Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Membawa Kenangan


__ADS_3

Setelah berdebat cukup alot dengan Janeta dan membujuknya akhirnya Janeta menyetujui saran Roy untuk membebaskan Raina dengan syarat wanita itu harus membuat surat pernyataan bahwa menantunya mengakui kejahatan yang dilakukan kepadanya. Dia juga harus menyerahkan Leon pada keluarga Quandt sepenuhnya.


Jeneta lalu memanggil pengacaranya untuk mengurus masalah ini.


"Ingat Adry tidak boleh tahu sampai masalah ini selesai. Jika tidak perjanjian ini batal."


"Akan kuingat semua perintah Anda, Nyonya," jawab Roy. Ini adalah hari terakhir dia bekerja bersama keluarga ini. Dia muak melakukan kejahatan ini.


"Adry harus yakin jika Raina pelakunya. Satu lagi, buat dia menyingkir sejauh-jauhnya dari keluarga Quandt. Aku berjanji jika aku melihatnya lagi, bukan penjara saja yang akan jadi tempat singgahnya tetapi akan kukirim ke neraka dengan paket khusus," ungkap Janeta.


Roy menghela nafas panjang. Dia menunduk memberi hormat lalu pergi dari ruangan itu untuk mengurus semuanya dan memanggil pengacara untuk mengurus masalah ini semuanya dengan cepat dan kilat. Uang bukan masalah bagi mereka.


Kantor polisi.


Pengacara itu membawa surat tawaran kerja sama dan di serahkan ke depan Raina.


"Kau tanda tangani ini dulu baru, kami akan mencabut laporannya."


"Mencabut? Kalian pandai sekali padahal kalian yang telah menjebakku," ujar Raina kesal.


"Tapi semua bukti itu tertuju padamu. Mau tidak mau kau harus menyetujuinya."


"Aku lupa seperti apa liciknya kalian. Kalian membuatku bersalah lalu memanfaatkannya untuk kepentingan kalian."


"Keputusan ada di depanmu. Kalau pun kau tidak mau Leon tetap akan di tangan kami karena kau berada di penjara. Kau hanya harus membuat surat permintaan maaf dan mengakui kesalahanmu dan menyerahkan Leon pada kami!" ujar pengacara Janeta.


Roy yang berada di belakang pengacar itu mengedipkan matanya.


"Mengakui kesalahan yang tidak kulakukan! Itu menyesakkan dadaku," ungkap Raina.


"Demi kebaikan Anda Nyonya," ujar pria itu lagi.

__ADS_1


"Apa Adrian tahu tentang hal ini?" tanya Raina pada Roy.


"Tidak ini hanya kesepakatan antara kau dan Nyonya besar."


"Apakah surat ini akan diberikan ke Adry?" tanya Raina dengan sedih, matanya sudah nampak berair. Roy terdiam tetapi wajahnya yang melihat ke arah lain mengatakan bahwa itu akan terjadi.


"Jadi Adry dan Leon akan tahu jika aku adalah seorang kriminal yang mencoba membunuh ibu serta nenek mereka?" suara Raina terdengar parau dan tersengal-sengal.


"Kita sudah membicarakannya Raina ini demi kebaikanmu, ingat kebaikanmu dan semuanya."


Raina mengusap air matanya.


"Mana penanya, biar aku menulis apa yang kau inginkan."


Dengan ini saya menulis permintaan maaf pada Nyonya Janeta Quandt yang notabene adalah mertua saya. Saya telah melakukan kekerasan padanya yang menyebabkan terlukanya dia, walau sebenarnya aku tidak ingin itu terjadi.


Saya juga menyerahkan hak asuh atas Leon pada suami saya Adryan Carl Quandt. Saya harap dia mau mengurusnya dengan baik sepeninggal saya.


Raina lalu menambahkan kata-kata itu di kertas putih. Air matanya sempat menetes membasahi kertas dan membuat tinta di sekitarnya kabur. Namun, masih terlihat jelas tulisannya.


"Maaf, haruskah saya ulangi lagi," ujar Raina dengan dada sesak.


"Sudah tidak perlu jika kering nanti akan muncul lagi. Ini semua sudah cukup. Nyonya Janeta pasti akan tenang setelah ini." Pengacara itu lalu meletakkan surat itu di dalam tas.


