
Raina lalu menuju ke kamar Rere. Di sana dia melihat putri kecilnya masih tertidur lelap. Dia sengaja tidak membangunkan putrinya itu.
Dia hendak ke kamar Leon ketika putranya itu sudah keluar mengenakan seragam dan tas yang bertengger di salah satu pundaknya. Putranya ini memang sangat disiplin dalam soal waktu. Mungkin itu sudah turun temurun dari darah keluarga mereka. Adry pun begitu selalu disiplin dalam hal apapun.
"Kau sudah siap, Nak?" sapa Raina memeluk bahu Leon dengan satu tangannya mereka berjalan melewati lorong menuju ke lantai bawah untuk makan pagi.
"Aku sangat semangat hari ini, Bu. Kau tahu mengapa karena ayahku akan mengantarku ke sekolah untuk pertama kali. Aku ingin membuktikan pada teman-temanku jika Ayah ada di dekatku. Selama ini aku mengatakan jika kalian tinggal di negara berbeda dan mereka tidak percaya karena semua rumor jelek yang beredar."
Raina mengusap kepala anaknya. Jauh di dalam hatinya dia merasa nyeri memikirkan apa yang Leon lalui selama dua tahun ke belakang. Dia yakin Leon sangat berat melalui semua itu sendiri tanpa orang yang disayangi dan bisa berbagi perasaan dengannya.
"Untung saja Ayah selalu menghubungiku, jadi aku selalu bisa dibuat tegar dan tenang oleh semua ucapannya," lanjut Leon. Raina mengangkat kedua alisnya.
"Ayah selalu menghubungimu?" tanya Raina lagi tidak percaya. Mengapa dia tidak mengatakan hal itu padanya? Tega sekali. Dia juga ingin berbicara dengan putranya tetapi tidak di beri kesempatan. Ini tidak adil."
Sepanjang perjalanan ke ruang makan Raina menggerutu dalam hati dengan kecurangan Adry. Dia akan meminta penjelasan lebih darinya nanti malam.
Adry sudah duduk di kursi makan dengan ayah mertuanya mereka terlihat berbincang masalah perusahaan. Adry menatap Raina sekilas lalu menyesap kopinya mengernyit lalu melihat cangkir kopi itu.
"Raina apakah kau yang membuat kopi ini? Mengapa rasanya berbeda?" tanya Adry.
"Aku yang membuatnya tetapi mungkin akeena aku terburu-buru jadi aku tidak bisa membuatnya seperti biasa. Jika kau tidak suka aku akan menggantinya." Raina walau sedang marah bagaimana pun tetap akan melayani suaminya dengan baik.
"Tidak perlu, lagi pula ini sudah hampir habis."
"Aku kira ini karena kopinya. Jika di pulau kita. Kita sudah memesannya pada pembuat tradisional penduduk pribumi sana sehingga mereka membuatnya dengan bahan terbaik dan dengan rasa yang original asli karena memakai kayu serta prosesnya yang masih menggunakan cara seperti dulu. Sehingga rasa yang dihasilkan akan berbeda dan terasa lebih segar di lidah."
"Kalau begitu aku akan meminta Hyun untuk mengirimkan kopi itu pada kita. Ayah harus mencobanya. Itu kopi terbaik yang pernah aku minum selama ini."
"Aku percaya, Indonesia itu seperti surga menghasilkan berbagai hal-hal yang menakjubkan. Salah satunya kopi dan teh." Carl setuju dengan perkataan anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ibu, Raina?" tanya Carl.
"Tadi dia masih tidak menerima kehadiranku tetapi aku akan membuatnya terbiasa denganku. Aku harap ayah jangan terpengaruh dengan apa yang akan dia katakan nanti."
"Sudah lama aku terpengaruh olehnya sekarang aku ingin dia terpengaruh olehmu," balik Carl tertawa renyah. Adry dan Raina tertawa kecil menanggapinya.
"Kita tidak bermaksud kejam hanya ingin Ibumu sadar, begitu kan Adry?" ungkap Carl.
