
Raina duduk menggigil ketika melihat hujan turun dengan deras. Padahal mereka berada di dalam ruangan yang hangat. Kepalanya di sandarkan di bahu Adry dan kakinya ditumpangkan di atas meja. Sebuah selimut tebal menutupi tubuh wanita itu.
"Aku memesan sop kambing kesukaanmu dan sayur pakis lalu acar, untuk makan malam kita."
"Wow, itu bagus untuk menghangatkan tubuh."
"Entah mengapa tiba-tiba aku menginginkannya padahal kau sendiri tahu aku tidak terlalu suka dengan daging kambing." Adry menoleh menatap Raina.
"Katanya, itu bisa membangkitkan stamina saat bercinta."
"Otakmu itu, selalu berkisar tentang itu saja," Raina mencebikkan bibirnya.
"Aku merasa senang beberapa hari terakhir ini, Raina," ucap Adry.
"Aku juga," jawab Raina tersenyum menatap Adry, lalu kembali lagi melihat acara sinetron kesenangannya.
"Aku sudah menyuruh asistenku untuk membuat janji dengan dokter kandunganmu, besok. Mereka mengatakan jika kita harus mulai periksa seminggu sekali." Adry menyentuh perut besar Raina.
"Aku ingin kau dan dia selalu dalam keadaan baik." Ada nada kecemasan dari diri Adry.
"Jika begitu kurangi aktivitas malam kita," goda Raina.
"Wah, itu diluar kendali. Aku hanya bisa mengurangi durasinya." Raina mengerutkan bibirnya. Hal itu, membuat gemas Adry. Dia lalu mengecup bibir itu sekilas.
Adry mulai mengambil i phone miliknya dan mengetik sesuatu di sana. Wajahnya terlihat serius. Biasanya, Raina akan berani mengambil handphone Adry, lalu menggoda dengan tubuhnya sehingga Adry kesal sekaligus senang dengan tingkah Raina. Kini dia tidak berani mengintip itu dari siapa apalagi merebutnya.
Wajah Adry terlihat menegang dan bibirnya menipis kala mengangkat sebuah panggilan yang masuk.
"Hallo, Bu."
Raina mendesah. Menatap malas ke depan.
Adry adalah pria yang penurut, dia menghormati ibunya sebagaimana seharusnya. Sebagaimana seorang anak Adry selalu buta jika menyangkut tentang ibunya.
__ADS_1
(Adakah yang pernah merasakan hal itu. Suami sangat mencintai ibunya sendiri dan itu buat senjata ibunya untuk menjelekkan menantu? Saran saya sabar kalau nggak tahan, pikir lagi... wkkk wk....)
Apa mungkin Adry hanya tidak ingin melihat ibunya sebagai penyihir berbaju hitam yang licik yang Raina kenal? Raina yakin, Ibu Adry adalah Ibu yang sempurna untuk anaknya. Dia sangat mencintai anaknya. Namun, Raina tidak akan pernah bisa berhubungan baik dengan wanita itu lagi.
"Aku memang sudah berhenti kerja untuk menjaga Raina." Adry menghela nafas keras sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Dengar Bu, mengapa kau mengirim Nita untuk menemui tanpa seijinku? Aku tidak suka jika Ibu ikut campur urusan rumah tanggaku! Aku juga tidak suka dengan perlakuan semena-mena yang Ibu lakukan pada Raina. Tidak akan pernah bisa mentoleransi hal itu. Ibu harus menerima Raina. Kalau Ibu tidak mau, maka Ibu dan aku punya masalah yang serius."
Raina membelalakkan matanya mendengar perbincangan Adry dengan ibunya. Nada bicara pria itu terdengar marah dan tatapannya tajam.
"Lihat saja nanti," lanjut pria itu. "Yang jelas saat ini Raina dan aku butuh waktu untuk bersama. Aku tidak ingin diganggu oleh siapapun, walau apapun yang terjadi. Satu lagi jangan memanfaatkan kepolosan dan keluguan Leon. Aku akan menelfon Ibu jika sudah siap untuk makan malam dengan kalian. Yang terpenting bagiku saat ini adalah Raina dan bayinya."
