
Wajah Adry memerah. Dia memang menyayangi Raina, cinta sejujurnya dia tidak tahu apa itu cinta. Dia hanya paham satu hal, dia tidak ingin kehilangan dua orang wanita yang penting dari hidupnya. Jikapun disuruh memilih, dia tidak akan memilih keduanya bukan tidak cinta karena tidak ingin menyakiti salah satu diantara mereka.
Namun, hatinya selalu akan melemah jika melihat Raina menangis. Hatinya ikut merasa perih dan nyeri.
"Maaf jika perbuatanku menyakitimu. Namun, aku melakukan itu untuk membuktikan bahwa aku masih milikmu dan meyakinkan diriku jika kau masih milikku," ungkap Adry. Pria itu lalu menangkup kedua pipi Raina. Dahinya dan dahi Raina disatukan.
"Dengarkan aku, aku akan membawamu kepada orang tuaku. Namun, kau harus berjanji satu hal padaku jika kau tidak akan meninggalkan aku setelah ini dan jangan katakan perpisahan."
"Kau tidak berbohong kan?" tanya Raina penuh harap.
"Tidak." Tegas Adry. Dia lalu menghela nafas. Menatap mata Raina.
"Jalan ke depannya akan lebih sulit. Jika kau selalu menggunakan emosimu maka kau hanya akan membuat kerugian bagi dirimu sendiri. Namun, jika kau selalu percaya padaku kita akan lewati ini bersama."
"Lalu bagaimana dengan Nita?"
"Dia bisa kuatasi. Dia wanita yang baik dan sangat pengertian. Percayalah dia akan memahami ku," ujar Adry.
"Bagaimana jika tidak!"
"Percayalah padaku untuk kali ini saja," pinta Adry.
"Baiklah, aku percaya denganmu."
Sedangkan diluar pintu apartemen Nita berdiri dengan kaki lemas. Dia tidak menyangka Adry akan dengan tega meninggalkannya disaat dia tertidur.
"Tidak, Adry hanya milikku tidak ada yang boleh memilikinya selain aku," ucapnya dengan mengadu atas dan bawah. Matanya telah memerah dan berair. Dia lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa menyapa pemiliknya. Mengusap pipi yang mulai basah.
***
__ADS_1
Adry kembali lagi ke rumah Nita ketika menjelang pagi. Ternyata mempunyai dua istri itu tidak enak. Jika dia ketahuan bersama yang satu maka yang satu marah. Dengan malas Adry lalu berbaring di sisi Nita dan mulai tertidur pulas.
Baru saja dia tidur seseorang sedang mengoyak tubuhnya.
"Sayang, sudah siang, apakah kau tidak pergi bekerja?" tanya Nita tersenyum. Wanita itu sudah terlihat segar dan cantik. Seulas senyum terbit di bibirnya yang merah menantang.
"Akhirnya kau bangun juga," ucapnya. Tetes air dari rambutnya yang masih basah mengenai pipi Adry. Adry tidak mengatakan apa-apa hanya mengulas sebuah senyuman saja.
Bibir merah itu lalu mendekat ke bibir Adry mengulumnya lembut. Adry membalasnya walau dia merasa tidak bergairah. Dia tidak ingin mengecewakan Nita untuk kedua kalinya.
Tangan wanita itu lalu mulai menarik tali piyama Adry. Bibir itu mencumbu setiap inci kulit Adry, untuk menggoda dan membuat pria itu bergairah kembali padanya. Nita ingin tahu tentang satu hal, apakah dia masih terlihat menggairahkan atau dia sudah membosankan karena faktor usia.
Adry lalu membalikkan tubuh Nita dan mulai memimpin permainan. Berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan istrinya. Bayangan Raina mulai hadir tetapi dia tepis. Namun, hasrat gairahnya turun seketika.
Nita masih tersenyum dan menunggu Adry memasukkan senjata pamungkasnya namun pria itu hanya mencumbunya. Tangannya berusaha membuat adik Adry menegang. Hingga akhirnya mereka pun bersenggama.
"Raina...." gumam pria itu sembari menutup matanya. Adry hanya bisa bangkit gairahnya ketika membayangkan wajah Raina saja dan hal itu benar-benar melukai Nita yang sedang bersamanya.
