Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Perhatian


__ADS_3

Raina berjalan keluar dari rumah susun itu ke depan rusun. Dia lalu memilih duduk di pojokan, bawah pohon yang rindang. Dia menatap langit yang masih mendung. Mungkin sebentar lagi akan ada hujan badai.


Raina butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan dirinya. Kedatangan pria itu memukul hati dan perasaannya. Rasa sakit akibat sebuah kebohongan merasuk dalam sanubarinya.


Air matanya hampir tumpah sama seperti awan itu. Berpikir serta bertekad bahwa Adry tidak bisa melukai sama seperti dulu yang akan menghancurkannya untuk kedua kali. Jika sampai dia lakukan maka tidak akan ada yang tersisa.


Bagus bila pria itu meyakini ini adalah anak Roy. Hal itu membuat dirinya aman dan semoga pikiran itu menjadikan Adry pergi jauh dari hidupnya selamanya.


Namun, hidup sendiri bukan pilihan mudah. Dia merindukan anaknya, Leon walau dia tahu Leon lebih baik jika ikut bersama dengan ayahnya. Dia juga butuh seseorang untuk menjaganya dan melindunginya tapi yang jelas bukan Adry karena terbukti beberapa kali terlibat masalah Adry tidak pernah langsung mempercayainya.


Adry tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kejadian itu. Dia pun terlihat sama terkejut. Satu pertanyaan kembali menggema dalam otak Raina yang sudah mulai kusut. Apakah Adry ikut terlibat dalam konspirasi itu atau dia juga ikut dijebak di sana? Raina tidak tahu.


Jika dia ikut, pria itu pasti tidak akan mencarinya dan mencari kebenaran akan semuanya. Keluarganya benar-benar jahat bila melakukannya hanya untuk memisahkannya dengan Adry dan Leon. Dia ingin melawan tetapi sendiri dan tanpa dukungan moril materil hanya akan membawa masalah baru.


Roy benar yang penting menyelamatkan bayi ini saja. Biar mereka mengambil Roy, tetapi mereka tidak bisa mengambil anak kedua ini lagi. Raina mengusap air matanya yang mulai menetes sama seperti rintik hujan yang datang dengan lebat. Raina lantas berjalan kembali ke dalam rusun.


Mungkin pria itu telah keluar dari rusun itu, pikir Raina. Dia butuh istirahat dan makan. Perutnya terasa perih mungkin bayi dalam perut ini meminta makan. Ini sudah waktu makan siang.


Kehilangan uang harian akan menjadi masalah untuknya ke depan, bayangan gajinya akan dipotong menjadi momok menakutkan untuknya apalagi jika Ko Sambo sampai memecatnya. Bagaimana dia akan hidup ke depannya? Tabungannya akan berkurang lagi sedangkan dia harus menyiapkan uang untuk persalinan dan juga uang makan setelah melahirkan.


Pikiran rumit itu membuatnya sedikit frustasi. Adry datang selalu membuat masalah baru baginya.


Raina membuka pintu unit rusunawa miliknya. Tubuhnya ditegakkan begitu melihat Adry yang berdiri menatap dirinya.


"Kenapa kau masih di sini?" ucap Raina dingin.


"Darimana saja kau?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu."


"Tentu saja menjadi urusanku. Kau pergi dalam keadaan kacau dan kini kau basah kuyup seperti itu." Adry memang tampak khawatir sesuatu yang membuat Raina bertambah membencinya karena perhatian itu hanya semu saja.


Raina tertawa kecil. "Mereka yang mendengar akan mengira jika kau memperdulikan ku. Hentikan sandiwaramu dan pergi dari sini. Aku muak melihatmu," ungkap Raina pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Dia dalam kamar dia menghela nafas, menyeka air mata yang tidak bisa dia tahan dan mengambil daster murahan lalu memakainya.


Raina kembali membuka pintu kamar dan berharap Adry sudah pergi. Namun, kembali lagi dia menemukan rasa kecewa. Pria itu malah duduk di lantai yang beralaskan karpet plastik yang usang.


Otaknya berpikir bagaimana mengusir pria itu. Memanggil keamanan mungkin cara yang tepat tetapi pria itu tidak melakukan tindakan kekerasan padanya. Jika hal ini dia lakukan maka hanya akan menjadi perhatian warga lainnya sedangkan Raina bukan tipe orang yang suka dengan kegaduhan.


