Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kacamata Salah


__ADS_3

Janeta bergerak menuju ke Heaven Of Love pada malam hari dengan sebuah kapal Feri untuk wisata. Dia berangkat bersama dengan anak buahnya. Sebagian berada di kapal ini. Sebagian lain sudah bergerak terlebih dahulu membuka jalan.


Keamanan pulau itu tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Mereka bisa menaklukkan beberapa anak buah Adry dengan cepat di dermaga. Janeta lalu turun dari kapal dan di sambut oleh anak buahnya yang seorang manta marinir militer.


"Selamat malam, Bu. Saya hanya memberi informasi jika dermaga sudah kita kuasai, kita hanya perlu maju ke depan saja. Informasi tentang sistem keamanan pulau ini membuat kita mudah untuk masuk ke dalamnya."


"Bagus," ujar Janeta bergerak maju ke depan. Sebuah mobil Jeep menyambut kedatangannya dan dia langsung naik ke atasnya. Mobil milik Heaven of Love itu melaju diantara gelapnya malam. Para penghuninya tidak sadar akan bahaya yang sedang mengancam keberadaan mereka.


Barisan villa di pinggir pantai terlihat indah di tambah lagi dengan bunga-bunga dan pohon yang ditata di sekitarnya. Jika Janeta sedang dalam mode untuk bersenang-senang mungkin akan menikmati pemandangan alam ini.


"Wah pulau ini memang indah seperti namanya. Surga dunia. Sayangnya surga ini akan aku jadikan neraka mereka kini."


"Di mana tempat tinggal putraku yang nakal itu. Lama aku tidak melihatnya," teriak Janeta melirihkan kalimat akhirnya.


"Lima menit lagi, Nyonya."


Tiba-tiba beberapa pegawai mencoba menghadang mobil mereka tetapi anak buah Janeta menodongkan senjata Laras panjang membuat mereka mundur.


"Pak Adry ada penyusup masuk ke dalam pulau ini!" teriak salah seorang pegawai Adry. Adry yang berada di ruangnya terdiam. Dia sudah melihat pergerakan Janeta sedari tadi.


Dia lalu bangkit dan berjalan menuju ke arah rumahnya yang berjarak tidak jauh dari gedung utama. Wajahnya memerah karena marah tetapi mulutnya terkatup rapat. Tidak mengatakan apapun, hanya gestur tubuhnya yang memperlihatkan kecemasan serta kekhawatirannya.


Janeta akhirnya sampai di depan rumah Adry. Dia melepaskan frame yang membingkai matanya. Mengamati sekitar tempat tinggal putranya.

__ADS_1


Janeta mulai menapaki jalan tanah satu persatu. Membayangkan apa yang telah terjadi selama dua tahun ini. Ini tidak adil. Dia yang telah membesarkan anaknya hingga besar harus direbut oleh wanita yang sama sekali dia tidak inginkan kehadirannya.


Buruknya, bukannya sadar dengan apa yang Adry lakukan. Anak itu malah dengan mudah melupakan dirinya dan juga Ayahnya. Apakah pengasuhannya selama ini tidak berbekas di hati anak itu? Seorang pria itu tergantung istrinya dan ini susahnya mempunyai wanita yang menguasai pikiran dan hati anak sehingga berbelok dari orang tua.


Mantan marinir tadi membuka paksa pintu rumah milik Adry di saat yang sama, orang yang di tunggu datang.


"Untuk apa kau datang kemari lagi? Apakah kau kau ingin merusak kebahagiaan dengan anak dan istriku?" seru Adry mendekat.


"Adry, apakah salah jika seorang Ibu menjenguk anaknya?" tanya Janeta mendekat hendak memeluk anaknya. Namun, bukannya membalas pelukan ibunya, Adry malah menghindar dengan memundurkan langkahnya?


"Apakah kau pantas dipanggil sebagai Ibu setelah apa yang kau lakukan?" balik Adry.


