
"Tapi ... ." Raina tidak bisa hanya duduk diam menunggu bayi ini lahir. Dia melakukan semuanya sendirian.
"Tidak ada tapi," potong Dokter. "Aku rasa kau tidak mengerti kondisimu saat ini. Kalau kondisimu memburuk maka bisa menyebabkan kematian. Preeclampsia adalah salah satu penyebab ibu hamil meninggal hal itu bisa juga membuat anak lahir dengan cacat. Ini serius dan kalian harus saling membantu agar semua berjalan dengan baik agar kondisi si ibu tidak memburuk.''
Wajah Adry memucat, begitu pula dengan Raina. Cukup Leon yang pernah merasakan sakit parah, dia tidak ingin anak keduanya juga akan lahir dalam keadaan cacat atau bermasalah.
"Saya jamin istri saya tidak akan melakukan apapun selain makan atau beristirahat, kalau perlu dia tidak akan turun dari tempat tidurnya."
"Itu bagus, anda sebagai suaminya harus mendukung penuh." Adry menganggukkan kepalanya. "Seminggu lagi harap kembali untuk melakukan pemeriksaan rutin. Ini diperlukan agar kita bisa memastikan kondisi ibu dan anak sehat dan baik-baik saja."
"Siap Dokter," mereka lantas berjabat tangan setelah dokter memberi resep obat untuk diambil di apotik.
"Tunggu satu lagi, jika kondisi istrimu tidak baik segera ke rumah sakit. Ada gejala lain yang patut untuk diwaspadai seperti sakit kepala yang memburuk."
"Baik Dokter saya akan mengawasinya penuh."
Mereka berdua lalu keluar dari ruang pemeriksaan itu. Adry menyelipkan tangannya di antara jari Raina dan meremasnya pelan.
"Jangan cemas semua akan baik-baik saja," ucapnya menenangkan Raina.
Tenang? Dia ingin berteriak dan menangis keras. Hidupnya berantakan dan hancur gara-gara pria ini dan kini anak keduanya pun akan jadi korban jika dia tidak berhati-hati. Apakah tidak ada takdir yang bisa membawanya ke jalan bahagia? Tuhan terllau baik dan sayang sehingga membuat kisah hidupnya selalu dibuat rumit dan sulit. Ingin dia merutuk tetapi cukup tahu diri bahwa menjadi seorang hamba itu harus berserah diri pada sang Kuasa.
"Kau tunggu di sini biar aku yang mengantri untuk menebus obat," ujar pria itu lalu menyerahkan bungkusan makanan yang dibawa tadi dan menyerahkan sekotak susu hamil.
"Kau minum susumu dulu, makan ini jika lapar dan bosan. Sepertinya antriannya cukup banyak."
__ADS_1
Raina menerimanya tanpa menatap ke arah Adry. Pria itu lantas pergi untuk menyerahkan resep ke apotik.
Haruskah dia percaya pada perkataan dokter itu yang membawa ketakutan tersendiri padanya. Dia tidak bisa hanya berdiam diri menunggu bayi ini lahir. Dia membutuhkan banyak uang untuk biaya persalinan dan setelahnya. Pikiran itu membuatnya makin stress saja hingga tidak sempat untuk sekedar memikirkan bagaimana keadaan Leon saat ini.
Adry kembali lagi dan duduk di sebelah Raina. Dia mengambil handphone di saku celana dan mulai menghubungi seseorang.
"Urus semua masalah proyek itu dengan baik dan suruh orang untuk menyewa sebuah villa di Bogor. Tidak aku tidak akan menggunakan itu, kau sewa saja villa yang dekat dengan rumah sakit atau klinik bersalin."
Raina mengangkat kedua alisnya ke atas. Apa-apaan ini? pikirnya.
"Gantikan aku dan minta Sofia untuk mengumpulkan dan menyelesaikan setiap hal yang membutuhkan tanda tanganku. Aku akan ke kantor beberapa hari lagi. Jika ada yang bertanya katakan aku sedang pergi ke Amerika untuk menyelesaikan sebuah kontrak kerja."
Adry lalu mematikan panggilan itu. Raina menatapnya dengan lekat.