"Ya, seperti itulah. Selain menerima Raina, aku juga ingin dia meminta maaf pada Roy. Roy memang tidak mengatakan apapun tetapi dia terlihat sangat kecewa dengan semua yang Ibu katakan dan lakukan ketika menembaknya. Dia seperti orang yang patah hati."
"Memang apa yang ibumu katakan?"
"Dia mengungkapkan semua kebenciannya pada anak malang itu. Padahal kau tahu sendiri Ayah, jika tidak pernah Roy membantah ucapan Ibu maupun Ayah. Dia bahkan selalu mendahulukan kepentingan Ibu dibanding dengan kita." Semua orang terdiam mendengar perkataan Adry. Leon sebenarnya ingin menyela tetapi dia tahu jika anak kecil dilarang berbicara urusan masalah orang dewasa.
Carl hanya bisa menghela nafas panjang. Rasa bersalah sebenarnya masih menggelayut dalam dada. Dia ingin mengatakan pada dunia jika Roy memang anak kandungnya namun dia belum bisa sebelum semua masalah selesai satu persatu terlebih dahulu. Mungkin ketika Roy kembali ke Jerman dan mereka melakukan resepsi pernikahannya dia akan mengatakan kebenaran itu di depan semua orang.
Raina sedang menyendok makanan ke mulutnya ketika merasakan benda yang tersambung dengan remote Janeta bergetar.
"Hati-hati nanti di luar, jadilah anak baik yang membanggakan Ibu, Okey."
Leon mengangguk. Raina mengusap kepala Leon sebelum pergi ke kamar Janeta.
"Ibu pasti akan mengerjai Raina," ujar Adry.
"Aku juga berpikiran sama tetapi kita lihat bagaimana Raina menangani. Jika sudah keterlaluan baru kita maju ke depan."
Adry mengangguk.
Sedangkan Raina langsung menuju ke kamar Janeta.
__ADS_1
"Huh ! Akhirnya kau datang juga. Kau itu seperti siput, lambat sekali jalannya. Semua pelayanku sangat gesit dalam melakukan sesuatu dan kau tidak masuk dalam kualifikasi ku untuk bekerja di sini."
"Sayangnya aku ini menantumu bukan pelayanmu. Jadi status ku berbeda dengan pelayan."
Janeta membuang muka mendengar jawaban Raina.
"Untuk apa Ibu memanggilku?" tangan Raina.
"Aku ingin buang air. Kakiku sangat sakit jika aku melangkah sendiri ke kemar mandi. Selain itu, aku juga ingin mandi. Kau harus membantuku melakukannya."
"Baiklah," ucap Karina. Dia mencoba mengangkat tubuh Janeta yang lebih tinggi dan sedikit besar dibandingkan dengan tubuhnya. Ajaib dia melakukannya dengan mudah. Mungkin karena pengalamannya ketika mengurus Ibu kandungnya dulu.
Raina membantu Janeta berjalan ke kamar mandi lalu mereka berhenti di depan toilet.
Raina lalu membantu Janeta yang kesulitan menurunkan Pampers yang dia gunakan.
"Aku akan keluar sebentar."
Beberapa saat kemudian Raina kembali dengan masker penyaring udara di wajahnya juga sarung tangan karet yang sudah dia gunakan.
Janeta yang tadinya mau mengerjai Raina menjadi terdiam. Dia seperti anak kecil yang dibersihkan dan dimandikan oleh Raina.
"Kau bisa tidak menggosok dengan benar punggungku," bentak Janeta berulah. Raina hanya bisa menghela nafas dia lalu melakukan semua yang Janeta perintahkan.
Setelah itu Janeta selesai mandi. Raina merapikan semua yang ada di sana dan semua kekacauannya. Namun, belum selesai dia memungut baju Janeta untuk diletakkan di keranjang dengan dorongan keras Janeta membuat Raina terjatuh, terpeleset dalam kamar mandi.
"Aww!" Janeta menyeringai sekejap. Lalu wajahnya berpura-pura berubah menjadi cemas.
"Kau kenapa? Maaf, aku tidak sengaja, aku hanya ingin memegang untuk berjalan rupanya kau tidak siap."
__ADS_1
"Aku tahu kau sengaja melakukannya, Bu!"