
Hana duduk melihat-lihat isi majalah sedangkan Roy kembali bekerja. Sesekali dia melirik ke arah Hana yang terdiam. Pikirannya jadi kacau seketika, tidak ada satupun huruf atau angka yang melekat dalam otaknya.
Roy mendes***. Dia lalu menutup berkasnya. Berjalan ke arah Hana.
"Majalahmu terbalik!" ucap Roy. Berdiri di depannya. Tinggi dan besar hingga sinar matahari yang masuk lewat tembok kaca di belakang Roy terhalang oleh tubuhnya.
Hana yang duduk di depannya sejenak terpana. Lalu melihat ke majalah terbalik yang tidak di perhatiannya dari tadi. Dia menaikkan dua alisnya lalu meletakkan buku itu diatas meja.
Hana bersikap seolah tidak ada yang salah, duduk dengan anggun seperti layaknya wanita dari kalangan atas. Roy duduk di dekatnya.
"Pergilah, aku ingin sendiri."
"Kau benci sendirian kau senang bergaul dengan siapapun. Kau bahkan sudah mengenal beberapa pelayan di dalam rumah dan berbicara dengan mereka."
"Kau memataiku?"
"Rumah itu punya CCTV di seluruh sudut rumah."
Hana menghela nafas keras. "Ck... apa kau tidak ada pekerjaan lain selain mengawasiku?"
"Baru saja tidak ku awasi kau sudah menghilang." Hana melirik ke arah Roy dngan sinis.
"Itu karena kau orang paling menyebalkan yang kutemui seumur hidupku! Kau selalu berjalan ke depan tanpa pernah melihat bagaimana keadaan orang disampingmu!" gerutu Hana marah. Dia menoleh Roy dan menatapnya tajam. Entahlah, kenapa kali ini dia ingin meluapkan kemarahannya pada Roy yang dia pendam selama ini.
__ADS_1
Kepala yang gelap dan dingin itu tersentak ke belakang. Ketegangan yang berada di pundak Roy terjadi karena dia yakin Hana tidak hanya marah pada apa yang telah terjadi baru saja.
Tetapi alih-alih dia membalas perkataan Hana. Roy malah menatap balik wanita itu dan tersenyum sedih.
"Kau sangat marah padaku, aku tidak bisa menyalahkan mu untuk itu." Roy meraih tangan Hana, menggenggamnya dengan lembut lalu menekuk jarinya yang ramping membentuk kepalan. Tangan Hana memang tidak sehalus tangan wanita yang dia temui. Itu menandakan berapa berat hidup yang dia jalani selama ini. Membesarkan kedua anaknya seorang diri.
"Kau boleh memukulku jika kau mau."
"Itu tidak akan membuat perasaanku lebih baik." Hana menarik tangannya dari genggaman Roy. Membenci dirinya yang merasa gembira bukannya bersikap dingin dan cuek pada pria itu. "Aku akan sangat berterima kasih jika kau berhenti menatapku."
"Memang bagaimana aku menatapmu?"
"Kau mengatur semua ini untuk memperlihatkan kemampuan diplomasi mu untuk membujukku. Membawaku kemari dan memintaku untuk menerimamu."
"Situasi apa?"
"Memohon." Kilatan rasa penyesalan tersirat di mata tajam pria itu. Roy meraih tangan Hana lagi dan menguncinya dalam genggaman.
"Hana, aku tahu aku salah telah menuduhmu dengan tuduhan keji sebelumnya. Aku pun salah, tidak mencari tahu terlebih dahulu sebelum meyakini bahwa wanita itu adalah kau. Andaikata aku mencari kebenarannya mungkin aku bisa tahu jika kau sedang hamil anakku dan mempertanggungjawabkan semuanya. Aku sudah tahu semua nya."
Hana memejamkan mata rapat-rapat. Dibanjiri oleh emosi hingga tidak bisa bernafas.
"Terakhir kita berbicara masalah ini kau menuduhku telah menerima uang itu. Kapan kau tahu masalah ini? Lebih tepatnya kapan dan sejauh mana kau tahu tentang kehidupanku? Kau bahkan telah merencanakan pertemuanku dan ibuku. Jangan katakan itu suatu kebetulan karena tidak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini."
__ADS_1
Garis-garis gelap mempertajam tulang rahang pria itu. Dia membentangkan tangannya, mengabaikan sikap dingin yang biasa Roy perlihatkan. "Yang penting aku percaya padamu bukan?"
Hana langsung berdiri. Dia bisa berpikir jernih jika Roy tidak berada di dekatnya. "Tidak! Kau pasti telah melakukan sesuatu dengan dokter itu?"
Otot-otot bergerak di pipi kecoklatan pria itu. "Ya."
Hana tertawa getir. "Kalian menghipnotisku dan aku mengatakan semuanya? Itu sungguh ironis."
"Maaf tapi kau sendiri yang menceritakannya. Tapi andaikata kau bercerita atau tidak aku sudah mencari tahu kebenarannya lewat orang ku."
"Jika aku menjual diri lalu berhubungan dengan banyak pria lain apakah kau percaya bahwa Ayu dan Bagus adalah anakmu?" Suara Hana terdengar meninggi. Rasa sakit menusuk dada.
"Selain bertanya padaku, apa yang kau dan Dokter Rama lakukan kenapa sekarang perasaanku terasa berbeda?" cecar Hana.
Hana melotot ketika Roy mengangkat satu tangannya untuk tanda perdamaian. Roy berdiri tegap tinggi dan kokoh dengan penampilan yang mengesankan. Mulutnya menegang dan wajahnya yang kotak dan tegas tiba-tiba waspada.
"Kau harus mengerti mengapa aku mempunyai alasan untuk menuduhmu. Kau juga sudah setuju dengan cara Dokter Rama untuk mengatasi trauma berlebihan mu padaku. Dia hanya melakukan semuanya sesuai dengan prosedur yang ada."
"Kau punya uang dan kekuasaan tidak sulit bagimu untuk mencari semua kebenarannya dulu atau sekarang. Bukannya mengorek semua hal yang bersifat pribadi dengan menghipnotisku!"
Hana mengambil tasnya kembali dengan kesal. "Aku memang takut menatapmu tetapi ada hal lain yang lebih kutakutkan untuk menjalin hubungan serius denganmu."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Kau tidak bisa menerimaku karena ada wanita lain dalam bayanganmu. Okey aku tidak boleh cemburu dengan wanita yang telah mati. Namun, kau ingin aku memakai barang almarhumah istrimu. Aku pikir kau ingin membangkitkan dia dalam diriku!"