Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Bahaya Mengancam


__ADS_3

Di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba Adry mendapatkan panggilan dari seorang. Rupanya dari Hyun. Dia lalu mengajak Roy untuk pergi ke ruang kerjanya.


"Ada apa Hyun?"


"Tuan Mitch menemui seseorang di luar pulau kemarin," kata Hyun.


"Katamu mereka tidak menemui siapapun!" seru Roy kesal.


"Orang yang dia temui berpura-pura menjadi penjual kacang rebus keliling dan mereka berdua berpura-pura untuk membelinya."


Roy terlihat memukul angin di depannya.


"Bagaimana kau tahu jika itu bukan transaksi jual beli?" tanya Adry tenang.


"Penjual itu bukan orang yang biasa berjualan di tempat itu kata penduduk sekitar setelah kami telusuri."


"Adakah rekaman CCTV atau apa yang bisa menjelaskan apa yang mereka perbuat agar kita bisa menganalisa."


"Akan kami kirimkan, Tuan."


"Hanya itu saja?" tanya Adry lagi.


"Satu lagi setelah kami lihat wajahnya dan melakukan pencarian dia adalah salah satu residivis kasus narkoba."


"Ya, sudah. Kerja kalian bagus meneliti dengan detail setiap hal yang dilakukan oleh pengunjung kita."


"Ini sudah tugas kami, Pak?"


Panggilan ditutup.


Adry dan Roy saling berpandangan.


"Apa yang sedang mereka sembunyikan?" tanya Adry.


"Kau harus menyelidikinya. Kau bergerak sangat lambat belum memperoleh petunjuk sama sekali. Nyawa Raina dan Regina bisa dipertaruhkan di sini."


"Baik, Kak. Aku akan menanyai langsung."


"Lakukan dengan cepat karena aku tidak punya waktu. Aku tidak tahu mengapa kau ingin melakukannya dengan hati biasanya kau selalu bertindak efisien tanpa hati."


Roy hanya mengatup bibirnya rapat. Tidak bisa menjawab pertanyaan Adry.


"Kita lihat apa yang mereka lakukan secara dekat." Adry lalu memasukkan video itu ke layar komputernya dan membesarkan gambar itu.

__ADS_1


"Tunggu ketika pedagang itu memberikan kacangnya seperti ada bungkusan lain, apa itu?" tunjuk Roy melihat bungkusan diantara wadah kacang dan sela jari-jari Mitch.


"Kau benar. Lalu yang yang di serahkan seperti bersama dengan kertas yang dilipat. Apa isinya? Apakah mereka sedang menukar rahasia atau memasukkan sesuatu ke dalam pulau ini. Aku harap bukan senjata," ucap Adry.


"Kau harus cepat menyelidiki hal ini dan beri hasilnya nanti malam."


"Aku akan kembali keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi kemarin."


Roy lalu keluar ruangan itu. Sedangkan Adry berdiri menatap keluar jendela melihat pemandangan lautan lepas, dia menekan sebuah nomer dan menelfon seseorang.


Setelah menunggu lima menit panggilan baru diangkat.


"Leon, bagaimana keadaanmu?" tanya Adry.


"Aku baik, Yah. Hanya merindukan kalian," ucapnya dengan suara pelan.


"Di mana sekarang kau berada."


"Di sekolah lebih tepatnya di toilet. Aku bahkan tidak bisa mempercayai seorang pun ketika mengangkat panggilan ini." Terdengar suara ******* dari seberang sana.


"Ya, bagitulah hidup. Nyawamu sangat berharga jika sampai kau diculik oleh seseorang maka penculik itu bisa meminta harga berapapun untuk keselamatan nyawamu."


"Ayah sudah pernah merasakannya?"


"Kau tunggu disana hingga akhir tahun pelajaran dan usahakan agar nenek atau Kakekmu tidak membawamu pergi dari tempatmu sekarang."


"Iya Ayah. Aku akan lebih berhati-hati lagi. Aku tidak ingin kejadian tahun lalu terjadi lagi. Ayah ingin datang menjemputku tetapi nenek sudah pergi membawaku ke Jepang dan Ayah hanya bertengkar saja dengan Kakek. Setelah itu, semua kembali sulit." Terdengar suara helaan nafas berat dari Leon.


Tahun kemarin memang Adry sudah merencanakan menjemput Leon secara mendadak bersama dengan beberapa petugas dari pemerintahan. Namun, saat itu Leon sudah tidak ada di rumah orang tuanya di Jerman, dia sudah di bawa ke Jepang.


