Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Terluka Dalam


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Hana?"


"Dia sudah lebih baik." ujar Roy.


"Ya sudah. Aku akan bawa Psikolog itu naik ke atas. Kau melakukan langkah benar dengan mengatasi permasalahan ini secara cepat."


Roy hanya bisa tersenyum kecut saja menggapi ucapan Raina.


"Semangat, kalian pasti bisa melewati semua ini dengan baik."


"Terima kasih, Kak." Pintu kamar lalu di tutup kembali.


"Siapa Pak?" tanya Hana.


"Kakak Ipar."


"Oh, kenapa dia tidak masuk?" tanya Hana.


"Dia sedang mengurus anak-anak di bawah."


"Aku juga mau menemui Ayu dan Bagus."


"Mereka sedang berada di kamar Rere dan Aaric kau jangan khawatir."


"Aku lebih khawatir jika di sini bersamamu," batin Hana.


"Hana aku memanggil seorang psikolog kemari. Dia adalah sahabatku."


"Kau kira aku gila?" Wajah Hana memerah dan menegang.


"Tidak sungguh hanya saja aku ingin kita bisa mengatasi masalah ini bersama. Kau butuhkan penanganan."


"Apakah dia akan membawaku ke rumah sakit jiwa?" Dia merasa takut jika itu terjadi.


"Tidak... kau hanya perlu membuka dirimu ketika berbicara dengannya. Agar dia tahu tindakan apa yang tepat untuk mengatasi masalahmu."


"Aku takut," kata Hana.


"Ini untuk kehidupanmu ke depan. Kau tidak ingin kan jika anak-anak menjadi cemas dengan penyakit traumatis ini?"


Hana menggeleng.


"Aku tahu aku salah dan semua yang kulakukan tidak akan mengembalikan semuanya tapi aku ingin kau bisa hidup normal seperti wanita lainnya. Setidaknya hal itu bisa mengurangi beban berat di hatiku."


Pintu kembali diketuk. Mereka lalu menatap ke arah sana.

__ADS_1


"Dia sudah datang." Roy lalu bangkit. Sedangkan wajah Hana langsung memucat dan tangannya mengeluarkan banyak keringat dingin.


Terdekat Roy berbicara dengan seseorang dan tertawa lalu pintu kamar terbuka dan seorang pria tinggi bertubuh kecil terlihat di sana. Raut wajahnya menyiratkan keramahan dan ketenangan, senyum di wajah tampannya membuat siapa saja yang memandang akan meleleh karenanya.


Hana yang tadinya ketakutan tiba-tiba merasa santai, membalas senyuman itu. Ketakutannya menguap seketika.


"Hai, kakak ipar," sapa Rama.


Hana mengalihkan pandangannya ke arah Roy. Rama yang melihat ikut menoleh ke belakang.


"Benarkan, dia kakak ipar?"


"Ya."


"Jika bukan maka aku akan menggodanya. Dia terlampau cantik untuk bersanding denganmu," ledek Rama pada Roy membuat sahabatnya itu bersungut-sungut.


Rama lalu mengulurkan tangannya pada Hana. "Kenalkan namaku Rama seorang ahli jiwa di sebuah rumah sakit swasta, Aku di sini atas permintaan Tuan Roy yang sedang panik karena calon istrinya selalu pingsan jika berdekatan denganmu. Dan khawatir jika itu sampai terjadi maka pernikahan kalian...." sebuah pukulan mengenai kepala Roy.


"Kau mau mengatasi masalah Hana atau membuatku kesal!"


Rama Mengusap-usap kepalanya yang sakit.


"Mana aku berani, jika itu ku lakukan bisa-bisa besok ruang praktekku sudah rata dengan tanah."


"Kalau begitu periksa dia sekarang! Tidak usah banyak bicara."


"Kau itu mau memeriksa sakitnya atau mengatasi trauma?" tanya Roy yang duduk tidak sabar di sudut ruangan.


"Jika kau banyak bertanya dan selalu menginterupsi maka aku atau kau yang akan pergi dari kamar ini."


"Ya, sudah. Aku akan diam disini."


"Itu baru benar."


Hana menahan tawanya. Dua sahabat itu nampak kocak dengan dua kepribadian yang saling berlawanan.


