Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Jujur


__ADS_3

"Tidakkah kau lelah menangis sendirian padahal aku ada di sisimu untuk berbagi suka denganku?"


"Aku lelah berharap padamu," ungkap Raina.


"Mengapa?"


"Berkali-kali kau telah mengecewakan aku dan membuat luka di hati." Raina mendesah. Jari tangannya memainkan kancing di piyama Adry.


"Dan kau tidak mempercayaiku?" tanya Adry. Raina mendongak dan menatap Adry lekat.


"Haruskah aku percaya pada orang yang telah mengkhianati?" cecar Raina. Adry mengernyitkan lehernya.


"Kapan aku mengkhianati mu?"


"Sewaktu kejadian itu," kata Raina. "Ibumu mengatakan jika kau ingin membawa Leon pergi bersama dengan Nita ke negara asal kalian dan kau telah menandatangani surat perceraian itu." Raina mengatakannya dengan sangat hati-hati menatap ekspresi terkejut dari Adry.


"Surat cerai? Aku tidak pernah menandatanganinya," ungkap Adry menatap Raina.


"Sial! Bagaimana surat cerai itu ada?"


"Aku tidak tahu, Roy yang membawanya. Itu sudah ditandatangani oleh mu," tekan Raina.


"Okey. Roy yang membawanya tetapi aku selalu membaca dulu kertas yang akan kutandatangani jadi tidak mungkin aku melakukannya kecuali... itu bukan tanda tangan asliku." Kini giliran Raina yang terkejut. Dia memang sering menemani Adry lembur dan pria itu memang selalu memeriksa dan meneliti terlebih dahulu sebelum menandatangani suatu berkas

__ADS_1


Dia terdiam sejenak untuk berpikir. "Orang yang kuutus untuk menyelidiki masalah ini mengatakan jika ada darahmu di pisau itu bercampur dengan darah ibu. Apakah tadinya ibu ingin melukaimu? Aku tahu jika Nita ikut pada konspirasi ini hanya saja aku tidak tahu jalan ceritanya akan seperti ini. Aku kesal padamu karena kau pergi begitu saja tidak memberiku kesempatan untuk menyelidiki kasus ini terlebih dahulu."


"Ibumu mengatakan hal-hal yang membuat emosiku naik, aku menamparnya karena tidak tahan dia menghina orang tuaku. Lalu dia menelfon Nita dan mengatakan jika kalian mau pergi, kami bertengkar tiba-tiba dia menghunuskan pisau ke arahku. Aku memegang ujung mata pisau itu tetapi aku tidak tahu jika ada mata pisau lain yang mengenai ibumu. Begitu cepat kejadiannya dan ku... aku... begitu shock. Kau datang dan membawa ibumu pergi," tutur Raina dengan wajah ngeri bila mengingat kejadian itu.


"Aku terpukul, hingga tidak bisa mengatakan apapun dan polisi itu mereka semua memaksaku untuk mengakui kejadian itu. Kejadian yang tidak kulakukan. Lalu, Roy mengatakan jika ingin aku dan kandunganku selamat, aku harus pergi jauh dari kalian semua."


"Roy tahu kau hamil? Tetapi kau menyembunyikan kehamilan dariku?" Adry mulai nampak emosi. Namun, ketika melihat Raina ketakutan. Adry memejamkan mata dan menghela nafasnya. Dia harus membuat tenang Raina bukannya memancing pertengkaran kembali.


"Aku belum percaya padamu sepenuhnya karena Nita masih berada di sisimu. Kau puas!'' seru Raina mendorong tubuh Adry ke belakang.


"Di sini memang aku yang salah, aku mengakuinya hingga kau tidak mempercayaiku sama sekali." Hati Adry merasa perih ketika mengatakannya. Istri yang dia cintai pun sudah tidak percaya padanya dari awal. Dia mengusap lembut rambut Raina.


"Lanjutkan ceritamu," kata Adry.


"Untuk pergi meninggalkan aku?" Adry tersenyum sinis dan membawa kepala Raina dalam dekapannya. Mereka terdiam sejenak.


"Dari awal aku percaya kau tidak seratus persen bersalah hanya saja aku tidak habis pikir mengapa kau tega melukai ibu? Di saat itu aku datang untuk menanyaimu namun kau sedang diinterogasi oleh polisi jadi aku memutuskan kembali ke rumah sakit melihat keadaan Ibu. Ketika Ibu telah dinyatakan selamat dan tidak ada luka yang cukup serius, aku kembali untuk menemuimu dan kau malah sudah pergi bersama Roy."


