Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Rencana Baru


__ADS_3

Besoknya, Roy dan Hana menaiki mobil menuju ke sebuah kawasan padat penduduk di pinggir kota Jakarta. Mereka sempat melewati sebuah pabrik plastik milik Ayah Hana yang kini dipegang oleh ibunya tetapi pengoperasiannya berada di tangan Hani.


yg


Anak itu sebenarnya cerdas dan gesit. Dia melakukan berbagai usaha untuk membuat keadaan pabrik itu kembali seperti jaman Ayahnya dulu. Hanya saja perangainya yang buruk pada Hana, membuat Roy tidak menyukainya.


Mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar dari ukuran rumah di sekitarnya. Rumah itu dicat dengan warna cream. Ada taman kecil di depannya. Seorang pria mendekat ke arah mobil Hana dan Roy. Di saat yang sama Alisa dan David keluar dari rumah. Pasangan suami istri itu tersenyum dan mendekat pada Roy serta Hana.


"Selamat datang Tuan Roy, Hana," ucap David.


Hana nampak ragu untuk memeluk ibunya. Alisa yang melihat lalu mendekat.


"Maafkan Ibu, Nak, karena berbohong pada Tuan Roy kalau itu. Kau tahu Ibu tidak ingin imej buruk tersemat ketika menemui klien." Alisa memeluk Hana.


"Tidak apa-apa, Bu. Hana mengerti."


"Akan tetapi tidak mengakui anak adalah hal paling buruk yang aku ketahui," sindir Roy dengan wajah masam. Jika bukan atas permintaan Hana enggan dirinya datang menjejakkan kaki menemui kedua orang itu.


"Kami memang telah melakukan kesalahan aku harap kau mau memaafkan kesalahan kami."


"Jangan lakukan lagi. Bukan karena aku, tetapi karena Hana adalah anakmu!" tegas Roy. David dan Alisa terdiam tidak tahu harus berkata apalagi mereka cukup tahu diri dan malu.


"Mari Tuan Roy, masuk," ajak David. Alisa merangkul Hana masuk ke dalam rumah melewati beberapa anak tangga karena posisi rumah sedikit tinggi.


Para pengawal Roy berdiri di depan rumah. Mereka mengawasi keadaan sekitar.


"Seperti inilah rumah Hana, Tuan Roy."


"Besar, bahkan cukup luas jika Ayu dan Bagus tinggal di sini," ketus Roy yang masih kesal.


Hana lalu memeluk lengan Roy dan sedikit menarik ke bawah memberi tanda agar Roy tidak membahas masalah itu. Mereka sudah membicarakan ini sebelumnya di mobil.


Roy yang cuek dan apa adanya tidak peduli dengan tanggapan orang.

__ADS_1


Alisa tertawa kecil canggung. "Silahkan duduk," ucap Alisa untuk mengalihkan pembicaraan. Namun, Roy tidak mendengarkan. Dia malah melihat foto besar seorang pria yang duduk memangku dua putri kecilnya.


Roy memegang rambutnya. Modelnya sama dengan pria itu. Rupanya Hana ingin melihat penampilannya sama seperti ayahnya. Seorang putri yang dicintai ayahnya, terkadang memang ingin melihat diri sang ayah ada pada pasangannya. Pria itu nampak rapih dan bersih hal itulah yang ingin Hana ciptakan.


Istrinya pasti sangat merindukan sang Ayah. Pikir Roy.


"Itu foto ayah Hana dan Hani. Walau kami sudah menikah aku tidak berhak mengambil apa yang menjadi bagian kenangan hidup kedua anak itu." David ingin menampilkan sisi yang baik dari dirinya.


"Itu benar. Seorang pria sejati harus mampu menjadi pilar kuat untuk menopang sebuah rumah, bukannya menggerogoti pilar rumah itu sendiri." David menelan salivanya dalam-dalam, wajahnya memucat seketika. Roy sedang menyindir jika dia yang menghabiskan uang dari mendiang ayah Hana dan Hani.


"Ayo, duduk," tarik Hana pada Roy. Dia merasa tidak enak karena Roy menambah masalahnya dengan keluarga ini.


"Aku akan mengambilkan minum untuk kalian." Alisa lalu masuk ke dalam rumah bersama dengan David.