"Seburuk apapun aku di matamu, itu kulakukan karena ingin melakukan yang terbaik untukmu. Kau harus tahu jika aku sangat mencintaimu anakku. Tidak ada yang lebih penting dari dirimu," ujar Janeta.


"Dia itu ular, Sayang, tidakkah kau sadar itu. Dia datang dan merusak semuanya. Merusak hubunganmu dengan orang tua, kerabat dan teman-temanmu. Kau membela satu orang lalu kau menjadi memusuhi semua orang," terang Janeta berusaha agar anaknya mengerti dengan pola pikirnya.


Memahami sudut pandang orang lain pada Raina yang tiba-tiba membuat Adry meninggalkan semua kehidupannya. Mereka mengatakan jika Adry bodoh karena membela satu wanita padahal dia bisa mendapatkan seribu wanita yang bisa menghangatkan tempat tidurnya dan pastinya jauh lebih dari cantik.


Janeta sendiri tidak habis pikir, mengapa orang yang berkelas seperti Adry mau tinggal di tempat rumah sekecil ini. Dia bahkan memilih menjadi pegawai seseorang daripada mengurus perusahaan miliknya sendiri. Padahal dia sudah kuliah tinggi dan selalu menjadi juara kelas namun otaknya menjadi tumpul setelah bertemu dengan Raina.


Apakah wanita itu adalah penyihir yang memantrai putranya agar patuh dan menurut padanya. Mata anaknya benar-benar sudah buta dan dia harus segera mencuci otak anaknya sebelum semua terlambat. Waktu dua tahun tidak cukup bagi Adry untuk tahu pentingnya harta dan status tinggi dalam hidup. Hal yang akan orang lain perjuangankan mati-matian malah dihindari oleh Adry karena wanita biasa itu.


Wajah Adry mengeras mendengar celotehan yang dikatakan oleh Ibunya. Dia tidak habis pikir waktu dua tahun ini digunakan apa oleh Janeta sehingga tidak bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Apalagi percaya dengan Tuhan? Ibunya tidak percaya dengan apapun kecuali dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Ular itu mengigit dan berbisa, Bu. Raina bahkan tidak bisa menyakiti siapapun lalu kenapa bisa Ibu sebut dia sebagai ular?"


"Dia tidak menggigit hanya menjerat mangsanya hingga tidak bisa melakukan apapun, melilit dengan tubuhnya dan mati secara perlahan," balas Janeta dengan santai.


"Ibu...," Adry menggelengkan kepalanya. "Aku bahkan malu memanggilmu dengan sebutan Ibu," ucap Adry dengan penuh rasa jijik dan kebencian.


"Yang kau sebut ular itu adalah malaikat yang membawa cahaya terang dan penuh kedamaian dalam hidupku. Dia tidak menjeratku malah aku yang ingin dia memasukkan diriku dalam pelukannya."


"Jika Ibu hanya ingin membuat kerusuhan di pulau ini sebaiknya Ibu pulang sekarang!" istri Adry.


"Aku hanya ingin datang dan melihatmu karena aku merindukanmu. Aku ingin kita kembali bersama seperti dulu," ujar Janeta.


"Kau tidak ingin membawaku masuk ke dalam rumahmu, Nak dan menemui ular itu?"


"Tidak, jika sikap Ibu masih begini saja!" ujar Adry tegas.


Janeta menghela nafasnya.


"Aku kemari hanya ingin kau pulang. Ayahmu sangat membutuhkan dirimu sekarang."


"Tidak tanpa Raina. Tidak jika Ibu hanya akan berusaha memisahkan kami dan sekali lagi tidak jika pandangan Ibu terhadap Raina belum berubah!" ujar Adry.


"Well, aku beri waktu kau untuk berpikir selama satu Minggu ini. Jangan buru-buru membuat keputusan yang akan kau sesali seumur hidupmu. Raina hanya bagian dari hidupmu. Aku bisa menyingkirkan dia darimu, pikiran serta hatimu selamanya."

__ADS_1


"Pergilah selamanya, Bu, karena sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Ibu dekat dengan kami lagi," usir Adry.


__ADS_2