
"Bu," sapa Raina ketika melihat ibu mertuanya di pesawat yang akan mereka tumpangi. Adry sendiri tidak menggubris keberadaan ibunya. Dia lebih fokus untuk mengurus anak-anak untuk bisa duduk nyaman dalam pesawat jet milik mereka.
Janeta terdiam hanya melengos ke samping enggan untuk menjawab sapaan Raina. Entah mengapa setiap melihat wanita itu hatinya selalu diliputi oleh kemarahan. Dari awal Raina datang dia selalu merebut Adry dari dirinya. Satu-satunya orang yang dia cintai dan mencintainya dengan sepenuh hati.
Sedangkan pernikahannya dengan Carl sendiri sudah hambar sejak lama. Semenjak Carl memilih membawa Roy ke rumah. Walau dia diam dan menyetujuinya dengan terpaksa tetapi Janeta selalu merasa sakit hati jika melihat Roy. Itu mengingatkannya akan pengkhianatan yang Carl lakukan di belakangnya selama ini. Tidak ada wanita yang terima jika diduakan apalagi menerima anak dari wanita yang telah menikamnya dari belakang.
"Sebaiknya kau duduk, Raina, pesawat akan segera lepas landas," perintah Carl lembut mencoba untuk mengusir ketegangan yang hampir saja terjadi.
"Kau mau duduk bersamaku atau anak-anak?" tanya Adry.
Raina menatap Rere yang sedang berbincang dengan Leon.
"Nampaknya, Rere sedang asik bersama kakaknya. Aku duduk bersamamu saja," kata Raina. Adry lalu mendahulukan istrinya untuk duduk baru dirinya. Pramugari lalu mulai maju ke depan dan mengatakan jika pesawat akan lepas landas. Mereka diharuskan memakai sabuk pengaman dan menerangkan sejumlah prosedur yang dilakukan dalam dalam penerbangan kali ini.
Mereka lalu melakukan penerbangan dengan tenang. Adry tetap tidak menyapa Janeta selama perjalanan walau mereka sempat transit di beberapa negara.
Setelah enam belas jam lamanya mereka menaiki pesawat akhirnya mereka sampai di Berlin dan langsung menuju ke kediaman Quantd.
Wajah Raina mulai menegang kala mulai melihat bangunan megah rumah keluarga Quandt dari jauh. Tangannya terus bergerak bergerak tidak tenang dan sesekali helaan nafasnya terdengar berat
Raina pikir dia tidak akan melangkahkan lagi kaki ke rumah ini. Manunduk, lalu mengangkat kepala dan menghirup dalam oksigen ke dadanya. Adry bisa turut merasakan apa yang ada dalam hati wanita itu. Dia meletakan tangan di atas tangan Raina dan meremasnya pelan. Raina menoleh dan tersenyum kaku.
"Semua akan baik-baik saja. Jika kau punya keluhan sekecil apapun katakan padaku. Aku bukan Tuhan yang bisa membaca situasi atau perasaanmu tanpa kau menjelaskannya." Raina mengatupkan bibirnya dan mengangguk.
"Jika Ibu menyakitimu dan kau merasa sudah keterlaluan, kita bisa keluar dari rumah ini dan kembali ke pulau kita."
Raina menelan air ludahnya mendengar kekhawatiran Adry. Bagaimana pun pria itu yang paling tidak ingin mereka kembali ke negara ini. Apalagi Leon, dia ingin kembali hidup di rumahnya yang dulu.
"Kita akan melewatinya bersama dan kita berjuang demi kebahagiaan keluarga kita. Aku juga ingin melihat kau bisa tersenyum bahagia bersama keluargamu bersama aku dan anak-anakku."
__ADS_1
"Raina, kau tidak perlu membuktikan diri, aku bahagia bisa hidup bersamamu di manapun kau berada."
Raina melepaskan genggaman tangan Adry dan meletakkan tangannya di pipi pria itu.
"Aku tahu itu dan kali ini aku pergi kemari dengan kepercayaan penuh darimu. Aku yakin bisa melalui semua ini bersamamu."
