
Akhirnya, mereka kembali lagi ke negara Indonesia. Kembali ke rumah Raina bukan rumah Adry. Alasan Raina adalah ingin hidup sederhana saja layaknya orang biasa yang bisa bergaul dengan masyarakat. Jika mereka tinggal di rumah mewah atau apartemen itu terasa berbeda karena seperti hidup sendiri.
Adry menyetujuinya begitu saja walau rumah harus sedikit diperbaiki agar terlihat layak dan nyaman untuk ditinggali menurutnya.
Terlihat aneh memang melihat sebuah mobil mewah terparkir di sebuah rumah sederhana. Hal itu membuat pergunjingan tetangganya namun Raina santai saja dalam menanggapi. Apalagi ketika tetangganya melihat betapa tampannya suami Raina dan melihat kemiripan dengan Leon. Mereka yang mencaci selama ini langsung terdiam. Ternyata, ayah Leon itu ada dan orang kaya.
Semua terasa indah dan membahagiakan. Hari-hari mereka dipenuhi oleh canda tawa. Tidak ada lagi tangis dan pertengkaran. Namun, Raina tetap saja terdiam dengan kehamilannya. Dia tidak ingin mengatakan pada Adry sebelum yakin tentang sesuatu hal. Bahwa Adry sudah berubah, bukan kembali padanya karena Leon atau mengharap pewaris lain.
Ada sesuatu yang janggal tengah dia rasakan. Tiba-tiba Adry memutuskan ikut dengannya ke Indonesia. Dia juga tidak pernah menghubungi Nita atau kedua orang tuanya. Roy juga tidak pernah terlihat lagi. Ada apa ini?
Raina tidak akan bertanya tentang apapun sebelum dia tahu sendiri apa yang terjadi sebenarnya. Dia hanya mencoba menikmati semua yang ada.
Suara mobil milik Adry terdengar mendekat. Raina lalu keluar rumah untuk menjemputnya pulang. Leon sendiri sedang di kamar mengerjakan PR dari gurunya. Anak itu terlihat bersemangat untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di sekolah karena pergi ke Jerman untuk waktu yang lama.
Adry mencium dahi istrinya ketika sudah keluar dari mobil. Tas yang dia bawa diambil oleh Raina untuk dibawa masuk.
"Kepalaku sangat sakit dari tadi. Seharusnya aku ada pertemuan lagi hari ini tapi aku wakilkan kepada Roy."
"Dia tidak pernah terlihat lagi, Sayang?''
"Dia kemarin meminta cuti beberapa Minggu, katanya ada urusan yang penting. Kini telah kembali lagi," ungkap Adry.
"Oh," jawab Raina pendek. Adry langsung ke kamarnya dan merebahkan diri di kamar. Raina melepaskan sepatu dan kaos kaki suaminya.
"Aku akan membawakanmu segelas air dan obat agar pusingmu berkurang."
"Kalau ada es jeruk, aku ingin minum yang segar-segar, mulutku juga terasa pahit." Raina mengerutkan dahinya tidak biasanya Adry seperti itu.
Beberapa saat kemudian Raina kembali dengan segelas air jeruk dingin dan obat. Ini aneh, minum obat dengan es jeruk, hanya saja dia malas untuk berdebat dengan suaminya.
Adry menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Raina mendekat dan memegang dahinya.
"Kau demam, Sayang?"
"Tidak biasanya aku seperti ini. Tubuhku terasa sakit semua, lemas dan anehnya ketika aku makan siang dengan klienku, aku merasa mual melihat makanan itu. Aku memuntahkan isi perutku." Adry duduk dan mengambil obat dari tangan Raina.
"Jadi kau belum makan siang?" tanya Raina. Adry menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan membawakanmu makanan," ujar Raina hendak bangkit.
"Jangan, aku mual bila melihat nasi atau bau bumbu yang menyengat. Kau ambilkan aku buah yang segar saja atau membelikan aku bakso yang panas dan pedas tanpa mie," ujar Adry.
"Ih, kau itu seperti orang ngidam saja," celetuk Raina.