"Kau janji akan menjaga sikapmu," bisik Hana.


"Aku tidak mengatakan apa-apa tadi. Kau yang mengatakan itu."


"Ish!" Hana meremas tangannya sendiri kesal dengan sikap dingin dan tidak peduli Roy.


Hana memutar malas bola matanya. "Jangan memancing masalah lagi!"


"Aku tidak memancing apapun. Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan pahit yang harus mereka sadari. Ini mulutku, aku bisa berkata apa saja yang aku mau."


"Kau itu... menyebalkan," rajuk Hana.


"Menyenangkan jika diatas kasur kan?"


"Mulai lagi!" Hana meletakkan kepalanya di sandaran kursi.


"Kenapa?"


"Mengantuk."

__ADS_1


"Tidur saja di mobil setelah ini. Kita tidak akan lama di sini. Aku tidak percaya jika harus meninggalkanmu di sini sendiri."


"Maaf lama," sebuah suara kembali hadir ke dalam ruangan ini. Alisa datang membawa baki berisi minuman dan David membawa berbagai camilan.


Mereka lalu duduk saling berhadapan.


"Nyonya, kedatangan saya kemari adalah untuk memberi tahu bahwa aku dan Hana akan menikah bulan besok. Waktunya belum kami tentukan."


"Kalian belum menikah? Aku kira sudah!"


"Aku baru menemukannya dua bulan kemarin Seperti yang kau tahu dia dan anak-anakku hidup miskin di rumah kontrakan. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, Hanya saja keadaan anakku yang seperti itu dan kehidupan kalian yang seperti ini membuatku miris. Apakah kalian tidak punya sedikit saja hati dan tempat untuk cucu kandungmu Nyonya. Bukankah ini rumah almarhum Ayah Hana seharusnya Hana juga masih punya hak untuk tinggal di tempat ini."


"Akh sudahlah, yang penting Hana sudah saya temukan. Saya ingin membahagiakan hingga akhir hayatku. Aku tidak butuh ijin kalian tetapi Hana ingin doa restu dari kalian dan dukungan kalian pada pesta yang akan kami lakukan di Jerman." Roy mengatakan semua itu dengan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.


"Semua biaya dan akomodasi akan kami kirimkan nanti jika semua sudah direncanakan. Kalian tinggal berangkat saja tidak usah berpikir tentang ini dan itu. Berapa jumlah orang yang akan ikut tinggal kalian koordinasikan dengan orangku nantinya."


Roy lalu menoleh menatap Hana dan meletakkan tangannya di atas tumpukan tangan Hana.


"Asal kau tahu Nyonya, Hana tidak bersalah dulunya, dia hanya gadis lugu yang dijebak seseorang untuk bermalam bersamaku. Sekiranya hanya itu yang saya sampaikan. Kurang lebihnya kalian bisa katakan itu pada orangku yang akan datang kesini. Namanya Hyun."


"Roy lalu menarik lembut tangan Hana agar bangkit."


"Kami akan pulang terlebih dahulu."


"Minum saja dulu tehnya," ucap Alisa kakinya aslinya gemetar mendengar apa yang disampaikan oleh Roy.


"Tidak perlu. Aku terburu-buru ada pertemuan penting setengah jam lagi dengan klien." Hana dan Roy lalu melangkah keluar rumah. Wanita itu melihat terus ke arah ibunya dengan tatapan mata yang tidak enak karena ibunya harus mendengar ucapan pedas dari Roy.


Mereka lalu sampai ke mobil. Dengan sigap David membuka pintu mobil untuk Hana. Sedangkan Hana memeluk tubuh Alisa. Dia ingin menangis karena setelah sekian lama baru kali ini dia bisa memeluk kembali ibunya.


"Hati-hati, Sayang. Ibu ikut senang untuk kebahagiaanmu," kata Alisa lembut, Hana menganggukkan kepala.


"Kalau begitu aku pergi dulu." ucap Hana menutup pintu mobil. Sedangkan David memutari mobil untuk menutup pintu Roy.

__ADS_1


"Tuan bisakah kita bahas kembali proyek kerjasama yang kemarin kita batalkan."


Roy tersenyum licik.


__ADS_2