Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Wanita Kalangan Bawah


__ADS_3

Raina terbangun dan tidak menemukan Adry di tempat tidur. Dia bergerak ke nakas untuk melihat jam. Pukul delapan. Semenjak di sini dia malas untuk bangun pagi karena bangun pun dia tidak boleh mengerjakan apapun.


Mudah bagi mereka untuk kembali kebiasaan lama. Tinggal satu kamar dan bermesraan. Di saat kebersamaan mereka itu, ingin rasanya Raina mengatakan pada Adry jika dia tidak menusuk ibunya. Namun, kembali lagi ke pertanyaan semula apakah pria itu akan mempercayainya? Pikiran itu membuatnya menelan kembali keinginan untuk berkata jujur.


Hari ini, Adry berkata ingin mengunjungi temannya yang sedang membutuhkan bantuan dalam soal bisnis. Semalam dia meminta ijin, tetapi Raina tidak tahu jika dia akan pergi pagi hari.


Raina lalu bangkit dan berjalan menuju ke ruang makan. Di meja makan ada tudung saji yang tertutup rapat. Dia membukanya dan melihat ada nasi uduk yang dia inginkan dan dua pasang kaos kaki bayi yang berwarna biru dan pink.


Mata Raina merebak dan memeluk kaos kaki itu. Di bawah kaos kaki bertuliskan, "Katamu kau tidak mempunyai perlengkapan bayi, jadi aku memulainya dengan kaos kaki ini. Semoga kau menyukainya."


Adry memang pria yang manis sering sekali memberi kejutan untuknya.


Hari berikutnya pun terjadi hal yang sama. Adry sudah pergi terlebih dahulu. Pria itu tidak mengatakan detail pekerjaan yang dia lakukan namun pria itu pulang sebelum pukul tiga sore. Dia juga memesan satu orang perawat untuk menemani, mengecek kesehatan Raina dan mengawasi jika pria itu tidak ada di rumah.


Kali ini Adry memberikan hadiah dua pasangan baju bayi yang mereka pilih tempo hari. Satu bergambar robot dan satu sangat girly, pilihan Raina kala itu.


Hari berikutnya dia memberikan beberapa selimut dan kain bayi, katanya dalam surat untuk persiapan menjelang kelahiran. Pria itu juga memberi seikat bunga mawar merah kesukaan Raina yang segar dan harum.


Hadiah itu terus diberikan Adry hingga hari ketujuh. Pria itu membawanya ke sebuah rumah dengan mengikat matanya ketika membawanya kesana.


Adry membawanya masuk ke dalam sebuah kamar bayi dan membuka matanya. Raina takjub dan terpaku melihat sebuah kamar berwarna merah muda. Dia berjalan mendekati box bayi, menyentuhnya dan tersenyum sendiri. Lalu melihat tatanan ruangan ini yang seperti ditujukan untuk bayi perempuan.


Ada juga kursi yang bergoyang di dekat jendela. Raina mencobanya dan terdengar suara berderit. Dia menatap kereta dorong yang berada di pojok ruangan. Kereta mahal yang urung dia beli kini sudah ada di sana. Raina terdiam melihat ke sekeliling.


"Kenapa kau tidak suka?"


"Aku terkejut dan ini kamar anak perempuan," kata Raina.


"Jika yang lahir anak laki-laki kita bisa mengganti cat dan perlengkapannya. Mudah kan? Ini hanya sebuah feeling jika anak dalam perutmu adalah anak perempuan."

__ADS_1


Raina mendekati Adry dan mengecup bibir pria itu. "Terimakasih. Namun, ini rumah siapa? Kenapa kau mengatakan sepertinya ini rumah kita."


"Ini rumahmu," kata Adry membawa Raina keluar kamar.


Rumah ini seperti dia kenal, tetapi dia tidak pernah masuk ke dalam rumah sebagus ini. Walau tidak terlalu luas namun terlihat asri dan nyaman. Rumah ini pun dikelilingi oleh tembok dan pagar yang tinggi.


Adry lalu membuka pintu gerbang. Raina melongok keluar rumah. Dia terkejut ketika melihat deretan rumah tetangganya dulu.


