Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Semua Semu dan Palsu


__ADS_3

"Sayang," Adry mengetuk pintu kamar Raina. Raina lalu mencuci wajahnya dan mengeringkan dengan handuk baru dua keluar dari kamar mandi.


Adry mengamati Raina, "Kau menangis?" tanya Adry menatap mata Raina yang sembab dan memerah.


"Tidak, mataku hanya kemasukan debu tadi." Raina mengusap matanya.


"Kau tidak berbohong?" tanya Adry. Raina menggelengkan kepala dan memaksa bibirnya untuk tersenyum.


"Aku ingin berbicara dengan Ibu bersamamu," ajak Adry.


"Dimana Leon?"


"Dia bersama Nita, aku mohon kau mau mengerti. Nita terlihat sangat menyayangi Leon, dia pasti akan senang jika kau mengijinkannya dekat dengan Leon."


"Aku...."


"Leon itu anakmu pasti dia akan lebih mencintaimu, jadi jangan khawatir jika dia akan lebih menyukai Nita. Aku tahu baginya, kau adalah hidupnya.


"Lalu apa aku bagimu," tanya Raina.


"Kau separuh nafasku," kata Adry.


"Separuh lagi untuk Nita," kata Raina.


"Separuh lagi untuk Leon," jawab Adry.


"Lalu Nita?" tanya Raina terkejut.


"Dia telah menemaniku selama ini, dia itu berharga untukku, aku sangat menyayanginya, tetapi aku mencintaimu. Sulit untuk menjelaskan. Kalian semua berada di hatiku. Namun satu hal yang kusadari kini jika kenyataannya aku tidak bisa hidup tanpa kalian."


"Bagaimana jika aku tiba-tiba hilang dari hidupmu?"


"Jangan pernah lakukan itu karena aku akan mati," jawab Adry.


"Tidak kau akan baik-baik saja, aku yakin itu," kata Raina. Adry memegang kedua bahu Raina memegangnya dengan keras. Menatap kedua matanya tajam.


"Jangan sekali-kali berani-berani pergi dariku, kau tidak tahu seperti apa aku!" ungkap Adry.


"Aku hanya mengatakan "Andai'," ujar Raina.


"Tidak ada andai Raina, kau adalah milikku harus tetap berada di sisiku selamanya. Kau tahu mengapa? Karena aku sudah menyerahkan hatiku padamu, jadi jangan pernah kau coba permainkan aku jika tidak kau akan menemui hal buruk nantinya. Aku jamin itu," ancam Adry.


"Hal buruk apa?"


"Kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan Leon lagi!'' ucap Adry.

__ADS_1


Raina tertawa sinis sembari menahan tangis.


"Kau sangat ... oportunis," ujar Raina.


"Aku selalu mendapatkan apa yang kumau Raina dan aku tidak suka kekalahan."


"Kita lihat satu bulan ini, jika aku bisa bertahan maka aku akan tetap berada di sisimu jika tidak maaf kau sendiri tidak akan bisa mencegahku pergi dari sini. Aku akan pergi dengan Leon."


"Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu," kata Adry.


"Kata siapa? Aku memang diam bukan berarti aku lemah. Buktinya sampai sekarang aku masih bisa membesarkan Leon tanpa bantuanmu, jika kau tidak datang pun Leon masih akan tetap hidup karena ibunya ada di sisi. Jadi jangan coba untuk mengancamku. Aku tidak suka ditekan atau hidup dalam tekanan."


"Kenapa kau tiba-tiba berubah?"


"Karena aku sudah tahu sebagian dan sebagian lainnya aku masih meraba." Raina lalu berjakan keluar dari kamar itu dan berhenti ketika membuka pintu. "Tetaplah hidup dengan kepalsuan hingga kau sadar kau sudah kehilangan semuanya."


Adry mulai berpikir apa maksud Raina. Orang tuanya menerima keberadaan wanita itu dan Leon, Nita juga terlihat biasa saja. Apa dia cemburu melihat Leon dekat dengan Nita?


Mungkin dia harus sabar terhadap sifat sensitif Raina. Pria itu lantas mengikuti Raina. Dia teringat akan tujuannya ke kamar ini untuk mengajak Raina bertemu dengan ibunya.


Adry mengejar Raina dan memegang tangannya.