"Apa itu?" tanya Raina.
"Kau ingin membunuhku?" ujar Raina sinis.
"Kau butuh seseorang untuk menjalani ini semua, aku mohon mengertilah. Ini bukan hanya untukmu juga bayimu. Untuk keselamatan kalian. Atau kau mau memberikan aku sebuah opsi yang lain yang bisa membuatku tenang untuk meninggalkanmu!"
Bibir Raina terkatup rapat. "Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dan ini juga...." Hati Raina perih untuk langsung mengatakan ini bukan anak Adry.
"Kau sudah menjelaskan itu padaku berkali-kali. Namun, faktanya jika itu bukan anakku maka itu adalah anak Roy, dia juga saudaraku berarti keponakanku jadi aku berhak untuk menyelamatkannya. Aku akan membuatmu ikut denganku walau harus mengikat dan menculikmu."
"Sudah kukatakan jika dia bukan anakmu, untuk apa kau bersusah payah untuk menyelamatkannya. Kembali saja pada keluargamu dan urus Leon dengan baik." Hati Raina perih untuk mengatakannya.
__ADS_1
Adry menutup matanya dan mengepalkan tangannya. Dia meredakan emosinya yang telah naik ke ubun-ubun.
"Perkara siapapun anak itu, aku tidak masalah. Yang terpenting adalah kau dan anak ini selamat. Kita akan langsung pergi ke Bogor setelah mengambil obat dan barang-barangmu."
"Jika aku tahu dimana Roy aku akan membawanya kemari untuk mempertanggungjawabkan semuanya jika itu memang anaknya. Sayangnya, dia tidak ada dan aku harap kau tidak lupa jika statusmu masih istriku sah."
Raina memeluk perutnya sendiri. Bagaimana jika Adry tahu jika ini adalah anaknya? Apakah akan diambil lagi oleh keluarga Quandt seperti halnya Leon? Pikiran ini membuatnya semakin pusing saja. Dia lalu memijat keningnya.
Adry melihat itu. Dia lalu merengkuh bahu Raina dan memaksa wanita itu untuk meletakkan kepalanya di atas paha pria itu. Dengan pelan Adry memijat kepala Raina.
"Kau membutuhkanku Raina."
"Aku sangat membutuhkan mu sebelum masalah itu terjadi tetapi tidak kini." Dada Raina terasa sesak ketika mengatakannya. Rasa rindu untuk dimanja kembali hadir dalam jiwanya. Tubuhnya selalu menikmati sentuhan pria itu dan membuatnya tenang. Raina memejamkan matanya, merasakan kenyamanan yang tidak bisa dia elak terasa dalam hati.
Raina memeluk perutnya dan terdiam. Mereka larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing.
Nama Raina mulai di sebut di pengeras suara. Adry memanggil Raina di telinganya membuat tubuh wanita itu meremang.
"Namamu sudah dipanggil aku harus mengambil obatmu." Raina lalu bangkit dan duduk dengan tegak, dengan wajah yang memerah. Wanita itu menunduk untuk mengatasi gejolak perasaan yang timbul dan mengganggu jiwanya.
Adry berdiri dan berjalan pergi. Raina sendiri menatap pria itu sembari menghabiskan susunya yang tinggal sedikit. Lalu membuang kotak itu ke dalam tempat sampah. Dia kembali lagi untuk duduk dan mulai melamun.
"Seseorang akan lebih kuat ketika ditimpa banyak masalah." ucapnya lirih. "Bahkan masalah yang seperti ingin membunuhku berkali-kali."
Raina mendesah bersandar di tembok. Mengusap perutnya yang besar.
__ADS_1
"Kau tahu Nak, ibumu ini sangat menyayangimu dan akan melakukan apapun untukmu. Jadi kau harus bertahan di tengah situasi yang pelik ini walau ayahmu sendiri meragukan dirimu. Satu yang pasti, aku akan selalu ada untukmu, sampai kapan pun." ucapnya lirih seraya menunduk melihat ke arah perutnya. Dia ingin anaknya tahu jika ibu mereka adalah ibu yang tangguh.