Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Di Usir


__ADS_3

"Apa tidak apa-apa, aku ikut denganmu?" tanya Hana.


"Turun atau ku gendong naik ke atas!"


"Tidak... tidak hanya saja lebih baik, aku pulang menemani Ayu dan Bagus."


"Mereka ada les tambahan perintah sangat wali kelas untuk mengejar ketertinggalan mereka selama ini."


"Ayu dan Bagus selalu rangking satu."


"Namun, akhir-akhir ini mereka sering tidak masuk sekolah."


"Hah, setiap hari mereka berangkat sekolah," ungkap Hana terkejut.


"Tapi tidak sampai sekolah."


"Bagaimana bisa?"


"Aku akan menceritakannya di ruanganku."


Mereka lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk. Sepanjang jalan semua orang menundukkan kepala memberi hormat tetapi setelah itu mereka mulai menatap heran pada Hana. Tidak pernah sekalipun, Bos mereka berhubungan dengan wanita selama ini. Hanya almarhum istrinya saja yang pernah mereka lihat bersama dengan Bosnya.


Bisik-bisik mulai terjadi.


"Kenapa aku jadi seperti sugar babymu?" ujar Hana memandangi dirinya di pantulan dinding lift. Dia melirik ke arah pantulan Roy.


Roy pura-pura tidak mendengarnya.


"Sepertinya kau harus merubah penampilanmu."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Agar terlihat lebih muda," celetuk Hana tanpa beban.


Roy menghela nafas. Sejenak dia melihat tampilan dirinya apakah terlihat lebih tua dari umur aslinya.


"Kau akan lebih rapih dan tampan jika mencukur jenggot dan memotong rambut."


"Kau selalu mengatakan hal itu."


"Kau tampan hanya saja seperti tidak terurus," ungkap Hana melihat Roy dari ujung kaki hingga atas kepalanya.


Lift terbuka dan Roy berjalan terlebih dahulu. Hana menaikkan bahunya sedikit melihat ekspresi dingin Roy. Dia mulai mengikuti pria itu namun di tengah jalan dia dihentikan oleh seorang wanita.


"Maaf Mbak, ada kepentingan apa naik ke lantai atas ini?"


Hana ingin memanggil Roy namun pria itu tetap berjalan di depannya.


"Saya kemari atas ajakannya," tunjuk Hana pada Roy.


"Kau tidak percaya padaku!" seru Hana tidak mau kalah meletakkan tangan di pinggangnya.


Wanita berambut pirang tadi memberi tanda pada petugas keamanan di lantai itu untuk mengusir Hana.


"Kau berani melakukannya?" tanya Hana.


"Kami sudah biasa tingkah laku wanita murahan macam kau ini. Selama ini tidak ada wanita di dekat Pak Roy jadi tidak mungkin dia akan melirikmu, melihatmu saja sepertinya tidak akan." Wanita tadi meremehkan Hana.


"Bawa dia keluar dari ruangan ini secepatnya sebelum Pak Roy melihat dia ada di sini. Jika tidak, kalian tahu apa yang akan terjadi dengan nasib kalian ke depannya!" perintah wanita itu.


Dua petugas pria bertubuh tegap meraih tangan Hana.


"Jangan sentuh aku!" bentak wanita itu. "Aku akan jalan sendiri." Hana lalu berjalan ke arah lift tetapi sebelumnya dia membalikkan tubuh.

__ADS_1


"Kau akan menyesali tindakanmu," ancam Hana sebelum masuk kembali ke dalam lift.


"Dasar, sesepuh Yakuza, jalan tidak melihat ke belakang!" teriak Hana menendang pintu lift.


Dua penjaga tadi menatap Hana.


"Apa lihat-lihat, nanti ketika kalian dipecat baru tahu rasa. Tidak sampai lima menit nasib kalian akan mulai menderita."


Sedangkan Roy berjalan terus, di tengah jalan sekretarisnya mendekat.


"Tuan Ming dari Taipe datang ke sini kemarin tetapi Bapak tidak ada. Pertemuan dilakukan oleh Pak Hyun hanya saja Tuan Ming kurang puas jika tidak menemui Anda secara langsung sehingga dia meminta waktu Anda ketika makan malam untuk bertemu dengannya."


"Bagaimana jika kau majukan jadwalnya?"


"Tidak bisa Pak karena kita ada rapat bulanan."


"Aku tidak bisa pulang hingga malam karena aku bersama dengan...," Roy menoleh ke belakang tetapi tidak menemukan Hana.


"Di mana ibunya anak-anak?"


"Siapa Pak?"


"Wanita yang bersamaku tadi." Roy menatap jauh ke depan tetapi tidak melihat keberadaan Hana. "Sial. Kemana dia pergi?"


"Hana... Hana... kau kemana?" teriak Roy di sepanjang lantai itu.


"Apakah diantara kalian melihat wanita yang bersamaku? Dia memakai dress putih rambut hitam panjang tergerai.


" Tadi memang ada wanita yang lewat lorong ini, dia mengakuinya ikut dengan Bapak Roy, tetapi dia sudah diusir pergi dari lantai ini," terang pegawai pria.


"Siapa yang berani mengusir ibu dari anak-anak ku, calon istriku!"

__ADS_1


__ADS_2