Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Cinta Sejati


__ADS_3

"Aku bisa memahaminya." Adry menyetujui perkataan Raina. Membuat wanita itu ingin memeluknya tetapi baru saja dia bergerak maju bekas luka sayatan itu terasa nyeri. Raina mendesis. Membuat Adry khawatir dan drama pun terjadi. Adry memanggil Suster untuk mengecek dan melihat kondisi istrinya apakah baik-baik saja dan lukanya itu diminta untuk di cek juga apakah bermasalah atau tidak.


***


Sedangkan ditempat lain Nita sedang menangis sedih sendiri sembari menatap hasil laboratorium dan juga foto hasil Rontgen tubuhnya.


Dia telah didiagnosa menderita kanker rahim stadium tiga. Kesempatan untuk hidupnya sangat kecil sehingga dia tidak ingin membuat akhir hidupnya menderita dengan semua program perawatan yang ada.


Dia ingin hidup damai tanpa dibayangi oleh masalah serius. Dia telah mengajukan surat cerai pada Adry serta keluar dari rumah keluarga Quandt.


Dia tidak ingin kembali bersama Roy karena tidak ingin dikasihani. Ya dia menolak ajakan pria itu untuk kembali karena sudah tahu masalah ini lama. Nita malu harus kembali dalam keadaan kurang seperti mengharap belas kasihan pria itu saja.


Tadinya dia berharap Adry masih mau menerimanya dan mereka bisa hidup damai. Dia bisa merasakan punya suami sampai akhir hayat walau bukan suami yang sesungguhnya dan dia juga bisa merasakan mempunyai seorang anak.


Nita merahasiakan penyakitnya dari siapapun. Dia tidak ingin orang datang karena merasa kasihan padanya.


Nita duduk di kursi panjang di balkon luar apartemennya. Rasa dingin mulai menyentuh kulitnya yang tinggal kulit saja. Dia menggigil hendak bangkit masuk ke dalam rumah tetapi seseorang menyelimutinya dari belakang.


Nita menoleh. Terkejut ternyata Roy ada di sini.


"Ba-bagaimana kau tahu dan bagaimana caramu bisa masuk kemari?'' Roy duduk di sampingnya lalu matanya tertuju pada kertas yang ada di depannya Nita hendak mengambil kertas itu tetapi Roy lebih cepat darinya. Matanya membelalak lebar membaca hasil itu.

__ADS_1


Dia menatap ke arah Nita dengan tidak percaya, wajahnya memucat. Sedangkan Mata Nita merebak, menatap ke arah Roy. Dia menangis sesenggukan.


Roy lalu memeluk erat Nita. "Kenapa kau diam saja?"


Nita tidak menjawab hanya menangis di dada Roy saja. Untuk apa dia jawab. Dia merasa tidak ada orang yang akan bersimpati padanya. Dia telah melakukan banyak kesalahan dan dia pantas mendapatkan hukuman berat dari Tuhan ini.


Mereka hanya mengeluarkan perasaan hatinya lewat pelukan itu. Tidak ada kalimat yang keluar dari keduanya. Sepertinya kediaman itu sudah menjawab semuanya.


Setelah lelah menangis Roy memberi Nita air putih.


"Aku ingin tidur," ucap Nita lemah.


"Biar aku temani," kata Roy.


"Tidak akan pernah lagi," kata Roy tegas.


"Apakah kau tidak lelah mengganggu hidupku terus menerus?" tanya Nita.


"Apakah kau tidak lelah berpura-pura baik-baik saja padahal jiwa dan fisikmu sakit?" Nita terdiam tidak dapat mengatakan apapun. Dia berjalan melewati Roy namun sesampainya di tengah ruangan Nita merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Dia menunduk kedua tangannya memegang erat perut bagian bawah.


Roy lalu mendekati wanita itu.

__ADS_1


"Sebaiknya kita ke rumah sakit,'' katanya mengangkat dan menggendong Nita.


"Tidak, bawa saja aku ke kamar. Aku akan minum obat biasanya setelah itu rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya."


"Kau itu sangat mengesalkan," ucap Roy sambil membawa Nita ke kamarnya. Dia meletakkan wanita itu dengan pelan ke tempat tidur. Seperti meletakkan benda yang mudah rapuh. Satu tangannya menahan kepala Nita dan tangan lainnya menata bantal wanita itu.


Nita meringkuk menahan rasa sakit di perutnya. Dia mendesis pelan sembari mengembuskan nafas keras.


"Mana obatnya?" tanya Roy. Nita menunjukkan ke arah laci nakas. Dengan cepat Roy membuka laci itu dan menemukan tiga macam obat yang berbeda. Dia lalu membuka botol berisi satu obat dan dua lainnya dengan bungkus strip.


Dia membuka pembungkus obat itu dan mulai mengambilnya satu persatu memberikannya di tangan Nita.


"Ini minumnya," kata Roy menyerahkan gelas berisi air mineral.


Nita meminumnya lalu kembali berbaring dengan posisi seperti semula. Roy lalu ikut berbaring dan memeluk Nita erat.


"Jangan menangis sendiri karena ada aku disini dan bagilah sakitmu denganku," kata Roy penuh perasaan. Nita tidak kuasa menahan rasa sedih bercampur penyesalan. Pria ini adalah pria yang telah dia campakkan kini malah berkeinginan untuk menjadi tempatnya membagi sedih dan luka.


"Kenapa Roy?" tanya Nita lirih.


"Kau tahu jawabannya. Aku tidak punya siapapun yang bisa kucintai selain dirimu. Kau datang mengenalkanku pada cinta dan rasa sakitnya."

__ADS_1


"Kau pergi membuat luka bagiku yang teramat dalam tapi sukar bagiku untuk merelakanku pergi bersama pria lain walau itu adalah orang yang telah menganggapku sebagai saudaranya. Aku sudah berusaha untuk membencimu tetapi semakin aku melakukannya semakin aku yakin jika kau adalah cinta sejatiku."


"Kata orang cinta tidak harus memiliki, cinta sejati adalah bahagia bila melihat orang yang dikasihi tersenyum walau tidak harus bersama. Aku melakukan hal itu dan merasa bahagia jika kau pun bahagia. Aku juga merasakan sakit ketika kau dikecewakan. Ingin aku menculikmu dan membawamu lari dari masalah yang membelitmu. Tetapi ambisimu yang membuat langkahku terhenti. Aku menyesal telah rela menyerahkanmu pada Adry."


__ADS_2