
Rutinitas pagi terjadi seperti biasanya. Adry sudah mulai menikmati rutunitas barunya ini. Dia pikir hidup tanpa pelayan itu akan sulit ternyata tidak. Hidup terasa lebih tenang karena tidak ada orang lain selain dia dan Raina. Seharusnya Nita belajar seperti Raina.
Wanita itu akan bangun pagi sekali, membersihkan rumah serta memasak baru membangunkan Adry dengan segelas kopi. Semua keperluannya sudah disiapkan Raina bahkan tanpa dia minta.
"Aku buat dua bekal, satu untuk Leon dan satu untukmu. Jika kau tidak mau, akan kumasukkan ke lemari pendingin saja."
Adry melihat kotak bekal itu. "Bawa saja ke mobil," katanya dingin lalu pergi berjalan terlebih dahulu keluar dari apartemen.
Raina yang sudah terbiasa dengan gaya Adry yang terkesan tidak peduli hanya mengedikkan bahu kecil lalu membawa dua bekal itu serta satu tas lain berisi baju Leon yang sudah bersih. Adry bahkan tidak menawarkan diri untuk membantunya.
"Ish, sombong sekali. Tidak berperasaan," rutuk Raina pelan. Dia lalu membawa semua itu dan pergi ke lift.
Satu jam kemudian mereka telah berada di rumah sakit. Hari ini jadwal Leon untuk melalukan cek kesehatan secara lengkap. Jadi Raina akan menemani semua proses itu. Adry sendiri harus pergi ke kantor jadi tidak bisa menemani Leon hari ini.
"Om, akan pergi?" tanya Leon enggan untuk ditinggalkan.
"Nanti sore, Om akan datang untuk menemuimu, kita bisa bermain lagi," jawab Adry.
"Besok, Om, akan menunggu aku melakukan operasi kan?" Leon berharap besar Adry akan menjawab 'Ya'.
"Tentu saja," jawab Adry mengelus kepala Leon lembut. Dia lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Ini sudah siang, Om, harus segera ke kantor," ujar Adry.
Dia lalu mencium dahi Leon. "Semua akan baik-baik saja, kau jangan takut." Adry mengusap punggung Leon lembut. Leon menganggukkan kepalanya.
Adry hendak melangkah pergi tetapi melihat Raina yang sedang menatap ke arahnya. Dia mendekati dan mencium dahi wanita itu.
"Jaga Leon dengan baik, jangan kecentilan!" bisiknya membuat Raina menyipitkan mata dan mendengus kesal.
"Bukan kecentilan, hanya sedia payung sebelum hujan badai," lirihnya membuat Adry menatapnya tajam tetapi Raina dengan santai mendekat ke arah Leon, mengabaikan Adry.
Adry lalu meninggalkan ruangan itu dengan tangan yang dikepal keras. Raina hanya menahan tawanya saja.
"Om, Adry baik ya, Bu," kata Leon.
"Ya. Namun, Dokter Ryan juga baik," ujar Raina ingin tahu tentang perasaan Leon.
"Om Adry berbeda, dia terlihat tulus. Dokter Ryan juga baik hanya saja rasanya berbeda."
"Oh, ya," kata Raina.
__ADS_1
"Om, Adry seperti seorang ayah idaman. Tampan, gagah dan sayang pada anak kecil."
Raina tersenyum kecut. Andaikata Leon tahu jika Adry adalah ayah kandungnya dia pasti sangat bahagia. Namun, jika waktu perpisahan itu tiba, Raina paham pasti hancur perasaan Leon nantinya. Untuk itu dia tidak mau menceritakan semuanya. Mungkin tetap ada sakit yang dia rasakan, tetapi tidak sesakit jika anak itu tahu kebenarannya.
Seharian ini, Leon harus melalui beberapa pemeriksaan keseluruhan kondisi tubuhnya. Raina pergi mengantarnya ke beberapa ruangan berbeda. Setelahnya anak itu lelah dan tertidur pulas. Entah apa yang obat yang diberikan oleh dokter rumah sakit sehingga Leon sering kali tertidur pulas.
Jonathan, Raina ingin menemuinya bukan karena masih ada perasaan untuk pria itu. Namun, ingin sekedar berbagi cerita dengan pria itu. Kembali lagi, larangan Adry membuat dia berpikir dua kali untuk pergi mencari pria itu.