"Nita maaf, aku tidak sengaja." Adry menarik rambutnya kebelakang.
"Kau bersamaku dan kau mengingat wanita yang lain? Apakah aku tidak cantik lagi hingga kau tidak menginginkanku lagi? Atau apakah aku sudah tua dan dia jauh lebih muda sehingga kau lebih suka membayangkan hubungan dengannya? Apakah hatimu sudah tidak ada aku lagi sehingga namanya yang kau sebut ketika sedang bersamaku!" teriak Nita kecewa.
"Bukan seperti itu, itu semua kulakukan tanpa sadar." Adry tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Nita.
"Tanpa sadar itu artinya dia yang ada dipikiranmu bukan aku, dia yang kau lihat buka. aku. Kau kejam Adry!" seru Nita histeris. Wanita itu lantas menangis keras.
"Semuanya karena wanita itu!"
"Raina tidak bersalah dalam hal ini!" jawab Adry.
__ADS_1
"Tidak bersalah? Aku bertanya padamu, umur Leon itu sepuluh tahun kurang jika dia adalah anakmu maka anak itu ada ketika kau dan aku berpisah? Benarkan?" Adry terkejut dengan fakta bahwa Nita tahu jika Leon adalah anaknya. Dari mana dia tahu apakah dia telah memeriksanya?
"Apakah wanita itu alasanmu meninggalkan aku dulu? Jawab aku Adry!" emosi Nita meledak kini sesuatu yang dia tahan sedari sebulan yang lalu akhirnya dia muntahkan.
"Bukankah kau tahu alasannya jika kau sendiri yang menyebabkan perpisahan kita?"
"Lalu bagaimana bisa Raina hamil anakmu?" lirih Nita dengan kepala yang miring. Menanti jawaban Adry.
"Aku tidak bisa menjawabnya."
"Tidak bisa menjawab." Nita bertepuk tangan, tertawa tapi matanya mengalir air mata dengan deras.
"Aku mengerti mengapa kau menerima Raina untuk jadi rahim pengganti anak kita nantinya. Aku tahu jika kenapa kau nampak bersemangat dengan pernikahan itu dan kau menikahinya secara sah bukan bawah tangan seperti perkiraanku. Kalian sudah bersandiwara secara apik. Aku jadi curiga apakah Dokter Ryan juga ikut dalam sandiwara ini?''
"Nita, jaga bicara mu semua tidak seperti yang kau kira!" sentak Adry.
"Ya, semua tidak seperti yang kukira. Kupikir kau mencintaiku dan tidak akan pernah mengkhianatiku nyatanya kau kembali lagi bersama kekasih lamamu dan menikamku dari belakang. Hatiku sakit!" teriak Nita memukul dadanya.
"Leon memang anakku, tetapi hubunganku dengan Raina tidak seperti yang kau pikirkan!"
"Yang kupikirkan? Okey, kau bisa menjelaskan semua foto ini!" ucap Nita mengambil sebuah amplop dalam laci nakas sebelah tempat tidur. Nita lalu mengeluarkan foto dari dalamnya dan menyebar ke atas sehingga foto-foto kebersamaan Raina dan Adry berserakan.
"Kau memataiku?'' tanya Adry.
"Aku tidak percaya padamu ketika kau pergi ke Jerman dengannya. Aku menyuruh orang untuk melihat apakah kau masih setia bersamaku atau tidak nyatanya kalian malah tinggal satu rumah selama aku tidak ada. Itu alasanku mengapa tidak menghubungi. Aku sakit dan terluka!" Mata Nita melebar dan memerah menatap Adry.
"Aku membiarkannya kenapa karena aku pikir kau hanya ingin punya keturunan. Aku hanya meminjamkan suamiku sebentar pada wanita lain, Okey, tidak apa-apa, ini adalah pengorbanan seorang wanita cacat seperti diriku!" Isak Nita.
Adry menutup matanya. Dia tidak tahan dengan keadaan ini. Seketika dia memeluk tubuh Nita erat. Tangis Nita semakin menderu.
__ADS_1
*othornya mau tambah dua bab lagi, kalian juga harus janji kasih like ya nanti... biar othornya semangat nulisnya.*