
Seperti janjinya. Adry pulang cepat hari ini. Hanya pergi untuk rapat dan bertemu dengan salah satu klien lalu lekas pulang ke rumah.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Adry begitu keluar dari mobil.
"Dia sedang menonton TV di kamarnya," jawab Frans.
"Bersama dengan Rere?" ujar Adry masuk ke rumah.
"Tidak, Nyonya sendiri di kamarnya."
"Lalu dimana putri kecilku itu. Biasanya dia menjemput Ayahnya yang baru pulang bekerja."
"Rere... Rere.... Ayah pulang ...." Panggil Adry.
"Tuan, Rere sedang tidur siang."
"Tidur? Manis sekali," kata Adry berjalan ke arah lift hendak ke lantai dua.
__ADS_1
"Dia tidur di kamar Nyonya Besar." Pintu lift hendak tertutup tapi Adry mencegahnya.
"Ibu... kau tidak salah bicara kan?" tanya Adry tidak percaya. Namun, tatapan Frans menjawab semua. Dengan cepat Adry melangkahkan kaki ke kamar Janeta.
Dia membuka pintu kamar dan terkejut melihat Rere yang sedang berbaring dengan tenang di samping Janeta. Sedangkan wanita tua itu, membaca sebuah majalah di tangannya.
"Kau sudah pulang," tanya Janeta santai.
Adry nampak tidak senang dengan yang terjadi. Dia mengira jika Janeta pasti mempunyai rencana licik lainnya. Mungkin dia ingin merebut hatinya lagi lalu membuat Raina menderita. Dia tidak boleh dengan mudah mempercayai apa yang ada di depannya kali ini.
"Jangan kau kira dengan melakukan hal seperti ini akan membuatku lupa siapa dirimu. Kau tetap ibuku tetapi kau wanita berbahaya bagi keluargaku jadi jauhi Raina dan anak-anakku."
Janeta ingin mengucapkan sesuatu namun tertahan karena Adry sudah pergi dari kamar itu. Frans yang melihat hanya bisa menarik nafas panjang. Keluarga ini benar-benar rumit dan sulit untuk dimengerti. Yang terlihat mudah untuk didekati itu Nyonya Raina namun dia sulit dimengerti karena memakai bahasa yang digunakan berbeda dengannya. Satu lagi bahasa Inggrisnya juga sangat buruk. Batin Frans.
Raina faham dengan apa yang dia katakan namun dia tidak tahu dengan apa yang Raina inginkan. Sehingga harus punya telepati agar bisa membaca keinginan majikannya itu.
Adry langsung membawa Rere ke kamarnya. Raina yang melihat Adry datang hendak bangun namun Adry menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kau tetap berbaring saja." Adry meletakkan Rere di sebelah Raina.
"Kau tahu tidak aku menemukan Rere tidur bersama Ibu?" ujar Adry melepaskan jas dan menarik dasi yang melingkar di lehernya.
"Aku tahu itu, tadi Frans memberitahuku," jawab Raina santai memakan Snack kentang ditangannya.
"Kau memperbolehkan itu?"
"Bukankah itu bagus. Ibu berarti peduli dengannya." Adry gemas dengan sikap istrinya yang selalu menganggap mudah setiap masalah.
"Apa kau tidak takut jika Ibu akan berbuat hal tidak baik dengan keluarga kita?"
"Sepertinya tidak mungkin terjadi. Mungkin Ibu sudah sadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Dia ingin memperbaiki semuanya. Kau jangan berprasangka buruk terlebih dahulu!" ujar Raina.
"Aku berprasangka buruk? Aku hanya menjaga untuk sebuah kemungkinan buruk yang akan terjadi. Aku tidak mau dibohongi lagi oleh wanita itu. Dia bahkan hampir saja membunuh Roy yang selama ini berbuat baik untuknya. Jadi untuk kau, aku rasa kemungkinannya sangat kecil bahkan tidak ada. Ibu seperti tidak pernah menyesali tindakannya. Dia hanya bisa menyalahkan orang yang ada di sekitarnya."
"Kita memang harus waspada tetapi kita juga harus menerima perubahan dari ibu dengan baik, Sayangku," debat Raina lembut.
__ADS_1