"Ini... ?" pekik Raina. Adry menganggukkan kepala.


"Rumahmu, hanya saja aku membeli rumah rumah sebelah untuk menambah luas rumah ini."


Raina menutup mulutnya. Adry memeluk Raina dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu wanita itu.


"Kau menyukainya?" tanya Adry.


"Uhm... sangat, ini tidak pernah terbesit dalam pikiranku sekalipun. Aku kira akan berpisah dengan rumah ini selamanya." Emosi Raina bangkit, dia lalu memeluk pria itu dan menangis.


"Apapun untukmu, Sayang." Raina lalu melepaskan diri dari pelukan Adry dan mengusap air mata di pipi. Raina berjalan menyusuri rumahnya dengan tatanan yang baru. Semua terlihat tidak sama, tidak ada jejak rumah lamanya.


"Apakah karena ini kau selalu pergi dari rumah sampai sore?"


"Ya, aku ingin membangun rumah sesuai dengan impianku. Walau kecil tetapi sesuai dengan keinginanku."


"CK... ini rumah yang cukup besar dan indah," kata Raina. Adry tersenyum. Raina memang wanita sederhana jadi dia tidak mempermasalahkan ukuran rumah itu.


"Kita belum bisa pindah kesini karena perabotan untuk kamar dan lainnya belum lengkap, mungkin setelah kau melahirkan baru kita pindah kemari."


Raina menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


***


Malam ini Raina akan makan malam bersama dengan keluarga Adry. Namun, hal ini tidak membuatnya lesu atau kesal. Dia merasa baik saja, mungkin karena Adry telah memberikan begitu banyak cinta sehingga dia merasa jika pria itu memberikannya dukungan penuh. Hal itu, sedikit banyak membuat moodnya membaik. Mungkin tanpa Raina bercerita detail kejadian itu, Adry sudah tahu sendiri kebenarannya. Pikir Raina.


Dia membuka lemari pakaian. Dia ingin memilih baju tetapi tidak tahu apa yang harus dia kenakan. Dia takut jika keluarga Adry akan memandangnya rendah karena lahir dan hidup bersama dengan orang kalangan rendah.


Raina mulai cemas dengan anggapan keluarga suami atas penampilannya nanti. Jika dia itu tidak pantas berada di antara mereka. Dia lebih terlihat seperti seorang pelayan daripada majikan dan perkataan lainnya yang mungkin bisa menusuk hati Raina.


Otaknya mengatakan jika dia tidak harus memperdulikan perkataan orang tentang dirinya. Namun, tidak semudah itu. Keluarga begitu bagi Adry dan Adry begitu penting baginya. Jadi pendapat keluarga itu penting untuk dia dengar.


Sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba memeluknya, tubuhnya bersandar pada dada kokoh yang harum. Bibir sensual menyentuh leher Raina dan membuat wanita itu melemas karena menikmati apa yang pria itu lakukan.


"Apakah yang menyebabkanmu berdiri di lari dan memandangi pakaian-pakaian mu?" tanya Adry di telinga Raina.


Raina membalikkan tubuh dan meletakkan tangannya di leher Adry.


"Kau pulang cepat?" tanya Raina.


"Aku pulang terlambat satu menit saja kau cemas dan kini aku pulang cepat kau bertanya?'' Raina tertawa kecil.


"Kau merindukanmu dan pekerjaanku lebih cepat dari yang kubayangkan jadi aku langsung pulang ke rumah." Adry melepaskan pelukannya dan melihat ke arah lemari.


"Ada yang salah dengan lemari kita?"


Raina mengerucutkan bibirnya yang merah. Memandang kesal pada deretan baju itu. Adry mengikuti arah pandang wanita itu.


"Hanya untuk menemukan pakaian apa yang akan kukenakan nanti malam. Semua pakaian itu membuatku terlihat seperti seorang wanita kelas rendah yang sering kali mereka katakan." Raina mengungkapkan unek-uneknya tidak perduli dengan tanggapan Adry.


***

__ADS_1


Vote, Like dan Komentarnya.... Likenya tipis banget bikin semangat kendor nih...


__ADS_2