Adry lalu mematikan handphone itu setelah menyelesaikan pembicaraan dengan ibunya. Pria itu lantas meletakkan dengan kasar I-phone mahal itu dengan kasar ke atas meja. Raina meringis membayangkan harga handphone itu.
Raina menatap Adry. Pria itu memegang bahu Raina dan menarik nafas sebelum mengatakan sesuatu.
"Ibu meminta bertemu denganmu. Dia mengungkapkan penyesalannya atas perbuatan Nita yang mengatakan bahwa kau dan Roy ada hubungan. Mungkin sebuah makan malam keluarga. Namun, aku mengatakan akan melakukan itu kalau kita sudah siap."
Raina menelan Salivanya, tenggorokannya terasa kering seketika. Tidak mengatakan apapun. Dia lalu meraih susu hamil rasa strawberry meminumnya habis.
"Seperti gajah saja. Itu karena aku hanya makan, tidur saja tidak melakukan apapun. Air yang aku minum langsung saja di serap seperti spons dan membuat kakiku bertambah besar," ujar Raina menekuk wajahnya.
"Apakah sakit? Bagaimana jika aku ambil air hangat untuk merendamnya."
"Jangan lakukan itu, udara sedang dingin. Aku hanya ingin berbaring untuk mengurangi rasa pegalnya."
"Kalau begitu kita ke kamar?"
"Tidak mau, aku masih mau menonton film ini." Raina mengambil Snack kentang miliknya. Lalu memakan. Adry langsung merebut Snack itu dari tangan Raina.
"Adry, aku ingin makan itu," katanya merajuk.
"Kau harus mengurangi garam. Bagaimana jika kue manis."
__ADS_1
"Tidak bobot tubuhku bertambah aku harus mengurangi konsumsi karbohidrat."
"Kalau begitu kismis, kurma atau buah?"
"Sepertinya salad buah yang kau buat kemarin lezat."
Adry lalu mengingat bagaimana Raina ingin dibuatkan salad buah olehnya. Wanita itu berada di depannya untuk memberikan instruksi dan Adry melakukan semua yang Raina katakan. Dapur menjadi berantakan karena ulahnya dan akhirnya pelayan panggilan yang membereskan kekacauan itu.
"Bisakah keinginanmu di pending besok saja?"
"Kalau memang tidak mampu jangan menawarkan sesuatu. Anakmu ini sepertinya pandai menahan lapar hingga esok," dengus Raina. Adry meringis. Dia tidak akan mungkin membiarkan anak dalam perut Raina kelaparan. Ayah seperti apa dirinya ini, jika itu sampai terjadi?
"Okey, kita ke dapur sekarang dan aku akan membuatkan apa yang kau inginkan."
"Aku akan menunggu di sini saja. Aku tidak mau menjejakkan kaki di lantai. Dingin."
"Lalu?"
"Kau sudah belajar kemarin tentu masih tahu cara membuatnya. Jika tidak mengerti, cari di video tutorial cara membuat salad buah. Sebetulnya, aku juga ingin makan mie instan yang pedas dengan telor setengah matang diatasnya tetapi aku yakin kau tidak akan memperbolehkan aku memakan itu."
Adry mencoba untuk tersenyum lebar. Dalam hatinya dia ingin mengumpat ketika Raina meminta mie instan tetapi itu adalah permintaan anaknya dan dia tidak bisa menolak.
"Sekali ini saja, besok tidak!"
"Ya, sekarang saja, besok tidak janji. Aku harap kau jangan jadi ayah yang keras pada calon anakmu," ucap Raina tanpa rasa bersalah.
Adry mendengus kesal dan mengepalkan tangannya keras. Dia sangat gemas pada istrinya ini. Ingin dia mengurung wanita itu dikamar sambil enak-enak dari pada membayangkan wanita itu makan mie instan.
"Ayo cepat sana," usir Raina menunjuk ke arah dapur. "Anakmu sangat kelaparan saat ini."
"Sesuai perintahmu My Lady, aku akan memasakkan mie terlebih dahulu baru saladnya."
"Kalau begitu, sana." Wajah Raina terlihat tidak sabar.
__ADS_1
Adry membalikkan tubuh dan berjalan ke arah dapur. Apa yang akan dikatakan para bawahannya jika melihat atasan mereka dimarahi sang istri tercinta hanya karena masalah dapur? Wibawanya akan turun dan hancur.