
Roy pikir wanita itu akan datang dengan memakai bikini merah serta highless tingginya. Ternyata wanita itu memakai sundress berwarna putih dengan bunga-bunga kecil dan sandal yang sederhana.
Lipstik merahnya di bibirnya yang sensual adalah tambahannya. Dia tidak memakai riasan berlebih bahkan sepertinya tidak memakai bedak samasekali.
Roy tidak tahu mengapa Adry menyuruhnya untuk membuat wanita itu jatuh cinta. Namun, itu malah membuat dirinya jadi memperhatikan wanita itu terus menerus.
Bisa saja Adry menginterogasinya langsung tetapi tidak, dia malah ingin agar adiknya itu masuk dalam permainan ini. Roy menyetujui usulan Adry dan mencoba menikmati perannya ini yang hanya berlangsung tiga hari lagi.
Raina menyambut wanita itu dengan senyum lebarnya. Mereka mulai berbicara khas pembicaraan basa basi wanita.
Adry yang sedang membantu Roy memanggang daging bergerak mendekati para wanita itu. Entah apa yang mereka bicarakan.
Angin berembus mengenai asap dari alat pemanggangan dan menerpa wajah Roy. Roy mengibasnya dan membalikkan daging di sana. Seharusnya Raina bisa saja menyuruh koki tempat ini untuk melakukannya tetapi wanita itu lebih menyukai jika anggota keluarga yang menyiapkan makanan untuk semuanya.
Karina menyapukan pandangannya pada Roy seperti yang Roy lakukan padanya tadi. Pria itu memakai kemeja satin dan celana kain.
Tidak terlalu formal tetapi tidak bisakah dia memakai baju sedikit santai? Itu terlalu berlebihan untuk makan siang barbekyu. Tatapan kedua insan itu bertemu dan saling menganggukkan kepalanya.
Sebuah tangan menepuk bahu Roy, menyentaknya dari pikiran tentang Karina Larasati. "Kau tidak memberitahuku kau mengundang wanita cantik ke makan siang kita."
Roy memandang ke arah Jonathan. "Semua tamuku cantik," ujarnya.
"Dia muda, aku rasa terlalu muda untukmu. Dia lebih cocok untukku," ujar Jonathan. Dia membatalkan rencana pernikahannya beberapa tahun silam. Lalu mengumumkan menjadi bujangan paling seksi dan menarik di tahun ini.
Mendengar kata-kata Jonathan membuat bola mata Roy memutar malas. Sifat Playboy nya akan kambuh jika bertemu dengan wanita cantik. Entah, siapa yang akan bisa menaklukkannya.
Roy mendengar desisan daging dari alat panggangnya berharap semoga daging itu tidak gosong. Jika iya maka dia akan segera membuangnya takut jika Raina mengetahui hal itu dan memarahinya habis-habisan. Untung saja hal itu tidak terjadi dan dia bisa bernafas lega.
"Astaga, Jonathan Hartono," seru Karina. Dia lalu berjalan mendekat ke arah dua pria tampan yang ada di dekat pemanggangan dalam waktu singkat. Matanya yang bersinar tidak terarah pada Roy tetapi pada Jonathan.
"Dan kau adalah calon istriku," balas Jonathan.
Pipi Karina merona merah karena tersipu. Senyumannya bersinar dari yang pernah Roy lihat. Mata cokelat Roy membesar karena kecemburuan sesuatu yang dia rasa sangat mustahil dilakukan setelah rasa itu terpendam selama 12 tahun lebih. Setelah Nita bersama Adry dia sudah tidak pernah merasa cemburu lagi. Hatinya sudah mati rasa walau dia tetap mencintai wanita itu.
"Apakah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?"
"Aku pernah bertemu denganmu di salah satu pembukaan hotelnya di Thailand. Artis kami menjadi bintang tamunya. Mungkin kau lupa telah bertemu denganku," kata Karina antusias.
__ADS_1
"Aku terlalu kejam untuk melupakan wanita secantik dirimu ini. Kalau begitu mari kita berkenalan. Namaku Jonathan, kau bisa memanggilku 'Jo' saja seperti kawan-kawanku ini." Pria itu mengulurkan tangannya.
"Namaku, Karina Larasati, kau bisa memanggilku Karina," kata wanita itu menerima uluran tangan Jonathan.
"Apakah kau datang sendiri ke sini?" tanya Jonatan tanpa melepaskan pegangan tangannya hal itu menjadi fokus Roy.
"Dia datang bersama dengan Mitch, aktor dari film Xxx yang terkenal itu," sela Roy sebelum Karina menjawabnya.
