
Satu bulan kemudian semua berlangsung dengan lancar. Hana dan Roy menjadi orang tua yang baik bagi Ayu dan Bagus tetapi hubungan mereka masih berjalan di tempat. Perbedaannya adalah kini Hana sedikit tahu dengan sifat Roy dan kebiasaannya.
Keseharian Hana masih sama. Hanya saja untuk urusan makan Hana yang memasaknya. Terkadang dia memasak untuk semua orang di rumah itu.
Hana juga mengambil les bahasa Jerman agar bisa berbincang dengan mertuanya tanpa kendala.
Sudah jam sembilan malam namun Roy belum pulang. Dia memang keluar negeri tiga hari dan katanya akan pulang malam ini. Sesekali Hana melihat keluar jendela kamar, menengok apakah mobil yang menjemputnya sudah datang atau belum.
Hana melihat penampilan dirinya di cermin. Dia memakai baju tidur satin berwarna hitam. Warna kesukaan Roy. Kulit putihnya terlihat kontras jika mengenakannya. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum hadiah dari Roy. Pria itu yang memilihkannya dan wanginya juga sesuai dengan selera Hana. Lembut dan segar.
Hana akhirnya turun ke bawah. Sebagian lampu sudah dipadamkan, hanya beberapa saja yang masih menyala. Hana dengan tenang menyusuri tangga hingga sampai di ruang tamu.
Jarum jam terus berputar, detik berganti menit dan menit berganti jam, hingga rasa mengantuk menggelayut kelopak mata. Hana akhirnya tertidur di kursi sofa.
Tubuhnya tiba-tiba terasa melayang. Indera penciumannya mulai merasakan bau yang selama ini akrab dengannya dan telah menjadi bagian dari hidupnya kini. Hana membuka mata dan tersenyum. Tangannya dikalungkan di leher besar dan keras milik Roy.
"Kau sudah pulang? Kenapa tidak bangunkan aku?"
"Aku tidak mau menganggu tidurmu," jawab Roy.
"Turunkan aku! Kau pasti lelah setelah melewati perjalanan panjang."
"Lebih lelah jika merindukanmu," rayu Roy.
Hana menaikkan alisnya. "Gombal!" ujarnya. Sedangkan hatinya mengatakan lain. Dia senang dengan kalimat Roy yang merindukannya.
"Apa kau lapar? Jika iya ku hangatkan makanan untukmu."
"Tidak aku sudah makan tadi."
__ADS_1
Hana tidak tahu harus mengatakan apalagi jadi hanya terdiam dalam dekapan Roy. Dia menghirup dalam wangi tubuh pria itu.
"Bagaimana pertemuannya dengan Rama?"
"Semua baik."
"Sayang sekali, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantumu mengatasi trauma itu."
"Tidak ada yang harus kau lakukan ... karena kau sudah melakukan semuanya... dengan baik," ucap Hana terputus-putus. Dia memainkan dua tangannya.
"Lalu kapan kau akan melakukan pertemuan lagi dengannya?"
"Dia mengatakan jika traumaku kembali."
Roy mengatup bibir nya rapat. Dia nampak tidak suka dengan kesembuhan Hana.
"Apakah anak-anak menungguku tadi?" Roy melepaskan jasnya. Hana langsung bangun membantu melepaskan dasi Roy.
"Ya, tapi mereka sudah tidur sekarang." Hana menatap mata manik mata Roy yang berwarna cokelat terang. Sejenak mereka terdiam. Hanya deru nafas dan detak jantung mereka yang terdengar keras.
Tatapan Roy tertuju pada bibir Hana yang penuh dan merah tetapi dia segera memejamkan matanya. Dia tidak ingin keakraban mereka berubah menjadi ketegangan hanya karena hasrat yang selama ini terpendam.
"Apa kau mau mandi, biar aku siapkan!" kata Hana salah tingkah dan gugup. Roy mengangguk. Hana langsung ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Roy.
Roy melepaskan sepatunya dan jam tangan. Sebuah kotak kecil dia keluarkan dari balik jas. Sebuah cincin yang sudah sebulan ini dia bawa pergi kemanapun. Berharap Hana mau menerimanya suatu saat nanti ketika dia memberikannya.
Dia meletakkan cincin itu ke dalam laci nakas. Dia berharap malam ini dia punya keberanian untuk melamar Hana dengan serius.
Langkah kakinya sangat pelan ketika masuk ke dalam kamar mandi, melihat Hana sedang melamun di tepi bak mandi. Dia nampak cantik dengan penampilan apa adanya, tanpa buatan atau kosmetik. Hanya pemerah bibir saja yang membuat bibirnya nampak begitu menggoda.
__ADS_1
Roy duduk di depan Hana dan wanita itu terkejut.
"Ada apa?" Ingin sekali Roy mengusap pipi Hana yang seputih dan sehalus pualam.
"Tidak apa-apa," jawab Hana tersenyum. Dia mematikan keran dan mulai mencampurkan aroma terapi juga sabun ke dalam air.
"Hana."
"Ada apa?" Wanita itu menoleh ke arahnya.
"Tidak jadi." Roy tersenyum kecut. Hana lalu keluar dari kamar mandi dan Roy melihatnya dengan kesal. Dia merasa menjadi pengecut sekarang.
Malam terlihat berbeda. Hana tidak seperti biasanya yang ceria. Dia juga nampak menahan diri. Roy mulai membuka pintu kamar mandi. Hana duduk di atas tempat tidur sambil menonton acara televisi.
Dia nampak lain. Biasanya dia tidak pernah melepaskan jubah tidurnya ketika tidur. Dia akan mengikatnya rapat. Namun kini dia melepaskannya. Sehingga kulit putih bahunya nampak bersinar ketika terkena cahaya dari layar televisi.
Tawanya yang renyah mulai terdengar ketika acara komedi di layar memperlihatkan adegan lucu. Roy mendekat untuk mengambil bantal.
Hana menoleh. "Tidur saja di sini," katanya menepuk sisi samping. "Kau pasti lelah, tubuhmu akan lebih sakit jika tidur di sofa."
"Bagaimana jika kau merasa... ," Roy ragu untuk mengatakannya. "tidak nyaman?"
"Kau selalu pindah ke sini jika tengah malam dan aku sudah terbiasa dengan itu."
Roy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ternyata Hana sudah tahu kebohongannya dan dia tidak marah. Roy mulai menarik karet yang mengucir rambutnya yang panjang lalu meletakkan di atas nakas. Dia kemudian bergabung bersama Hana menonton acara komedi.
Hana terpingkal keras ketika salah satu artis jatuh dan marah.
"Kau lihat," Hana memegang bahu Roy dan menoleh ke arahnya. Roy menatapnya lekat dan memberanikan diri memegang kulit wajah Hana. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Hana.
__ADS_1