Raina lalu ke dapur untuk memasak mie instan. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk bisa mendapatkan makanan dengan cepat dan mudah serta murah. Dia pun membuat segelas teh untuk dirinya sendiri.


Adry berdiri di belakangnya dengan pandangan yang nampak miris.


"Aku akan membelikanmu makanan tunggulah sebentar."


"Tidak perlu berpura-pura baik padaku, jika itu hanya untuk menipuku lagi.''


"Semangkuk mie ini lebih baik dari pada makanan yang kau bawa. Itu akan membuatku mual karena membayangkan itu dibeli oleh uang keluarga Quandt. Aku tidak menginginkannya, kalau harus dikembalikan dengan harga yang mahal."


Raina lalu menuangkan mie itu ke mangkuk dan membawanya ke ruangan di sebelahnya. Duduk di lantai dengan kesulitan karena perutnya yang besar. Dia duduk bersandar di dinding dengan meluruskan dua kakinya sedangkan teh itu dia letakkan di sebelahnya.


Raina hendak memakan mie itu namun tangan Adry mencegahnya. Raina bisa melihat mata Adry yang berkaca-kaca. Apakah itu tipuan lain pria itu?


"Berikan aku sedikit waktu untuk membeli makanan yang layak untukmu. Kasihan bayi dalam perutmu dia butuh makanan yang bergizi," ucapnya lirih.


"Jika kau merasa kasihan biarkan aku makan ini. Perutku sangat lapar dan jam makan siang sudah lewat karena kau datang dan menggangguku. Jika aku masih bekerja, aku bisa mendapatkan sepiring nasi tanpa harus diberi olehmu."

__ADS_1


Raina menepis tangan Adry dari mangkuknya dan mulai makan tanpa melihat ke arah Adry. Pria itu lalu duduk bersandar di sebelah Raina.


"Kenapa kau masih di sini?"


"Aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Adry menatap Raina lekat.


"Kau sudah punya kehidupan yang kau inginkan, istri, anak dan harta jadi untuk apa kau pergi mencariku. Leon sudah kau miliki, tidak ada yang kurang lagi. Pergilah kembali ke rumahmu yang nyaman dan jangan ganggu aku."


"Kau masih istriku dan aku berkewajiban untuk menjaga dan melindungimu."


"Istri...!" Raina meneteskan air matanya teringat akan surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Adry.


"Tidak perlu berpura-pura perduli lalu kau membuangku seperti sampah kotor yang tidak berharga tetapi kenyataannya aku memang tidak berharga di matamu. Aku tidak layak untuk bersanding denganmu dan aku sudah sangat, terlalu, bahkan sadar akan hal itu."


"Raina, semua sudah kulakukan untukmu dan kau masih meragukannya kau malah...."


"Akh, sudahlah. Aku lelah dengan perdebatan ini." Raina menghabiskan makannya dan berdiri dengan kesusahan bahkan harus memegang tembok untuk bisa berdiri dengan tegak. Adry ingin sekali membantunya tetapi Raina tidak akan membiarkan itu terjadi.


Wanita itu lantas menaruh bekas makannya di meja dapur dan berjalan pergi ke kamar.


"Mungkin sekarang kau butuh waktu untuk berpikir tenang jadi aku akan meninggalkanmu sekarang. Aku akan kembali besok untuk membawamu ke dokter." Entah anak siapa itu tetapi Adry tidak mungkin membiarkan bayi itu sakit atau kekurangan zat yang dia butuhkan hanya karena Raina tidak bisa mengurus hidupnya sendiri.


"Dokter?"


"Aku yakin kau pasti tidak memeriksakan dirimu ke dokter. Kandunganmu butuh perhatian. Lihatlah keadaanmu ini!"


Raina bahkan lupa kapan terakhir dia memeriksakan kandungannya. Dia merasa enggan untuk mengeluarkan uang untuk hal yang tidak urgent. Lagipula dia tidak punya waktu untuk periksa selain itu dia merasa sehat.

__ADS_1


Raina ingin menyela namun Adry menggelengkan kepalanya. Dia melangkah keluar dari rumah itu.


"Ingat pukul delapan besok, aku akan menjemputmu. Jadi bersiaplah!" Adry lalu membuka pintu dan keluar menutupnya lagi.


__ADS_2