Mobil akhirnya berhenti di depan pintu utama mansion keluarga Quandt. Beberapa pelayan terlihat berbaris menyambut kedatangan mereka.
Kepala pelayan mendekat dan menutup mulutnya ketika melihat Nyonya Besar kesayangan mereka telah duduk di kursi roda dan dengan wajah yang menceng sebelah karena stroke.
"Ya, Tuhan Nyonya Janeta, apa yang terjadi? Mengapa bisa sampai terjadi seperti ini!" teriak kepala pelayan itu.
"Semua baik-baik saja Frans, kau hanya perlu membantu kami untuk membawa barangku, anak, menantu serta cucuku ke dalam kamar mereka masing-masing."
Frans melihat ke arah mobil satunya, di mana Adry keluar dari sana di ikuti oleh Leon dari pintu depan mobil, lalu Raina yang menggendong Rere dari pintu samping mobil.
Frans menutup mulutnya, matanya merebak dan dia langsung berlari cepat dengan gemulai ke arah Adry.
"Aku juga senang sekali melihatmu Frans. Apakah kau sudah menikah?" tanya Adry meledek Frans. Pria itu memang punya kelainan dalam hal tentang pasangan.
"Kami telah putus," Frans berbisik pada Adry.
"Carilah wanita dan buat anak dengan mereka."
"Tanpa wanita pun aku bisa punya anak Tuan."
"Tidak indah jika tidak benar-benar nyata. Kau lihat, aku datang dengan dua anakku dan istriku."
Pandangan Frans lalu beralih pada Raina. Dia teringat pertengkaran Janeta dan Raina. Senyumnya langsung pudar. Bukan karena membencinya tetapi takut ketenangan di keluarga ini akan kembali hadir. Namun, dia tahu jika Raina itu wanita yang baik.
__ADS_1
"Nyonya muda, maaf aku tidak menyapa."
"Tidak apa-apa." Raina tersenyum tulus. Rere yang baru membuka mata karena tertidur selama perjalanan dari Bandara mulai menatap ke sekitar. Dia menoleh ke kanan dan kiri melihat rumah asing yang besar seperti dalam cerita dongeng.
"Hallo, Sayang, kau heran ya. Ini rumah Kakek, Kak Leon dulunya tinggal di sini bersama Kakek," terang Adry.
"Uhmm cantik sekali. Siapa namanya Nyonya?" tanya Frans.
"Namanya Regina Federica," jawab Raina dia sudah bisa berbahasa Jerman sedikit-sedikit karena Adry sering menggunakannya ketika mereka bersama. Dia ingin Raina belajar bahasanya agar Raina bisa berhubungan dengan orang banyak nantinya.
"Nama yang indah."
"Kau bisa memanggilnya, Rere."
"Jangan dekati dia sekarang. Dia tidak senang didekati orang asing," peringat Adry. Frans mengangguk lalu memundurkan kakinya ke belakang.
"Saya akan bawakan barang-barang Nyonya," Frans menawarkan diri membawa barang yang dipegang oleh Adry.
"Kau ambil saja koper di bagasi," goda Adry yang tahu Frans tidak suka membawa barang berat tidak seperti ayahnya yang juga jadi kepala pelayan sebelum Frans.
"Itu sudah dibawa oleh pelayan lainnya. Biar tas ini saja, Tuan." Frans mengambil dua tas berisi perlengkapan Rere ditangan Adry dan tas selempang milik Raina di tubuhnya juga.
Adry tertawa. Dia lalu mengambil Rere dari tangan Raina dan memeluk bahu istrinya masuk ke dalam rumah.
"Ayo, kalian lama sekali!" ucap Carl di depan pintu.
"Maaf Ayah, Frans ini sangat merindukanku jadi banyak bicara," ujar Adry melirik pria gemulai itu.
Frans yang takut dengan Carl langsung menunduk, wajahnya pucat pasi. "Maaf Tuan Besar, aku hanya menyapa Tuan dan Nyonya Muda. Aku sangat antusias dengan kedatangan mereka."
__ADS_1
"Aku harap kedatangan mereka ke keluarga ini lagi akan membuat rumah ini ceria dan hidup kembali," lanjut Carl.