
Setelah meninggalkan kamar Janeta, Carl kembali lagi ke kamar Roy. Namun, di sana dia melihat Roy sedang ditunggu oleh seorang wanita yang sedari tadi bersama anaknya. Siapa wanita itu?
Carl hendak menyapa namun diurungkan. Dia memilih untuk pergi ke hotel. Dia lalu berbicara dengan seorang pria pribumi, orang yang ditunjuk oleh Adry untuk menemani Ayahnya walau Carl sendiri sudah ada assisten yang mengikutinya setiap saat.
"Siapa namamu?" tanya Carl.
"Fahri, saya adalah salah seorang pelayan di pulau milik Pak Adry hanya saja kali ini saya diperintahkan untuk mengikuti dan membantu Tuan selama berada di sini."
"Okey, kalau begitu antarkan saya ke hotel saya ingin beristirahat setelah menempuh perjalanan belasan jam."
"Baik, Tuan."
Fahri lalu menunjukkan mobil yang akan mereka gunakan. Dua puluh menit kemudian mereka telah sampai di hotel yang akan dijadikan tempat istirahat.
"Ini kamar Tuan Adry dan keluarganya. Sedangkan itu kamar Tuan," kata Fahri, menunjuk pada kamar di sebelahnya.
Carl mulai mengetuk pintu kamar Adry dan membukanya karena tidak di kunci. Suara anak kecil terdengar keras. Di sana dia melihat Leon yang sedang berlari kecil dikejar oleh Rere.
"Kaka... kembalikan permen Rere," teriak Rere pada Leon.
"Cium dulu Kaka kalau mau permennya?" ujar Leon.
"Tidak mau... ." Leon terus berlari tidak melihat Carl ada di depannya. Dia menabrak dada bidang Kakek yang masih tegap dan tampan itu.
"Hati-hati," ujar Carl. Rere menghentikan langkahnya mengejar Leon. Dia langsung berlari ke kamar.
"Ibu... ada orang asing...," seru Rere di dala. kamar yang masih terdengar oleh Carl membuat pria tua itu tersenyum geli. Dia mengusap kepala Leon.
"Sepertinya kau senang sekali bermain bersama adik kecilmu itu." Leon menganggukkan kepala.
"Ayah," panggil Adry yang keluar dari kamar dengan menggendong Rere.
"Aku kira siapa? Tadi katanya Kapten Fredy mau datang kemari untuk membuat laporan yang terjadi di pulau."
__ADS_1
"Pihak berwajib?"
"Ya," kata Adry mengatupkan bibir rapat. "Ayah sudah makan atau belum? Kalau belum kita makan bersama saja di sini."
"Belum."
"Kebetulan kita mau makan bersama, Raina sudah menyiapkan semuanya. Hanya saja dia masih di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya." Adry melangkah menuju meja makan panjang yang ada dalam satu ruangan itu.
"Ayah," panggil Raina yang baru keluar dari kamar.
"Aku mengundang Ayah untuk ikut makan bersama."
"Aku akan senang jika Ayah ikut bergabung bersama kami. Mari Yah," kata Raina mengajak mertuanya untuk duduk di kursi makan.
Rere duduk di apit oleh Raina dan Adry sedangkan Leon duduk bersebelahan dengan Carl, mereka saling berhadapan.
"Leon ingin makan cah kangkung sama ayam goreng. Katanya dia rindu makanan ini," ungkap Raina. "Ehm, Ayah suka atau tidak? Kalau Ayah ingin makan yang lain bisa kupesankan."
"Ini saja tidak apa-apa, hanya saja aku tidak terbiasa makan dengan nasi tetapi tidak mengapa. Aku akan makan ayamnya."
Mereka lalu makan dalam kehangatan.
"Leon, ayamnya lagi," Raina memberikan potongan ayam pada Leon.
"Minumnya lagi, Nak? Biar Ibu ambilkan."
"Ini sayur kangkungnya, enak lho diberi taburan teri Medan."
"Jangan terlalu banyak makan sambalnya nanti perutnya sakit."
"Leon, ini... bla... bla...," semua melirik ke arah Raina yang begitu perhatian pada Leon. Seolah dia ingin membayar semua waktu yang telah hilang bersamanya.
"Ini saja masih ada, Bu," tolak Leon tersenyum. "Aku rindu sekali dengan perhatian, Ibu." Netra Jamrud itu merebak. Raina mengulurkan tangan mengusap kepala Leon.
