Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Perlawanan


__ADS_3

Pagi hari sekali Raina pergi ke kamar Janeta. Dia sengaja meminta tidak ada pelayan yang membantu wanita itu sama sekali. Bukan tanpa sebab, dia ingin agar keangkuhan Janeta hilang.


Raina mulai pintu dan mendapati wanita itu sedang berjalan di pinggiran tembok memegang besi stainless yang sengaja dipasang di tembok untuk membantunya berjalan. Wajah wanita itu seperti akan menerkam Raina. Namun, kemampuannya tidak ada sehingga hanya bisa mendengus kesal.


"Selamat pagi, Bu. Aku senang kau mulai berlatih menggerakkan kakimu," kata Raina meletakkan baki berisi air hangat yang dicampur madu dan beberapa biskuit. Dia mendekati Janeta untuk membantunya berjalan melewati nakas dan lemari. Tepisan kasar malah yang dia dapatkan dan untungnya dia sudah bersiap untuk itu. Dia mundur satu langkah ke belakang.


"Pergilah, bukankah sudah berkali-kali kau sudah kuusir dari kamar ini mengapa kau tidak mengerti juga?" hardik Janeta.


Raina menghela nafas panjang. Hanya bisa melihat Janeta merambat melalui nakas dan akhirnya sampai di pembaringan.


"Kau yang keras kepala Ibu."


Janeta terkejut, kali ini Raina membalas ucapannya. Dia menatap Raina dengan sinis ketika menantu mudanya itu berjalan ke arah tirai jendela yang panjang lalu menariknya ke samping. Membiarkan sinar matahari menerangi kamar. Lalu dia membuka pintu jendela sehingga hawa dingin dari udara pagi di musim gugur masuk ke dalam. Raina menghirup nafas dalam.


"Sesekali kita juga harus membuka jendela hati kita agar pikiran dan hati kita dingin. Aku mungkin bukan menantu yang Ibu inginkan tetapi aku ingin jadi istri yang baik untuk anakmu. Agar itu terpenuhi aku harus diterima olehmu jadi aku berusaha agar bisa merebut hatimu. Bukan untukku atau berusaha membahagiakanmu tetapi untuk suamiku dan kebahagiaannya."


"Ayah memberikan kendali rumah ini di tanganku. Kau tahu, aku bahagia dengan hal itu. "


"Aku sudah menyangka kau memang ingin menguasai semuanya. Kau dan wanita-wanita miskin itu memang berharap menjadi Cinderella yang datang dan menjadi ratu karena menikahi pangeran kami." Janeta berdecih jijik pada Raina.


Raina tertawa menang kali ini sengaja menjatuhkan mental Janeta. "Hal pertama yang akan kulakukan adalah melarang siapapun untuk membantumu. Orang yang boleh membantumu hanya aku. Kau tidak mau kau harus menerima keputusan ini."


"Akhirnya sifat busukmu satu persatu diperlihatkan. Andai Adry bisa melihatnya."


"Tidak perlu melihat karena aku memang sudah memberitahu hal ini padanya juga pada Ayah dan mereka tidak keberatan. Menghukummu adalah hal yang harus dilakukan agar sifat angkuhmu itu sedikit turun," nada mengejek terdengar dari suara Raina.


Mata Janeta membelalak terkejut namun detik kemudian kepedihan masuk ke dalam hatinya. Dia memang sudah tidak dibutuhkan dirumahnya dan semua orang membencinya. Itu semua karena tikus kecil ini yang seharusnya dia musnahkan dari awal. Kini tikus itu berubah menjadi ular berbisa yang mematikan.

__ADS_1


"Cih .. sampai kapanpun aku tidak akan meminta bantuanmu. Aku tidak sudi. Lebih baik aku mati minum racun saja."


"Aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu karena itu berarti kekalahanku. Kau bisa mati jika sudah menerima kehadiranku dengan baik. Aku bukan Raina dulu yang akan menangis tanpa melakukan sesuatu. Aku Raina yang akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Raina berbisik di dekat telinga Janeta.


