Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pemeriksaan


__ADS_3

"Kau coba untuk memaksaku Adry?" matanya berkilat penuh kemarahan.


"Jika kau mengira seperti itu silahkan. Aku tidak peduli pendapatmu. Kau harus pergi denganku. Jika dokter itu mengatakan kau sehat, aku akan pergi."


Mata Raina menyipit penuh kecurigaan. "Sesederhana itu?"


Adry menganggukkan kepalanya. Dia yakin jika tidak ada satupun dokter di negeri ini yang akan menyatakan wanita itu sehat. Raina terlihat kurus dan lemah, guratan kelelahan terlihat jelas di wajahnya. Wajahnya pun sangat pucat dan kakinya bengkak.


Raina menggigit bibirnya dan nampak berpikir. Dia lalu menghembuskan nafas keras.


"Baiklah. Jika dokter itu mengatakan aku sehat kau harus pergi dari hidupku."


"Ya, hanya jika dokter itu mengatakan kau sehat," ulang Adry.


Raina lalu mendudukkan dirinya di tikar dan bersandar di tembok. Dia memejamkan matanya sejenak. Pertengkaran dengan Adry membuatnya lelah dan lapar tetapi dia tidak mungkin akan mengatakannya dan meminta pria itu membawanya membeli makanan.


Adry sendiri ingin mengumpat kesal. Apakah Raina tidak sadar jika dia sedang tidak sehat. Dia itu membutuhkan seseorang di sisi untuk merawatnya.


Satu jam kemudian mereka telah sampai di sebuah rumah sakit. Adry langsung membawa Raina ke bagian kandungan. Dia sudah memesan jadwal pemeriksaan semalam sehingga hanya tinggal menunggu antrian saja.


Raina segera bangkit ketika namanya dipanggil. Dia lalu mengisi catatan medis dipandu oleh seorang bidan.


"Nama ayah?" tanya Bidan itu. Raina terlihat bingung untuk mengatakannya.


"Adryan Carl Quandt," jawab Adry. Raina menatap Adry dengan ekspresi yang tidak bisa dia tebak. Bidan itu bertanya tentang hal lain lagi dan Raina menjawabnya. Sesi untuk mengisi buku itu selesai kini Raina tinggal harus melakukan pemeriksaan urin dan darah.


Raina menjalani semua pemeriksaan itu sendirian sedangkan Adry tidak terlihat di mana keberadaannya.

__ADS_1


Raina lalu keluar dari ruang laboratorium setelah diambil sampel darahnya. Dia memegang pinggang seraya berjalan menuju ke bangku besi tempat para wanita dan suaminya duduk menunggu jatah giliran bertemu dengan dokter.


Tiba-tiba satu tangan memegang lengannya. Raina menengadahkan kepala menatap Adry. Rasa tenang dan terlindungi kembali hadir di dadanya. Andai semuanya tidak terjadi, dia pasti akan berada di sisi pria itu dan tidak perlu melalui semua ini.


Adry membantunya duduk di sebuah kursi lalu dia duduk di sebelahnya. Adry mengeluarkan sekotak nasi dan memberikannya pada Raina.


"Kau lapar? Aku membeli ini tadi di luar," ucapnya. Netra Raina merebak. Adry selalu tahu bagaimana bersikap padanya.


"Makanlah terlebih dahulu," ujarnya menyerahkan nasi itu di pangkuan Raina. Raina lalu memegangnya dan mulai membuka nasi itu. Nasi Padang yang lezat. Dia mulai makan dengan lahap karena memang sangat lapar.


Adry melihat hal itu dengan seksama. Dia lalu mengambil sebotol air mineral, membukanya, diserahkan kepada Raina.


Raina langsung menegaknya dengan terburu-buru hingga terbatuk-batuk. Adry mengusap punggung wanita itu dengan lembut. "Pelan-pelan."


Setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya panggilan untuk Raina terdengar juga. Mereka lalu masuk ke dalam ruang dokter itu.


Ternyata dokter yang berjaga adalah dokter muda yang tampan serta muda. Hal itu membuat Adry tidak senang, namun dia tidak bisa mengganti orang yang ingin mereka temui.