__ADS_1
"Aku juga rindu makan bersamamu," ucap Raina. Suasana haru jelas sekali terlihat. Adry dan Carl pun ikut tersentuh.
"Besok kita makan ikan asin dan sayur asam," pinta Leon.
"Kita akan cari restoran dengan menu itu," ucap Raina.
"Adry, Ayah akan ke kamar sebelah. Nanti kau datang, ada yang ingin ayah katakan padamu penting," kata Carl. Adry dan Raina saling menatap.
"Baik, Ayah."
***
Satu jam kemudian, Adry dan Carl berada di dalam satu ruangan saling berhadapan. Carl memegang sloki berisi sampanye.
"Jadi Roy adalah adik kandung hanya berbeda Ibu? Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Adry dia dan Raina mulai memikirkan hal ini tetapi tidak berani untuk bertanya karena tidak terlalu faham dengan masalah ini.
"Ayah bukan orang sesuci itu yang hanya setia pada satu wanita. Ayah pernah bermain dengan beberapa wanita di belakang ibumu. Hanya bermain saja tidak lebih. Hingga suatu ketika Ayah bertemu kembali dengan ibu Roy. Dia mengatakan jika sedang hamil anakku. Ayah tidak serta merta percaya dan menolaknya. Akhirnya, wanita itu menikah dengan pria lain."
"Setelah selang lama belasan tahun lamanya. Kami di pertemukan lagi. Ayah melihat Roy bersama ibunya di mall. Ayah penasaran dan menghampiri. Wanita itu menolak jika Roy adalah anak Ayah dan terlihat marah kala itu." Carl menghela nafas.
"Ayah merasa tidak tenang. Ayah lalu meminta detektif untuk mencari tahu tentang Roy dan akhirnya Ayah, hingga semua bukti mengarahkan ayah jika Roy adalah anak kandung Ayah. Hati nurani Ayah terus berbicara untuk mendekati Roy lewat ayah tirinya. Kami menjadi rekan bisnis dekat. Baik Ayah tiri Roy dan ibumu tidak tahu tentang hal ini. Hingga ibumu mencium segalanya. Dia mencari tahu kebenaran semuanya. Lalu dia marah pada Ayah. Dia meluapkan semua perasaan kebenciannya dengan menghancurkan bisnis keluarga Roy lewat jalur belakang, hingga mereka merugi besar."
"Ayah terkejut. Ayah lalu merasa bersalah lalu menawarkan diri untuk membantu mereka dengan memberikan pinjaman. Namun, rupanya Ayah tiri Roy memanfaatkan situasi ini setelah tahu Roy adalah anak biologis Ayah," kata Carl.
"Bukankah kata Ayah, dia tidak tahu?" tanya Adry.
"Ibumu yang mengatakannya. Dia melabrak ibu Roy mengatakan bahwa dia dan Ayah masih punya hubungan lebih. Padahal tidak." Adry mengangguk dan menghembuskan nafas berat. Membayangkan betapa rumitnya kehidupan Ayah dulu, sama rumitnya dengan dia.
"Ayah tiri Roy akan memberikan Roy jika Ayah memberikan mereka sejumlah uang. Sebanyak lima belas juta dolar saat itu. Ayah lalu memberikannya dan mengatakan jika itu pinjaman pada semua orang tetapi aslinya tidak. Itu bayaran agar mereka melepaskan Roy. Ayah lalu membawa Roy ke rumah. Ibumu menolak Roy dengan sejuta alasan dan ayah faham bagaimana sakit hatinya dia. Dia meminta cerai waktu itu."
"Lalu bagaimana akhirnya Ibu menerima Roy?"
"Dua kakekmu dari pihak Ayah dan ibu turun tangan. Akhirnya, disepakati jika Roy akan bersama ayah tetapi hanya sebagai anak angkat dan pewaris utama keluarga adalah kau."
__ADS_1
"Aku faham kenapa ibu sangat membenci dengan Raina, karena ibu mengingat kejadian dulu. Dia membenci wanita yang merusak kebahagiaan rumah tangga wanita lain. Dia juga mengira jika Raina itu sama dengan Ibu Roy yang hanya menginginkan uang Ayah saja," celetuk Adry.
"Mungkin saja. Kita hanya menebak tetapi tidak tahu dengan pasti seperti apa hati seseorang."