
Hana masuk ke restoran dengan dada berdebar. Seorang pelayan mengarahkannya ke sebuah ruang VIP. Roy langsung berdiri menyambut kedatangannya.
"Akhirnya kau datang juga. Temani aku ya, menemui relasi bisnis."
Hana memegang dadanya.
"Aku... apakah tidak apa-apa. Aku takut jika mempermalukanmu," ujar Hana.
"Tidak. Cukup duduk di sisiku saja," ungkap Roy menarik tangan Hana mendekat. Lalu menarik sebuah kursi mempersilahkan Hana untuk duduk.
"Hana, aku punya suatu hadiah untukmu."
Roy mengambil kotak wadah perhiasan dengan kain beludru berwarna biru tua.
"Apa lagi ini?" tanya Hana menghela nafas tidak senang.
"Aku punya ini, sudah kusimpan lama. Bukan milik Karina. Aku pernah membeli ini dulu sekali ketika masih sendiri, maksudku ketika aku belum menikah dengan siapapun. Aku akan memberikannya untuk ibu dari anakku kelak." Roy menghela nafas. Dia memang ingin memberikan ini untuk ibu dari calon anaknya hanya saja waktu itu Nita malah memilih menggugurkan kandungan anaknya.
"Karina belum jadi ibu, jadi hanya kau yang berhak mendapatkannya. Hanya kau, karena kau adalah ibu dari anak-anakku. Ini hadiah karena kau mau mengandungnya, melahirkannya dengan penuh pengorbanan, lalu membesarkan mereka dengan kasih sayang dan semua itu pasti tidak mudah untuk kau jalani selama ini. Jadi ini belum apa-apa nya dengan apa yang telah kau lakukan."
"Ku mohon terimalah!" lanjut Roy penuh harap. Ada nada yang tulus dari suaranya sehingga menyentuh relung hati Hana.
__ADS_1
"Apa ini sebuah sogokan atau rayuan agar aku terlena?" ucap Hana menyeka air matanya. Setelah beberapa tahun ini baru ada yang memberi perhatian lagi padanya dengan tulus. Sesuatu yang Hana rindukan semenjak ayahnya meninggal dunia.
"Anggap saja begitu tetapi lebih tepatnya ini sebuah hadiah dari seorang ayah untuk ibu dari anaknya."
"Haruskah aku menerimanya?"
"Jika kau mengakuiku sebagai ayahnya anak berarti kau harus menerimanya."
"Boleh aku membukanya. Kalau jelek aku tidak mau! Hamil, melahirkan dan membesarkan anak itu sulit," gurau Hana sambil tertawa kecil.
"Bukalah," ucap Roy mengambil sapu tangannya dan menyeka air mata Hana dengan itu.
"Kau itu cengeng sekali!"
"Berliannya kecil karena waktu itu aku belum punya banyak uang. Aku harus menguras isi tabunganku, untuk bisa membelinya."
"Bukan soal harganya, tetapi soal nilai pengorbanan mu," ujar Hana menatap Roy langsung untuk sejenak. "Tapi ini sudah sangat indah."
Hana tidak bohong mengatakannya karena bola matanya nampak bersinar terang tanda jika dia menyukainya. Berbeda ketika Ibu memberikan giwang bernilai milyaran. Hana nampak tidak senang menerimanya.
"Pakai sekarang ya," pinta Roy. "Biar aku bantu memakaikannya."
__ADS_1
Pertamanya, Roy mengambil sepasang anting dan memasangnya di telinga Hana. Ketika kulit pria itu mengenai kulitnya, sebuah bayangan Roy yang menyentuhnya kembali membuat dia takut. Tapi dia menahan nafas dan membayangkan sesuatu.
"Dia tidak akan menyakitimu Hana, dia mencintaimu," perkataan Rama kembali terngiang di telinga Hana. "Dia tidak akan menyakitimu."
Hana menarik nafas panjang dan keras. Roy menarik tubuhnya setelah selesai menyematkan kedua anting di telinga Hana.
"Kau kenapa?" Roy khawatir dengan wajah Hana yang memucat dan keringat dingin membasahi kening.
Hana membuka matanya. Dia tertawa. Nafasnya terlihat seperti orang yang baru berlari cepat.
"Aku kira akan menjerit ketakutan, nyatanya, aku bisa melaluinya. Dokter itu memang hebat."
*Aku sama takutnya melihat ekspresimu tadi," Roy menarik tangan Hana dan menyematkan gelang disana. Hana melihat gelang emas dengan berlian putih di tengahnya.
Lalu, Roy meminta Hana memutar tubuhnya agar dia bisa menyematkan kalung di lehernya. Tangan Roy menyentuh kulit Hana yang lembut dan halus membuat dia menahan nafas. Ingin dia mencium nya dan menghirup keharuman dari kulit itu. Namun, dia tahan, hanya mengaitkan kedua rantai jadi satu. Berharap hatinya dan Hana juga saling berkaitan satu sama lainnya seperti kait kalung ini.
Roy mencuri cium rambut Hana sebentar.
Liontin berbentuk hati dengan berlian ditengahnya tersemat pas di cekungan lekuk leher Hana. Wanita itu mengambilnya dan menatap liontin itu.
"Kini hatiku ada dekat di dadamu," ujar Roy meminum jus buah dingin di depannya.
__ADS_1
"Gombal!" ungkap Hana. Namun, dia tersenyum senang.
"Hana?" sebuah suara membuat kepala Hana terangkat. Matanya membelalak lebar menatap seseorang yang ada di depannya.