Untuk pertama kali semenjak berbulan-bulan lamanya, Adry menyentuhnya lagi. Raina menahan nafasnya ketika kulitnya bersentuhan langsung dengan tangan Adry. Seakan mengerti ada pergerakan di atas kulit atau memang si janin mengerti jika itu adalah tangan ayahnya. Ada pergerakan kecil yang ikut menyentuh tangan Adry dibawah kulit Tak a membuat pria itu melonjak karena terkejut.


Dia menatap ke arah Raina, dadanya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Raina mengedipkan matanya.


"Si kecil tahu jika ayahnya sedang menyentuhnya jadi dia bereaksi," ujar sang dokter.


"Ayah," gumam Adry lirih. Ada kemungkinan jika dia ayahnya walau Raina menyangkalnya. Seketika dia menjadi orang bodoh. Perasaan ini sulit untuk dijelaskan.


Dokter itu mulai melakukan pemeriksaan sonogram di perut Raina. Alat itu mencari letak yang pas sehingga terlihat jelas bentuk calon anak mereka. Pandangan Raina terhalang oleh tubuh Adry membuat Raina harus menjulurkan lehernya. Adry lalu berdiri di sisinya dan memegang leher Raina agar wanita itu bisa melihat jelas calon bayinya.

__ADS_1


"Anak perempuan yang cantik," gumam Raina.


"Kau benar," ungkap Adry terkesima melihat hal itu. Pertama kali baginya menyaksikan hal indah ini. Matanya merebak dan tersungging sebuah senyuman, seolah yang dia lihat adalah memang anaknya.


"Atau mungkin dia lelaki," ujar Raina melihat pergerakan sang bayi di dalam perutnya.


"Jika Anda ingin mengetahui jenis kelaminnya maka akan saya perlihatkan," ungkap dokter itu.


"Tidak! Biar itu jadi kejutan," potong Raina. Setelah beberapa saat dokter itu menghentikan pemeriksaannya. Dia menyuruh Adry membersihkan gel di perut Raina.


Setelah itu mereka kembali ke meja kerja dokter itu. Wajah dokter itu terlihat tidak menyenangkan, ada kerutan di dahinya sewaktu membaca catatan yang tertera.


Dokter itu menarik nafas sebelum mengatakan sesuatu. "Sepertinya kesehatan anda sedang tidak baik menurut catatan medis yang ada. Tekanan darah Anda naik dan ada sisa-sisa protein dalam urine Anda."


Dia lalu melihat ke arah tangan Raina. "Tangan dan kaki Anda bengkak, berat tubuh Anda pun di bawah standar, terlihat kurus untuk ukuran ibu hamil. Itu menggambarkan jika Anda kurang nutrisi. Apakah Anda mengalami mual berlebih sehingga tidak bisa makan?" Dokter itu melihat ke arah Adry yang mampu untuk memberikan makanan cukup dan bergizi pada istrinya namun wanita itu malah terlihat seperti kekurangan pangan.


"Anda seperti memperlihatkan gejala-gejala preeclampsia dan itu sangat berbahaya."


Adry mengernyitkan dahinya. "Penyakit apa itu dokter?"


"Itu bukan penyakit, preeclampsia adalah Komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya yang ditandai dengan tekanan darah tinggi.


Pre-eklampsia biasanya dimulai setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita yang tekanan darahnya telah normal. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan fatal, bagi ibu maupun bayi. 20 persen ibu hamil yang terkena ini akan mengalami kematian jika tidak ditangani dengan serius."


Raina menelan Salivanya dalam-dalam.


"Dia harus dirawat dan opname di rumah sakit hingga melahirkan. Namun, jika Anda dan suami berjanji akan menjaga kehamilan ini dan beristirahat dengan total maka anda boleh pulang dan melahirkan sesuai dengan masanya."

__ADS_1


"Aku... ."


"Saya berjanji akan merawatnya dengan baik. Dia bahkan tidak akan mengangkat satu jarinya tanpa pantauan dari saya." Adry merasa lega akhirnya tidak harus mencari alasan lain agar Raina tidak pergi darinya.


__ADS_2