Ketika kembali dari Jepang Leon ditanyai oleh petugas dan dia mengatakan jika ingin tinggal dengan Kakek dan Neneknya. Dia tidak ingin tinggal bersama ibunya karena ibunya selalu berlaku kasar padanya. Adry tahu itu adalah akalan dari Ibunya, Janeta. Setelah keterangan Leon itu, Pemerintah setempat memberikan suaka pada Leon demi keamanannya agar Raina dan dirinya dilarang untuk berada dekat dengan anak itu sejauh seratus meter.


Itu mempersulit Adry untuk menemui Leon. Setelah dia bisa menghubungi anaknya itu, Leon mengatakan jika neneknya mengancam akan membunuh adiknya jika Leon melawan Janeta. Leon hanya bisa menuruti kemauan neneknya.


"Apa kau sehat saja Leon?"


"Aku baik-baik saja hanya saja nafasku terasa sesak jika ingat kalian semua," terdengar Isak kecil. "Aku rindu kalian, Yah. Mengapa kita tidak bisa bersama seperti orang lainnya?"


"Kau sabar ya Sayang. Tunggu dua bulan lagi. Ingat rencana yang telah kita susun dan jangan sampai ada yang tahu jika kita sering berhubungan."


"Handphone ini selalu kusimpan apik di tempat tersembunyi di sekolah. Tidak ada yang tahu. Aku akan mengeceknya setiap akan masuk kelas dan jam istirahat."


"Bagus, kau memang anakku yang pandai."

__ADS_1


"Yah, salam untuk Ibu."


"Maaf, Ayah tidak bisa menyampaikan salam mu. Ibumu akan emosional jika mendengar namamu di sebut itu tidak baik untuk kesehatannya. Kau tahu ibumu punya penyakit darah tinggi."


"Aku mengerti," ucap Leon lirih.


"Baik-baik di sana. Ayah sudahi dulu panggilannya. Ayah sayang padamu."


"Aku juga sayang Ayah dan Ibu."


Panggilan di tutup. Adry menarik nafas berat seraya menatap kosong jauh ke depan.


Sedangkan Roy sendiri dengan wajah merah padam mendekati Karina. Dia memegang lengan wanita itu dan menariknya keluar dari ruangan itu.


"Eh kau mau bawa kemana calon istriku," teriak Jonathan.


Roy tidak mengatakan apa-apa tetapi tatapan tajamnya menunjukkan jika dia dalam mode serius tidak bisa diganggu.


"Pelan-pelan sakit!" ucap Karina. "Ada apa sih mengapa kau membawaku seperti sedang membawaku ke kantor polisi?" goda Karina.


Roy lalu menghentikan jalannya setelah merasa mereka di tempat aman tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Dia membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Karina.


"Apa yang kau sembunyikan dariku ketika jalan-jalan di luar pulau."


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti."


"Friends with benefitmu telah mengadakan transaksi mencurigakan kemarin, bukankah kau mengetahuinya?"


"Aku tidak mengerti yang kau maksud?" Karina meletakkan satu tangan di pinggang dengan kesal atas tuduhan Roy.


"Kacang rebus yang dibelinya hanya dibuang dan kau tahu itu. Dia lebih tertarik dengan benda lain di balik kacang rebus itu? Bukankah kau berada di sana?"


Karina mengangkat dagunya. "Sepertinya kau menuduhku berbohong tentang itu. Aku benar-benar tidak tahu apa itu. Jika dia membeli sesuatu selain itu aku tidak tahu dan itu hak dia karena memakai uangnya sendiri."


"Kau berbicara tentang hak? Ini juga hak kamu untuk menanyai pengunjung yang ada tentang kegiatannya?"


"Kami punya privasi sendiri."


"Jangan mengajarkan tentang privasi karena aku paling tahu soal ini di pulau ini. Aku hanya tidak ingin ada hal-hal yang berbahaya datang kemari."


Karina mendekatkan diri pada Roy dan merapikan kerah bajunya. "Apakah menurutmu hanya kami yang berbahaya karena kau terus saja mengintai kami dari awal kami datang dan sebelumnya kau juga menolak beberapa kali kedatangan kami dengan berbagai alasan." Lalu tangannya dikalungkan ke leher pria itu.


"Aku punya alasan sendiri untuk itu." Roy menatap mata cokelat gelap Karina dengan tajam.

__ADS_1


"Katakan seberapa berbahayanya diriku, jika iya kau seharusnya menjauhiku. Apa karena aku berbahaya jadi kau selalu menguntitku setiap saat?"


__ADS_2