"Aku akan mencabut laporan bersama dengan Roy. Setelah itu pergilah yang jauh dari keluarga itu jangan sampai Nyonya Janeta melihat keberadaanmu lagi."


Raina menunduk. Pikirannya kini telah kacau. Dia merasa telah kehilangan semuanya, suami dan anak. Ingin rasanya dia mati saat ini juga namun ada kehidupan lain yang butuh dukungannya saat ini.


"Tunggu sebentar di sini aku akan mengurus kau keluar dari ruang tahanan," ucap Roy. Raina menganggukkan kepalanya.


Beberapa jam kemudian akhirnya proses itu selesai dengan cepat. Entah bagaimana caranya Raina tidak tahu. Begitu mudah orang kaya memanipulasi hukum. Roy benar dia hanya akan kalah jika melawan mereka saat ini.

__ADS_1


Seseorang datang mendekat ke arah Roy. "Tuan Adry datang," bisik pria itu.


"Raina kita harus pergi sekarang," ucap Adry lalu membawa Raina dengan memegang lengannya keluar lewat pintu belakang.


"Ada apa ini!" ucap Raina kesal ketika mereka telah masuk ke dalam mobil.


"Tidak apa-apa hanya saja Nita datang," bohong Roy agar Raina tidak memberontak. Rencananya bisa berantakan jika Adry dan Raina bertemu. Mereka akan kembali lagi dan masalah tidak akan pernah usai.


"Aku ingin ke rumah mengambil beberapa barang milikku," ujar Raina.


"Aku hanya ingin mengambil baju Leon saja agar bisa menjadi teman dukaku dan obat rasa rinduku padanya."


"Baiklah aku akan mengantarmu tetapi cepat karena Adry mungkin saja juga langsung ke rumah." Roy mulai menancap gas meninggalkan kantor polisi itu. Dia sempat melihat Adry yang berada di dalam kantor polisi.


Raina juga melihatnya. "Selamat tinggal, Sayang," ucapnya. Dia pasrah sudah pada takdir. Biarlah dia dianggap bersalah suatu hari kebenaran pasti akan muncul. Namun, orang kecil memang selalu dikorbankan.


Mereka akhirnya sampai ke rumah Raina. Dia mulai masuk ke dalam. Beberapa tetangganya mulai mengintip dari jendela rumah. Raina tetap bersikap cuek saja. Dia lalu pergi ke kamarnya mengambil sesuatu yang penting untuknya. Cincin berlian yang Adry pernah berikan pertama kalinya. Cincin itu Adry berikan lagi setelah mereka baikan. Raina terkejut dan dia bahagia melihatnya.


Cincin itu dia letakkan kembali ke kalung di lehernya. Kemudian, dia mengambil kartu berwarna hitam miliknya yang diberi oleh Adry. Dia tidak mungkin akan mengambil uang Roy dan sebisa mungkin tidak akan mengambil uang dari Adry. Dia lalu mengambil tasnya dan uang tunai simpanan di dalam tumpukan baju yang dia punya. Ini bisa untuk hidupnya beberapa bulan ke depan, batin Raina.


"Raina ayo cepat," panggil Roy. Raina lalu mengambil asal beberapa bajunya dan baju Adry serta ke kamar Leon dengan cepat mengambil baju Leon dan foto yang ada di atas nakas. Foto dia, Adry dan Leon sewaktu di Jerman.


Matanya mulai basah. Untuk terakhir kali dia menyapu pandangannya ke ruangan itu. Menarik nafas panjang dan berjalan keluar dari rumah itu. Selamat tinggal semuanya. Batin Raina sesak.


Roy lalu membawa masuk Raina dengan cepat.


"Adry keluar dari kantor polisi setelah tahu bahwa kau telah keluar. Kata anak buahmu dia mengendarai mobil dengan cepat," ucap Roy segera menancap gas pergi dari tempat itu.


"Aku tahu kau wanita baik yang kuat pasti bisa melalui ini dengan baik." Roy menepuk bahu Raina. Wanita itu menganggukkan kepalanya sembari mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


***

__ADS_1


Like, vote dan komentarnya yah...


__ADS_2