"Apa kau benar mau menikah dengan pria menyeramkan itu?" tanya Rama dengan suara berbisik.


"Ekhem...." Roy terbatuk mendengarnya.


"Kakak ipar, bisakah kau duduk dengan kaki di luruskan di sofa itu?" tunjuk Rama pada sofa panjang di sisi kanan tempat tidur.


Hana lalu melakukan semuanya sesuai dengan intruksi dari Rama.


"Aku hanya ingin bertanya padamu tentang semuanya. Aku akan membuatmu rileks, ini tidak akan menghilangkan kesadaranmu hanya saja kau bisa menceritakan semuanya dengan tenang dan lebih terbuka. Kau bisa menceritakan semua hal, apa yang kau ingat, kau rasakan dan kau inginkan. Katakan semuanya."

__ADS_1


Lalu Rama mulai melakukan hipnoterapi pada Hana, membuatnya rileks.


"Siapa namamu?" tanya Rama.


"Hana...."


"Siapa?"


"Hana Maulida Pratikno," jawabnya dengan mata terpejam.


"Berapa umurmu?"


"Dua puluh tujuh," jawabnya.


"Wow, kau terlihat lebih muda dari umurmu, Aku kira kau berumur sekitar dua puluh tiga atau empat," ujar Rama. Hana tersenyum. Lalu Rama bertanya tentang hal sepele hingga sampai kepada pertanyaan inti.


"Hana... bisa kau katakan, apa yang paling kau takuti?"


Hana terdiam cukup lama, wajahnya nampak menegang.


"Aku takut dengan mata cokelat yang tajam itu, dia menyakitiku...." ungkap Hana dengan suara terisak.


"Apa dia wanita atau pria?"


"Dia pria. Dia telah menodai ku... aku sudah katakan hentikan tetapi dia seperti hewan buas yang tidak pernah merasa puas menyakitiku." Cicit Hana dengan suara serak seperti sedang merintih kesakitan.


Rama menoleh ke arah Roy. Bahu pria itu nampak turun, dia hanya terdiam menatap kosong ke arah Hana seolah dia juga ikut mengingat momen itu. Ada gurat penyesalan yang teramat sangat yang tersirat di wajahnya. Rama tahu jika Roy pun menahan beban yang sangat besar ketika mendengar semuanya. Seolah ada gunung besar yang ditimpakan semua diatas pundaknya.


"Aku tidak mengenalnya tetapi dia melakukan itu padaku. Dia menghancurkan kehormatanku, kepercayaan diriku,hidupku bahkan keluargaku, dia merengut semuanya pada malam itu!"


"Coba tanyakan padanya apa salahku hingga dia tega melakukannya!" Dada Hana naik turun. Satu tangannya menutup wajahnya yang basah. Suara tangisnya terdengar makin keras. Untung saja kamar ini ada pengedap suara sehingga tidak sampai terdengar keluar.


"Lalu bagaimana bisa kau berada di rungan itu bersama dengan pria bermata cokelat itu?"


"Aku tidak tahu, aku hanya sedang duduk di cafe mengerjakan tugas kuliah. Lalu tiba-tiba aku sudah berada di sana dan pria itu... dia... dia... berada di atas tubuhku menatapku dengan lapar...." tutur Hana.


"Kau betul-betul tidak tahu atau curiga siapa yang menjebakmu?"


"Aku tidak bisa berpikir kalau itu, aku hanya tahunya ingin lari dari pria itu setelah dia mulai tertidur," jawab Hana.


"Hana fokus pada pertanyaannya. Apa kau tidak mencurigai seorang pun?"


"Aku tidak tahu..." bentak Hana. ''Aku... hanya merasa kotor... aku sudah mandi dan membersihkan diriku tapi... tapi tetap tidak bisa menghilangkan bekas itu... sakit itu... aku bahkan jijik pada tubuhku sendiri." Hana mulai menggosok tubuhnya sendiri dengan kasar.


"Aku kotor dan aku menjijikkan... bantu aku untuk membersihkannya," suara tangis Hana terasa menyayat hati.

__ADS_1


"Roy, apa yang kau lakukan, mengapa dia bisa sampai terluka dalam seperti ini?"


Roy hanya bisa menghela nafas. Matanya pun nampak basah melihat pemandangan di hadapannya.


__ADS_2