"Pikiranku kalut kala itu," ujar Raina.


"Namun setelah aku bertemu lagi denganmu, kau masih belum mau berterus terang?" cecar Adry.


"Untuk apa? Kau saja tidak percaya jika ini adalah anakmu apalagi masalah penusukan itu," Mata Raina berair lagi lalu memukul dada Adry. "Kau kejam bisa-bisanya mengatakan hal itu padaku. Kau pikir aku wanita murahan yang akan tergoda dengan pria lain. Sedangkan sepuluh tahun hidup tanpamu pun aku masih tetap sendiri tidak pernah tersentuh pria manapun."

__ADS_1


"Sungguh saat itu aku ingin mati saja rasanya. Tuduhan itu terlalu menyakitkan untukku, lebih menyakitkan daripada ketika semua orang mengatakan aku sebagai pelaku penusukan itu."


"Maaf ku kira aku sudah mengucapkannya beribuan kali tetapi aku yakin itu tidak bisa menyembuhkan luka dihatimu. Jika bisa aku ingin kembali ke masa itu dan memperbaiki semuanya," ucap Adry.


"Aku tidak akan memaafkanmu," Raina lalu menangis keras dan Adry kembali memeluk erat Raina.


"Menangislah dalam pelukanku dan ceritakan semua yang kau rasakan. Aku akan mendengarkan apapun yang kau katakan mulai sekarang. Kau boleh tidak memaafkan aku dan meminta pergi dariku tetapi ingatlah jika aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi lagi dariku. Aku sangat mencintaimu, Raina."


"Jika kau mencintaiku mengapa kau malah hidup bersama Nita? Tidak bisakah hanya ada kita? Lalu setelah aku pergi kau terlihat hidup bahagia dengannya seolah aku hanya beban bagimu!"


"Kami memang tinggal satu rumah tetapi aku selalu tidur dengan Leon. Aku tidak tahan hidup tanpamu tetapi aku tidak mau menyeret Leon dalam masalah ini. Jika aku berbuat buruk pada Nita apakah keadaan Leon akan baik-baik saja. Sedangkan Ibu sangat mendukungnya. Kau sudah tahu sifat Ibu, jika dia akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai. Aku lebih takut Leon tinggal bersamanya tanpa pengawasan dariku. Hal itu bisa membuat Leon tertekan."


"Kenapa kau malah diam saja jika kau sudah tahu sebagian kebenarannya."


"Ada banyak pertimbangan. Aku tidak bisa gegabah dalam bertindak. Jika itu orang lain aku bisa melawannya jika Ibu... bagaimanapun buruknya dia, dia tetap seorang Ibu yang harus kusayangi dan kucintai."


"Lalu Nita?"


"Dulu kami sempat berpisah dan dia melakukan usaha bunuh diri dengan meminum obat tidur satu botol. Semenjak itu aku tidak pernah tega untuk melukainya. Aku takut terjadi hal buruk padanya lagi."


''Hanya karena itu? Bukan karena kau sangat mencintainya, sehingga lebih memilih dirinya dibanding dengan ku." Adry tersenyum tipis melihat sikap Raina yang mulai posesif. Bagaimanapun sifat wanita adalah ingin memiliki secara utuh jika dia telah mencintai sesuatu.


"Okey, aku dulu memang mencintainya. Bagiku Nita adalah orang terpenting yang telah menemaniku dari dulu. Namun, ketika kau hadir ada rasa berbeda yang tidak pernah bisa kurasakan pada diri Nita. Entah apa itu tetapi aku menyebutnya cinta. Kau mengganti posisinya tetapi aku tidak bisa membuangnya begitu saja setelah kau datang. Itu tidak adil untuknya. Apakah kau percaya atau tidak aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah membuktikan padamu jika hatiku ini hanya milikmu.'' Adry menghapus jejak air mata di pipi Raina dengan jarinya.

__ADS_1


"Bukankah aku dulu sempat memutuskan untuk hidup denganmu? Apakah kau melupakannya? Saat itu aku melepaskan Nita, aku pikir dia bisa belajar melalui hari-harinya tanpa diriku setelah itu dia bisa meminta cerai. Akan tetapi, takdir mempermainkan dan memisahkan kita lagi."


__ADS_2