
"Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Roy ketika Adry menyuruh anak buahnya membawa Roy kembali.
Roy menyesap rokok sembari melihat ke atas langit. Mereka berada di sebuah kapal sewaan Adry karena tidak ingin ada yang melihat mereka bertemu. Itu permintaan Roy jika Adry ingin menemuinya.
"Raina hamil." Roy menatap ke arah Adry.
"Kau tidak terkejut?" tanya Adry.
"Sudah pantas jika dia hamil. Kalian sering bersama kan?" balik Roy tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia menyesap rokoknya kembali. Adry mengamati semua yang ada pada diri Roy.
"Oh, jangan bilang... yea aku sepertinya tahu." Roy tersenyum mengejek sembari menggelengkan kepalanya. Lalu, membuang rokok dan menginjaknya.
__ADS_1
"Kau memanggilku kemari hanya untuk mengatakan ini? Bodoh!" umpat Roy.
Adry menaikkan satu kalinya ke atas baru kali ini adik sekaligus mantan bawahannya berani mengatainya bodoh.
"Sudah jangan ganggu aku lagi dengan permasalahan kalian. Aku ingin hidup tenang." Roy lalu pergi ke bawah tetapi baru beberapa langkah menuruni tangga dia berbalik.
"Terkadang apa yang kau lihat belum tentu semuanya benar dan satu lagi aku memberi saran padamu. Jika kau ingin kembali bersama Raina lindungi dia dengan segenap hatimu jangan setengah-setengah. Jika tidak, kau tidak akan pernah lagi melihatnya selamanya. Saranku jauhi saja Raina untuk kebaikan semuanya."
Pertemuan Adry dan Roy terjadi setelah Adry tahu Raina sedang hamil. Dia ingin kepastian. Roy tidak menjawabnya tetapi ekspresinya telah menjawab semuanya. Hal yang membuat Adry masih kesal adalah semua orang terdiam menutupi semua kejadian itu.
Okey, mengapa hanya dia yang tidak tahu ada konspirasi besar dibelakangnya. Mengapa dia merasa dibodohi oleh semua orang? Atau dia terlalu bodoh untuk mengetahui semuanya? Bukan seperti itu. Dia hanya tidak percaya jika Raina menjadi korban dari dua orang yang dia sayangi. Dia tidak mungkin melukai hati ibunya dan Nita. Bagaimanapun mereka orang yang selama ini mendukung hidupnya.
__ADS_1
Raina, dia mencarinya menunggu wanita itu untuk jujur dan mencoba mempercayainya. Sakit ketika dia datang untuk menolong istrinya ternyata wanita itu telah pergi bersama orang lain. Tidak mempercayainya sama sekali dan lebih memilih untuk memberikan semua kepercayaannya pada pria yang tidak punya hubungan apapun dengan Raina. Di tambah lagi dengan semua bukti yang Nita buat membuat kepercayaan pada Raina pudar. Bukan soal penusukan pada ibunya tetapi soal hati dan perasaannya. Dia merasa tidak berarti bagi wanita itu dan rasa cemburu membutakan matanya.
Adry mencoba untuk merangkai masa depannya lagi dengan Nita dan Leon. Namun, terasa hambar. Dia tidak pernah melihat Leon menangis di depan semua orang tetapi dia melihat titik air mata di pelupuk mata anak itu ketika tidur. Menemukan foto Raina di bawah tumpukan bantalnya.
Bahkan anaknya sendiri juga tertutup padanya. Apa salahnya? Apakah dia telah mengecewakan Raina dan Leon sehingga mereka membenci dalam diam. Pikiran itu membuatnya tidak tenang.
Apalagi jika mengingat Raina, bagaimana keadaannya? Siapa yang ada di sisinya dan membantu hidupnya. Pertanyaan itu terus bergulir hingga dia tidak melihat adanya dana keluar dari kartu yang dia berikan pada wanita dulu. Pikiran Adry tidak tenang hingga dia mencari detektif untuk mencari Raina. Di satu sisi dia tidak ingin mengganggu hidupnya yang tenang jika mereka bertemu lagi. Di sisi lain dia tidak yakin Raina hidup baik-baik saja tanpanya.
Kini Rainanya berada dalam dekapannya. Bersamanya, entah sampai kapan badai bisa dia tahan yang pasti dia akan berusaha hingga Raina bisa melahirkan dengan tenang.
Sewaktu di villa Adry tahu jika ibunya telah mulai mematai mereka, untuk itu dia meminta Raina pindah ke penthouse ini. Dia membeli satu lantai penuh untuknya dan Raina. Selain itu keamanan tetap terjaga karena untuk naik ke lantai ini harus dengan persetujuan pemiliknya. Setidaknya, Adry bisa meminimalisir kejadian buruk.
__ADS_1
Adry membalikkan tubuh Raina dengan pelan sehingga wanita berada di depannya. Wajahnya terlihat sembab dengan mata yang memerah.
"Tidakkah kau lelah menangis sendirian padahal aku ada di sisimu untuk berbagi suka denganku?"