"Ayo kita temui Ibu?"


"Ayo kau akan tahu," ujar Adry memeluk bahu Raina menuju ke kamar ibunya yang berada di lantai tiga rumah itu. Mereka naik melalui lift.


Adry mengetuk pintu lalu mengajak Raina masuk.


"Bu," panggil Adry pada Janeta yang sedang duduk dengan tumpukan kertas di depannya.


"Duduklah, Ibu sedang melihat data kegiatan sosial yang akan dilakukan oleh perusahaan kita. Kita akan membagikannya ke beberapa panti asuhan dan panti jompo." Wanita itu lantas melepas kaca mata Prada berbingkai hitam.


Adry mengajak Raina duduk di kursi panjang.


"Ada apa?" tanya Janeta sopan sangat berbeda sekali dengan apa yang dia dengar tadi di bawah. Mungkin jika dia menceritakan hal ini pada Adry, pria itu tidak menerimanya.


"Aku ingin Ibu membantu Raina untuk bisa menjadi wanita seperti Ibu, yang energik, anggun dan mempunyai cita rasa fashion yang tinggi."


Janeta tersenyum manis pada Raina. "Dengan senang hati Nak, aku akan membuatnya menjadi wanita yang dengan tampilan yang sempurna seperti Nita contohnya."


Bagi Raina kata seperti Nita itu seperti belati yang menikam dada Raina.


"Nita dan Raina berbeda, Bu," ujar Adry mengerti perasaan Raina.


"Bukan membandingkan hanya saja. Aku akan membuatnya menjadi wanita yang luar biasa yang bisa membuat semua orang menatap kagum padanya."

__ADS_1


"Terima kasih, Bu," ucap Raina tersenyum kecut.


"Tentu saja Nak, kau itu telah memberikan hidup baru bagi keluarga kami. Maka dari itu aku sangat berterima kasih. Bagiku kau seperti putriku sama seperti Nita," ujar Janeta.


Manis sekali kata-katanya hal itu membuat perut Raina mulas. Melawan orang ini harus dengan taktik bukan dengan emosi. Salah-salah dia yang akan disalahkan.


"Bu, terima kasih banyak."


"Kau bisa mulai belajar hari ini. Aku akan mengajarimu cara duduk dan makan yang benar."


"Kalau begitu kalian bisa berbicara lebih baik dan saling mengenal. Aku harus pergi bekerja," ucap Adry bangkit. Raina hendak berdiri tetapi Adry mencegahnya.


"Kau tetap di sini saja. Aku bisa pergi sendiri." Adry mencium pucuk kepala Raina.


"Aku titip istriku, Bu," ucap Adry. "Kata Leon jangan buat dia menangis."


Janeta mengangkat alisnya dan tertawa. "Oh, dimana cucu tampanku itu?" tanya Janeta renyah.


"Nita meminta ijin untuk membawanya pergi, Ibu tahu desainer Michael?"


"Desainer baju merk D&D itu?"


Adry menganggukkan kepalanya.


"Dia jatuh cinta pada Leon dan memaksa Nita untuk membawanya ikut serta dalam foto kali ini?"


Janeta menutup mulutnya terkejut.


"Dia anak pembawa keberuntungan, kau beruntung sekali mempunyai anak sepertinya. Nita membawanya pada orang yang tepat."


"Aku beruntung karena bertemu dengan Raina yang melahirkan anak sepertinya." Raina tersenyum kecut.


"Sepertinya masa depan Leon akan cerah," ujar Janeta bangga. Adry menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku berencana untuk segera membuat pesta penyambutan kedatangan pewaris Quandt. Company. Kita akan adakan perayaan besar-besaran di rumah ini. Lama sekali kita tidak mengadakan pesta terakhir kali kapan Ibu lupa."


"Ide yang bagus, Bu, aku setuju," ujar Adry antusias. "Ibu atur saja acaranya. Aku pasti setuju."


"Sudah siang aku harus pergi saat ini juga," Adry lalu keluar ruangan itu.


"Untuk itu, kau harus mulai bersiap Raina."


"*Bersiap untuk tersingkir," batin Janeta tersenyum licik.


"Wellcome to the jungle, kita lihat siapa yang akan menang," pikir Raina dalam hati*.

__ADS_1


__ADS_2