
Hari-hari dilalui Nita dengan rasa sakit yang selalu menerpanya dia mencoba membuat rasa itu sahabat yang tidak meninggalkannya, obat adalah teman yang selalu menemaninya setiap hari.
Seperti malam ini Nita mengerang kesakitan. Wajahnya memucat dengan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Dia terlihat meremas perutnya dengan begitu keras. Roy sangat cemas. Sudah beberapa hari dia melihat keadaan Nita seperti itu tetapi dia tidak bisa membujuknya pergi ke rumah sakit.
"Untuk apa? Pada akhirnya sakit itu hanya akan membunuhku perlahan karena tidak akan pernah ada obatnya, ini hanya menahannya dari rasa sakit yang berlebih.
"Kita bisa melakukan serangkaian pengobatan?" ungkap Roy memegang kedua tangan Nita dengan penuh pengharapan.
"Tidak, pengobatan itu hanya akan memperlama penderitaanku dan membuatku tambah terlihat buruk rupa dan lemah. Aku tidak mau. Biarlah ini seperti adanya. Aku sudah siap untuk dipanggil Yang Kuasa," lirih Nita menatap ke bawah. Dia sudah putus asa dan tidak punya semangat hidup.
"Nita...."
__ADS_1
"Berjuanglah, demi dirimu sendiri, selain itu juga aku membutuhkanmu," kata Roy menyemangati Nita. Nita tersenyum tipis dan menghela nafasnya.
"Tidak Roy, jangan mengasihani diriku."
"Kau tahu aku mencintaimu dari dulu."
"Kau hanya terobsesi padaku saja. Carilah wanita lain yang bisa membahagiakan dirimu. Aku tidak akan egois lagi," wanita itu membuang wajahnya ke arah lain tidak mudah mengatakan hal itu di saat dia merasa sangat membutuhkan Roy berada di sampingnya.
"Jika begitu ijinkan aku menemanimu hingga saat terakhir hidupmu," kata Roy. Nita menatapnya dengan ekspresi sulit untuk di mengerti. Matanya terlihat berkaca-kaca tetapi dia tidak mengatakan sesuatu.
"Bukan kau yang menentukan layak atau tidak layak, aku yang menginginkannya. Apakah penantian ku selama ini tidak berharga untukmu? Apakah kau tidak pernah melihat cintaku? Apakah hingga terakhir hidupmu tidak membiarkanku untuk dekat denganmu? Kenapa apa karena kau begitu membenciku atau aku yang masih tidak pantas untuk berada di sisimu? Ku mohon Nita untuk sekali ini saja jangan menyiksaku lagi dengan rasa ini," ungkap Roy.
__ADS_1
"Kau bodoh karena mencintaiku," ucap Nita seraya menyeka air mata yang lolos begitu saja ketika mendengar Roy berbicara. Dia merasa terharu, sedih dan bahagia. Dia merasa tidak sendiri.
"Katakan aku seperti itu tetapi hanya kau yang pernah dekat denganku sampai saat ini."
"Kumohon beri kesempatan padaku untuk terakhir kalinya," pinta Roy.
Nita lalu menghamburkan diri dalam pelukan Roy. "Kau tahu aku sangat takut jika mati dalam kesepian dan kesendirian. Tidak akan ada menemaniku hingga aku menemui ajal dan tidak akan ada yang merasa kehilangan diriku."
"Ada aku, kita akan lalui ini bersama." Roy mengusap rambut panjang Nita.
"Apakah kau tidak ingin melakukan pengobatan agar kau bisa sembuh total dan bisa hidup dengan normal lagi."
__ADS_1
"Tahukah kau jika ada 46600 kasus kanker servik dan 21 ribu lebih diantara meninggal di Indonesia. Satu lagi ada 5 orang setiap harinya yang meninggal akibat penyakit ini. Jika aku salah satu dari itu nantinya aku ingin melaluinya dengan bahagia sebelum hari itu tiba."
Roy membuka mulutnya tidak percaya dengan keinginan Nita. Wanita itu bukannya ingin berobat tetapi memilih mencari cara untuk bisa melewati hari akhirnya dengan bahagia. Seperti sudah siap untuk kematiannya sendiri.