"Kau tahu aku belajar dari siapa?" Raina memundurkan wajahnya menatap Janeta tajam. "Kau."


"Tapi aku bukan kau yang akan melakukan cara kejam untuk menjatuhkan lawannya. Aku akan bermain cantik dengan hati dan perasaan. Aku yakin aku akan memenangkan hatimu."


Raina meletakkan satu remote di pangkuan Janeta.


"Ini tombol untuk memanggilku jika kau butuh sesuatu. Aku akan datang. Kau bisa memanggilku dua puluh empat jam. Aku akan selalu siap untukmu.''


"Aku tidak membutuhkannya!" Janeta melempar remote itu ke lantai yang beralaskan karpet tebal sehingga remote tidak pecah.


Raina memungutnya dan meletakkan ke atas nakas.


"Makan pagi akan kuantarkan pukul tuju pagi. Setelah itu pukul sembilan aku akan membawa makanan ringan untukmu. Siangnya pukul 12 baru makan siang dengan menu makanan yang dokter anjurkan. Kau tidak bisa memilih jika ingin cepat sembuh. Jam tiga waktunya minum teh hangat, aku kira kau bisa melakukannya di luar sambil duduk di teras. Makan malam seperti biasa. Aku harap kau ikut ke meja makan tetapi kelihatannya kau masih enggan untuk ke sana dan aku tidak akan memaksamu. "


"Kau tidak akan bisa melakukan itu sendiri, aku tidak yakin."


"Kita lihat saja nanti. Aku akan mengurusnya dengan baik. Jangan menentangku karena aku tidak suka ditentang. Tidak anak-anakku dan tidak juga kau."


"Kita harus bekerja sama agar hidupmu nyaman tapi jika tidak ... kau hanya akan menemukan masalah."


"Sekarang apakah kau ingin mandi atau tidak?" tanya Raina.


"Sekarang aku hanya butuh kau enyah dari hadapanku. Kau itu seperti gas beracun yang membuat nafasku sesak saja." Janeta mengatakannya dengan wajah muak.

__ADS_1


Raina tertawa kecil. "Ini baru awal kau harus terbiasa denganku. Aku juga tidak akan berpura-pura baik padamu."


Raina lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu memutar kenop pintu. Lalu dia menoleh kembali ke arah Janeta.


"Apakah kau ingin makan pagi bersama? Mereka pasti akan senang jika kau mau datang."


"Pergi kau ular!" teriak Janeta kesal. Raina lalu mengedikkan bahu dan keluar.


Dia terkejut ketika melihat Adry ada didepan matanya. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Apakah dia mendengar semuanya jika iya apakah dia akan marah padanya?


Pria itu lantas melipat tangan di dada. Raina tersenyum cerah dan merapikan kerah leher pria itu.


"Kau terlihat tampan dengan baju ini."


"Kenapa kau malah mengurus dia bukannya membantuku bersiap!" tanya Adry kesal.


"Kau sudah besar dan bisa jalan sendiri sedangkan ibu kan, kah tahu seperti apa dia."


"Kau lihat dia tidak menerimamu mengapa kau sangat keras kepala."


"Batu yang keras harus dipecahkan oleh benda yang lebih keras. Aku tidak mau jadi air yang memecahkan batu dengan lambat dan butuh waktu lama jadi aku memakai cara keras untuk melawannya."


"Apa kau akan menyiksa Ibuku?" tanya Adry dengan ekspresi yang sulit untuk dimengerti.


"Sedikit hanya membuat hidupnya yang sulit akan lebih sulit lagi."


Adry memegang dagu dan menganggukkan kepala. "Memang kau bisa berbuat kejam pada orang? Aku ingin melihat bagaimana kau memberi pelajaran pada wanita tua itu."

__ADS_1


Raina memukul lengan Adry keras. "Ish, aku kira kau akan marah padaku."


"Aku bahkan akan marah jika kau tetap bisa diperdaya dan diperlakukan buruk olehnya. Lakukan yang terbaik karena aku tahu kau mampu membuat semua yang menjadi indah."


__ADS_2