayang. Dia sangat mengerti rasanya di buang oleh keluarga. Jika Hana dikeluarkan dari rumah karena dibenci Roy diserahkan pada Ayahnya sebagai alat tukar balik kekayaan. Ayahnya memberikan uang untuk menutup kerugian keluarga ibu kandungnya dan sebagai ganti, dia ingin Roy hidup bersamanya.


"Kau adalah bintang keberuntunganku. Yang mengatakan kau adalah biang kesialan maka dia itu yang sial. Aku akan memberi pelajaran pada adikmu itu agar berpikir dua kali lipat sebelum melukaimu. Dulu mungkin kau sendiri tetapi kini ada aku, jadi tidak ada yang boleh menyakitimu sedikit saja karena aku akan membalas berkali-kali lipat," ucap Roy dingin dan penuh dendam.


"Jangan!" Hana menyentuh dada Roy. "Jangan pernah hidup dalam kemarahan. Itu malah akan menyakiti dirimu sendiri. Biarkan mereka berbuat jahat pada kita tetapi kita hanya mengingatkan bukan membalas."


"Kau itu terlalu baik untukku!" Roy mencubit hidung Hana dan memeluknya lagi. "Maaf. Pikiranku tidak sepertimu Hana."


"Aku senang kau sudah ada di sini dalam pelukanku. Mulai besok aku tidak akan pernah membiarkan kau keluar sendiri. Sangat berbahaya."


"Aku tadinya kesal karena kemanapun aku selalu dikawal oleh bodyguard. Sekarang aku tahu mengapa itu kau lakukan."

__ADS_1


"Kau hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu karena kau adalah hidupku."


"Hana kau belum bercerita dengan jelas apa yang terjadi denganmu tempo hari?"


__ADS_2