Sebuah ketukan menghentikan lamunannya. Kalau perawat atau dokter biasanya akan langsung masuk, tetapi ini sepertinya bukan. Mungkin orang suruhan Adry yang datang.
Raina membuka pintu ruang perawatan itu. Matanya membola ketika melihat siapa yang datang.
"Raina?!" pekik Kaira keras. Jonathan lalu memukul tangan wanita itu.
"Ini rumah sakit, bukan taman bermain."
"Sorry," ujarnya. Raina tertawa tanpa suara. Dia lalu memeluk Kaira.
"Katanya anakmu sedang sakit, dan berada di sini?"
Raina memberi tahu mereka berdua dengan isyarat matanya yang melihat pada Leon.
"Anakmu sudah besar sekali? Apakah ini alasan kau menghilang dari kami?" tanya Kaira.
Raina tersenyum kecut. Enggan untuk menjawab.
"Tampan sekali, pasti mirip ayahnya." Raina menganggukkan kepalanya.
"Dia mirip sekali dengan suamimu," kata Jonathan. Mendesah. Pantasan jika Raina pergi darinya sepuluh tahun yang lalu. Ternyata dia punya pria yang lebih darinya.
"Raina, nomermu kok enggak aktif?"
"Anu... anu ... itu ... suamiku tidak suka, dia lalu menyitanya," terang Raina agar tidak timbul kesalah pahaman.
"Cemburu? Kalau iya seharusnya dia memberikanmu handphone baru," kata Jonathan.
"Dia belum membelikan karena aku belum memintanya. Aku punya handphone hanya saja belum punya nomer negara ini."
"Kukira suamimu itu tipe pria posesif yang tidak suka jika istrinya didekati pria lain."
Raina melihat ke arah Kaira.
__ADS_1
"Mungkin," jawabnya tidak yakin.
"Oh, ya katanya kau mau menikah?" tanya Raina.
"Untuk itu aku kesini, aku ingin kau datang ke acara pernikahanku, sekalian dengan suamimu
Aku ingin melihat dia seperti apa? Apakah lebih tampan dari putranya ini?"
Raina tersenyum kecut. Tampan, bahkan nyaris sempurna tetapi ini hanya suami sementara saja.
"Seperti anakku," jawab Raina.
"Yes, i see," jawab Kaira.
Baru saja Kaira ingin mengatakan sesuatu lagi tetapi terhenti ketika melihat pria tampan dan gagah ada di depan matanya. Memakai jas rapi dan terlihat berkelas.
"Dia?" Raina lalu melihat ke arah pintu.
"Oh, dia suamiku," kata Raina tetapi dengan nada lirih. Jonathan bisa melihat ada keanehan di sini.
Adry yang baru datang menatap tajam pada Jonathan yang ada di depannya. Lalu, beralih ke arah Kaira yang berdiri untuk menyambutnya. Raina sendiri mendekat ke arah Adry.
Suasana menjadi seram seketika. Raina terlihat gugup dan panik melihat Adry datang.
"Mereka teman-temanku. Kenalkan namanya Kaira teman SMU dan kuliahku dulu," kata Raina. Kaira lalu mengulurkan tangannya.
"Kaira Van Houten," katanya. Adry lalu membalas uluran tangan Kaira.
"Adryan Carl Quandt," kata Adry.
"Wow, kau masuk dalam jajaran keluarga Quandt?" kata Kaira histeris. Siapa yang tidak tahu nama keluarga itu di negara ini. Mereka yang masuk adalah orang-orang terkaya di negara ini bahkan di dunia.
"Kau keren bisa mendapatkan pria sepertinya," bisik Kaira di telinga Raina. Raina sendiri tidak paham dengan kata-kata Kaira. Memang apa masalah dengan namanya. Raina tahu jika Adry adalah seorang pengusaha tetapi tidak tahu seperti apa kehidupan asli pria itu.
Raina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kami kemari untuk mengundang Raina ke acara pernikahanku dengan Sam, calon suamiku. Aku harap kau dan Raina bisa hadir kesana," kata Kaira.
"Mungkin aku sendiri yang akan datang, suamiku sedang disibukkan dengan banyak urusan," kata Raina memandang Adry.
"Kalau begitu aku akan menjemputmu," tawar Jonathan. Seketika air muka Adry berubah drastis menjadi merah padam.
__ADS_1