"Nah, iya mereka mengatakan jika aku seperti itu, apa ngidam, padahal kau tidak sedang hamil kan Sayang?" tanya Adry. Raina langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku akan memberikanmu bakso di depan gang," ucap Raina pergi cepat dari kamar itu menghindari pembicaraan soal ngidam lebih lanjut.
Adry sendiri memejamkan matanya. Namun, baru saja dia berusaha untuk tidur sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya. Foto Ibunya terlihat di benda pipih dalam tangannya. Adry lalu menggeser tombol hijau.
"Ada apa lagi, Bu?'' tanya Adry malas.
"Ibu sudah ada di Indonesia. Ingin meminta maaf padamu dan Raina juga Leon."
"Aku harap Ibu bersunguh-sungguh!'' ucap Adry melembut.
"Ibu telah menyesali semuanya."
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Janeta.
"Baik, aku baru saja pulang kerja."
"Raina dan Leon?"
"Semua baik, Raina sedang keluar membeli makanan dan Leon sedang ada di kamarnya belajar."
"Ibu ke rumahmu namun tidak ada kau di sana hanya ada Nita saja?" tanya Janeta.
"Aku sudah tidak tinggal di sana. Aku tinggal di rumah kami yang kecil namun terasa seperti istana kebahagiaan." Adry ingin meyakinkan ibunya jika dia bahagia bersama dengan Raina.
"Apakah bisa Ibu main ke rumah kalian?"
"Tentu saja Bu, kapan Ibu akan kemari?'' tanya Adry.
"Entahlah, hanya saja jangan katakan ini dulu pada Raina dan Leon," kata Janeta.
__ADS_1
"Lho kenapa Bu?" tanya Adry heran.
"Ibu ingin memberi kejutan untuk mereka," jawab Janeta.
"Oh, ya sudah. Apapun itu jika niat Ibu memang benar-benar untuk meminta maaf, kami akan menerima kehadiran ibu dengan senang hati."
"Ya sudah, Ibu harus pergi ke suatu tempat. Kau baik-baik saja di sana."
"Iya, Bu.''
Adry lalu menutup panggilan itu, menghela nafas. Dia berharap semoga ibunya bisa belajar banyak dari kejadian kemarin dan mulai menerima Raina dengan baik.
Dia menuruti Raina untuk tinggal di sini dengan tujuan agar orang tuanya melihat Raina bukan wanita matre yang gila harta atau mengincar uangnya saja. Ayahnya mengerti hal itu tetapi ibunya masih mencurigai ketika terakhir kali mereka bertengkar. Mungkin, besok sudah tidak lagi. Dia juga tidak mungkin bertengkar terus dengan orang tuanya dan dianggap anak durhaka karena tidak ingin Leon berbuat hal yang sama dengan yang dia lakukan ketika nanti anak itu dewasa.
"Ayah, sudah pulang?" tanya Leon ketika masuk ke dalam kamarnya. Adry tersenyum dan melambaikan tangan agar Leon mendekat.
"Aku tertidur ketika sedang belajar tadi dan tidak tahu ayah pulang," katanya manis lalu pergi berbaring memeluk tubuh ayahnya.
"Tubuh Ayah panas?" Leon terkejut ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Adry. Dia bangkit memegang kening Adry.
"Hanya sakit sedikit, kau jangan khawatir. Ibumu sudah memberikan Ayah obat tadi."
"Aku takut jika ayah sakit sepertiku," kata Leon. Adry memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah akan baik-baik saja."
"Ibu mana?"
"Membeli bakso untuk Ayah," jawab Adry.
Terdengar suara motor Raina masuk ke dalam halaman rumah tidak lama kemudian dia masuk ke dalam kamar.
"Aku sudah membelikan bakso untukmu, ayo kita makan," kata Raina.
"Gendong," canda Adry.
"Ish, Ayah tubuh Ibu itu lebih kecil dari tubuh Ayah," ujar Leon. Mereka lalu tertawa. Dalam hati Raina berharap semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah habis dan selalu hadir di keluarga mereka.
__ADS_1