Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Sukar di tebak


__ADS_3

Hana membalikan tubuhnya. Tangannya menyentuh dada Roy. Mengusap lembut dada pria itu.


"Jangan menyiksaku Hana. Aku tidak ingin lepas kendali."


Hana tertawa. Dia lalu bangkit. "Aku akan tidur dengan Ayu saja kalau begitu."


Roy meraih pinggang Hana dan membaringkannya diatas tempat tidur lalu naik ke atas tubuh Hana mengungkungnya.


Roy meneguk dalam-dalam salivanya. Matanya beradu pandang degan mata Hana. Seketika dia telan ketegangan dan menganalisis apa yang ada didiri wanita itu sehingga nampak seksi dan menggiurkan.


Kecantikan Hana bukan dari kosmetik mahal atau tangan ahli bedah. Hana terlihat begitu tenang, menenangkan serta menghanyutkan nya dalam hasrat yang menggebu. Yang ingin dilakukan Roy hanya menyatukan keringat mereka dan mengulang kembali setiap momen bergairah dari pertemuan awal mereka.


"Hana aku takut, aku melakukan sesuatu yang salah jika kita terus melanjutkan ini," ucap Roy.


"Jika kau tidak melanjutkannya aku tidak tahu harus melakukan apa pada hubungan kita selanjutnya. Apakah aku harus pergi atau tetap tinggal bersamamu?"


"Kenapa kau harus pergi?"


"Karena kau bukan milikku."


"Aku tidak mengerti?"


"Dirimu masih tertahan oleh cinta mendiang istrimu, sedangkan aku terkungkung dari rasa takut ketika berada di dekatmu."


"Hana...."


"Aku ingat dirimu menggumamkan nama Karina ketika melakukannya denganku dulu. Jadi aku hanya ingin tahu, kau melihatku seperti Karina atau tidak. Kau tahu, aku begitu takut dengan kenyataan itu dan takut dengan rasa itu sekarang."


Roy menyatukan dahi mereka. "Tidak Hana, Karina memang pernah menjadi bagian diriku tapi kau ... kau adalah segalanya kini."


"Nyatanya, barang mendiang istrimu masih ada di kamar ini, kau belum mau melepaskannya dari ingatanmu," sesal Hana.


Roy tersenyum, lalu turun dari ranjang dan mengajak Hana untuk ikut dengannya ke ruang ganti dimana sebagian besar barang Karina di simpan.


"Kau lihat setiap harinya aku mengganti satu persatu dengan barang milikmu. Apakah kau tidak menyadarinya?"


"Coba kau lihat lemari pakaian itu, apakah masih ada baju Karina di dalamnya?"


Hana menggeleng.


"Kau lihat lemari kaca itu, hanya dua tas lagi milik Karina yang masih tersisa. Aku sudah membelikannya dua lagi yang baru untukmu sebagai oleh-oleh." Roy lalu mengambil kopernya dan mengeluarkan dua kotak tas dengan merk branded.


"Tapi tas yang lain juga belum pernah kupakai," kata Hana terkejut.

__ADS_1


"Kau bisa menyimpannya, suatu saat pasti dipakai."


"Bukalah," pinta Roy. Hana membukanya. Lalu terperangah dengan harga dolar yang tercantum di dalamnya.


"Kau menghabiskan banyak uang untuk ini."


"Kau menghabiskan masa mudamu demi untuk membesarkan anak-anak ku, itu tidak seberapa dengan pengorbananmu."


"Mereka juga anakku. Itu sudah jadi kewajibanku."


"Tapi kau merelakan semuanya demi mereka. Cita-cita, masa depan juga kehilangan keluargamu. Tidak semua wanita mau melakukannya."


Untuk pertama kalinya Hana memeluk pinggang Roy. Pria itu mengusap punggung Hana dengan lembut.


"Aku memang tidak bisa melupakan Karina begitu saja, jadi ini simbol bagaimana aku memasukkan mu dalam hatiku. Dengan mengeluarkan pelan-pelan kenanganku bersama Karina. Dari awal aku tidak berniat membuatmu menjadi Karina. Kau adalah kau, Hana."


"Kau mengejutkan, aku bahkan tidak menyadarinya. Pikirku kau selalu memberi hadiah setiap hari sebagai modus, ingin mengambil hatiku saja. Nyatanya, pelan-pelan kau mengganti semua dengan milikku." Hana berjinjit lalu mencium pipi Roy.