"Wow, apakah kau punya hubungan spesial dengannya?" tanya Jonathan.
"Kami dekat," jawab Karina. Dekat dalam arti di negara luar bisa bermacam-macam.
"Aku harap kau bukan kekasihnya," lanjut Jonathan dengan mimik genit.
Letupan terdengar dari alat pemangang membuat Roy mendorong keras Jonatan dari sana. Dia langsung menarik daging itu dari alat pemanggangan untuk menyelamatkan makan siang mereka.
"Apakah kau juga ahli dalam masak memasak?" kata Karina di dekat Roy.
Roy mengambil satu piring besar dan menata daging itu dalam piring.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Roy menatap Karina.
"Kau nampak tidak kaku dengan alat-alat itu, hanya saja kau akan terlihat lebih santai dengan kaos dan celana pendek. Aku ingin melihatnya."
"Sepertinya dia tahu apa yang ada dihatimu, Roy?"
"Memang apa yang ada dalam hatiku?" kata Roy meletakkan serbet.
"Sebuah ketertarikan. Jika kau tidak mau mengakuinya, aku akan mengejarnya."
Roy berlalu saja meninggalkan Jonathan dan ocehannya bergabung bersama dengan keluarga kecil Adry.
Mereka lalu makan siang bersama dalam canda tawa. Seperti sebuah keluarga besar. Roy tidak mengatakan apapun jika tidak ditanya sedangkan Jonathan lebih banyak mengatakan rayuan pada Karina.
Setelah makan itu, Raina lalu mengajak Karina berdiri di salah satu sudut belakang rumahnya. Karina melihat sebuah rumah yang terpisah dari bangunan lainnya. Depan rumah itu adalah sebuah pantai pasir putih. Membayangkan Roy suka berenang disana dengan pakaian formalnya.
"Itu kediaman milik Roy. Dia memang suka dengan kesendirian dan sedikit tertutup orangnya."
Karina menatap ke arah Raina.
__ADS_1
"Suamiku dan Roy berusaha keras mewujudkan pulau impian ini. Sebenarnya ini adalah pulau impianku tetapi suamiku terobsesi mewujudkan apa yang aku inginkan dan Roy selalu membantunya."
"Jika Adry seminggu sekali meliburkan diri bersama kami. Roy sendiri lebih suka bekerja keras tidak mengenal waktu."
"Apakah dia pernah beristirahat?" tanya Karina. Dia pernah melihat tengah malam Roy masih sibuk mengurus pulau ini.
"Istirahatnya ya ini, ketika berkumpul bersama kami. Memasak tidak mengandalkan koki."
"Dia mengatakan jika kau yang menyiapkan semua ini," kata Karina.
"Dia hanya memanggang," Raina tersenyum kecil, Karina mengikutinya.
"Wah, apa yang kalian bicarakan sepertinya seru," sela Jonathan mendekati dua wanita itu.
"Aku hanya membicarakan keahlian memasak Roy," ujar Raina menahan tawanya. Jonathan terdiam berpikir sejenak lalu ikut tertawa.
"Apakah kau pandai memasak Karina?"
"Terakhir kali aku ke dapur aku membuat microwave meledak." Raina membuka mulutnya lebar.
"Separah itu?" Raina menggelengkan kepalanya. Karina meringis.
Tangan Jonathan kini berada di bahu Karina. "Tenang saja istriku tidak harus berada di dapur."
Roy yang baru saja bergabung mendengar pembicaraan itu.
"Dia hanya harus membuatkan anak-anak yang banyak untukku," lanjut Jonathan.
"Apakah kau suka dengan anak-anak? Setahuku kau tidak terlalu menyukai mereka. Katamu mereka hanya membuat kekacauan."
"Oh, ada apa dengan pembicaraan soal anak dan kekacauan ini." Adry yang sedang menggendong Karina ikut dalam pembicaraan ini.
"Jonathan sedang merayu Karina untuk menjadi istrinya," terang Raina.
"Apa dia menyebutmu sebagai calon istrinya?" tanya Adry lagi.
Karina mengangguk.
"Kau harus mengganti rayuanmu lagi, Jo," lanjut Adry membuat Jonathan meringis dan menggaruk tengkuk belakangnya. Kartunya sekarang di buka oleh sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Roy lebih memilih mengambil Regina dari tangan Adry dan berjalan menjauh untuk bersama dengan anak itu, mereka lalu bermain di kebun belakang rumah. Karina memperhatikannya.
"Roy memang pria yang terlihat dingin tetapi dia pria yang hangat hatinya." Raina menepuk bahu Karina dan berbicara apa yang ada dalam pikiran Karina.