Roy tersenyum, dia mengusap pipinya. Ini pertama kali Hana melakukannya dengan manis.


"Aku memang ingin mengambil hatimu dan aku punya cara sendiri untuk melakukannya. Yang kurang hanya satu, foto pernikahan kita di kamar ini."


Roy menatap lekat Hana.


Hana mengalungkan tangannya di leher Roy. "Aku mau tapi dengan syarat."


"Apa itu... jangan katakan kau ingin aku mencukur jenggot dan rambutku," tebak Roy.


"Humm, kau selalu bisa menebak isi hatiku."


"Tetapi kau yang harus melakukannya."


"Baiklah, tapi jika potongannya jelek kau jangan menyesal."


"Mana berani aku mencela hasil karya calon istriku."


Roy lalu menggendong Hana ke luar ruangan itu. Dia meletakkan Hana di atas tempat tidur.


Dorongan hasrat itu jauh lebih besar dari kendali diri mereka berdua. Roy bahkan tidak menyadari ketika tangannya bergerak meluncur ke sela-sela rambut Hana. Dengan pelan dia menyatukan bibir mereka dan bibir Hana terbuka menanggapi tuntutan mulutnya.


Bibir Hana lembut dan manis, aroma serta rasa wanita itu menyelimuti dirinya menenggelamkan indera nya hingga pikiran rasional terlempar dari otaknya oleh dorongan sen***l yang timbul.


Hana mengerang putus asa, lengannya melingkari leher Roy, tubuhnya bergetar sewaktu dia melengkungkan tubuh menyiratkan undangan gairah, respon tidak terkendali yang merupakan ajakan terang-terangan untuk keintiman yang lebih lanjut.

__ADS_1


Dalam cengkraman gairah yang nyaris menyiksa Roy menangkupkan tangan posesif ke pinggul Hana, mengangkatnya dan meletakkannya di atas pangkuan pria itu. Hana menggeliat dan gemetar ketika bibir Roy menyentuh kulit lehernya. Gerakan wanita itu yang terang-terangan membuat semangat Roy bertambah.


"Hana kau memiliki tubuh paling fantastis," puji Roy ketika menarik gaun satin tipis dari tubuh Hana.


Dia melihat bekas jahitan di perutnya. Menyentuhnya dengan pelan. "Pasti sangat sakit?"


"Sakit tetapi tidak sesakit seperti yang kau pikirkan. Setiap wanita yang punya anak pernah merasakan bagaimana itu tetapi mereka tidak kapok untuk hamil lagi."


Roy dan Hana tertawa. " Sekarang aku terlalu tua untuk punya anak kecil lagi."


"Jadi cukup Ayu dan Bagus saja?"


"Jika kau tidak keberatan memberikan satu lagi untukku dengan senang hati aku akan menerimanya."


"Kita belum menikah?"


"Kalau begitu kita akan hubungi keluargaku untuk membuat rencana pernikahan kita. Memprosesnya dulu tidak masalah kan?"


Roy memeluk Hana erat. "Hana aku menyayangimu."


"Hanya sayang?" ucap Hana kecewa.


"Kau ingin apa?"


"Katakan kau mencintaiku!"


"Jika aku mengatakannya apakah kau akan menjawab sama sepertiku?"


Ada binar kebahagiaan dimata Hana yang tidak bisa dia tutupi. Tangan Roy mulai membuka laci nakas. Dia mengeluarkan kotak merah yang di dalamnya berisikan sepasang cincin berlian.


"Aku mencintaimu, Hana. Maukah kau menjadi istriku, menemaniku hingga kita menua bersama?"


"Aku tidak tahu perasaan apa ini tetapi aku senang bila bersamamu dan aku merasa hampa jika kau tidak ada. Dadaku berdebar keras jika disampingmu. Apakah ini cinta? Karena aku tidak pernah jatuh cinta jadi aku tidak tahu apa ini namanya."


Roy lalu memasukkan cincin ke jari panjang dan langsing milik Hana begitu pula dengan Hana melakukan hal serupa.


"Kau selalu penuh kejutan. Hebatnya kita bertunangan dengan keadaan tanpa busana seperti ini."


"Itulah aku dan kau harus terbiasa. Aku tipe pria yang sukar ditebak."


"Hana, apakah kita akan melanjutkannya?"


*

__ADS_1


Nah lho pembacanya kesel dengarnya kok belum terus...


__ADS_2