
Karina langsung memeluk ibunya. Mereka menangis bersamaan. Ibunya lalu melepaskan pelukannya
"Ayahmu... temui dia. Dia sudah menunggumu lama," ucap ibunya. Karina menganggukkan kepala sembari menyeka air matanya.
Karina masuk ke dalam ruang ICU itu setelah memakai pakaian khusus. Nampak, ayahnya terbaring lemah dengan wajah yang pucat nafasnya terdengar berat atau mengi. Kelopak mata pria itu tertutup tetapi nampak ada pergerakan di bawah kulitnya. Titik basah air mata nampak jelas di pelupuk mata yang penuh dengan kerutan.
Karina memiringkan kepalanya menahan agar suara tangisnya tidak keluar. Dia berdiri di samping ayahnya, menatapnya lalu memegang salah satu tangan kurus pria itu. Menciumnya dalam dan menempelkan di pipinya. Air mata membasahi tangan pria itu.
"Ayah," panggil Karina dengan serak dan parau.
Mata pria itu lalu terbuka mendengar suara merdu anak tunggal yang dimiliki olehnya.
"Karina," ucapnya tanpa suara. Karina menganggukkan kepalanya. Ayahnya tersenyum lalu mengusap pipi Karina dan menggelengkan kepala dengan lemah.
"Maafkan Karina karena tidak bisa membantu Ayah. Karina tidak bisa seperti anak lelaki yang bisa melindungi orang tuanya. Karina terlalu lemah untuk melawan dunia demi Ayah sehingga tidak bisa membela ayah dan mengeluarkan ayah atau mungkin membela dari masa sulit. Karina ... hanya putri ayah yang bisanya membuat masalah dan merepotkan Ayah."
Ayah Karina lalu melepaskan alat yang menutupi mulutnya dan berusaha untuk berbicara.
"Tidak, kau putri terbaik Ayah, kau bahkan melakukan apa yang tidak semua anak laki-laki bisa melakukannya. Ayah bangga mempunyai dirimu," kata Ayah Karina terputus-putus.
"Aku sayang, Ayah," ucap Karina memeluk Ayahnya.
"Dengar Karina, waktu Ayah sudah tidak banyak lagi. Ayah kira tidak bisa melihatmu di saat terakhir."
"Ayah jangan berkata begitu, ayah akan sembuh dan bisa melihatku setiap saat. Aku janji setelah ini akan membawa kalian ke tempat aman dan kita bisa tinggal bersama." Tubuh Karina bergetar.
Ayah Karina menggelengkan kepala.
"Dengarkan Ayah, berikan semua aset kita pada pemerintah dan berikan dokumen penting yang berada di loker nomer 4065 di Broadway Stasiun pada KPK setelah ayah meninggal nanti. Itu akan membersihkan nama Ayah. Ayah percaya padamu Sayang, kau bisa menyelesaikan semua masalah yang ayah tinggalkan."
Nafas Ayah Karina mulai terengah-engah dan cepat, suara monitor mulai berdenging keras. Karina hendak memanggil dokter tetapi tangan lemah Ayahnya memegang.
"Sampaikan pada ibumu jika ayah sangat mencintainya."
Tiiiit....
Dokter dan perawat merangsek masuk ke dalam ruangan itu. Tubuh Karina di tarik keluar dari ruangan oleh seseorang. Dia melihat bagaimana tubuh lemah ayahnya sedang di beri kejutan listrik berkali-kali hingga akhirnya Dokter menggelengkan kepala dan semua pandangan wanita itu gelap seketika.
Karina mulai membuka matanya dan melihat langit-langit kamarnya. Lalu pandangannya di sapukan ke sekitar ruangan itu. Menatap selang infus yang terpasang di tangan. Lalu menatap sepasang mata tajam yang menatap ke arahnya.
"Kau sudah sadar?" tanya Roy.
__ADS_1
Kepala terasa berat, Karina menyentuh kening, mencoba mengingat apa yang terakhir kali dia lakukan.
Oh, ya. Ayahnya tadi... apakah itu hanya mimpi semata atau sebuah kenyataan. Karina lalu langsung bangkit dan duduk memandang Roy lalu membuang selimut dan menarik jarum infus yang terpasang di punggung tangannya. Belum sempat dia melakukannya Roy, sudah memeluknya agar tidak melakukan itu.
"Lepaskan aku! Aku ingin bertemu dengan Ayahku... ," seru Karina, meraung dan memberontak.
"Aku akan melepaskanmu tetapi kau tenang terlebih dahulu." Berangsur-angsur Karina menghentikan gerakannya. Menatap Roy dengan penuh luka.
Roy melepaskan pelukannya dan menyingkirkan rambut Raina yang menutupi wajah ke belakang kepala.
"Kau harus tenang. Relakan kepergian Ayahmu. Saat ini, ibumu orang yang paling membutuhkanmu. Jadi bersikaplah menjadi putrinya yang kuat untuk menemani hari yang hampa karena ditinggal belahan jiwanya."
Mendengar kata-kata Roy membuat hati Raina sadar bahwa bukan hanya dirinya yang terluka karena kejadian ini. Ada ibunya yang sudah lelah lahir dan batin membutuhkan dirinya untuk tempat bersandar.
Karina lalu memeluk tubuh Roy sekedar untuk bersandar, mengurangi beban berat yang menghimpit dadanya.
"Di mana ibu?" tanya Karina melepaskan pelukannya.
"Sedang di depan ruang administrasi untuk mengurus kepulangan jenazah Ayahmu ke Indonesia."
"Ayah... , ayah ingin sekali pulang ke negara kami."
"Aku mengerti akan keinginan ayahmu. Aku membantu sedikit untuk membantu proses kepulangannya."
"Asal kalian pura-pura tidak tahu mengenai kasus ini dan menyerahkan semua aset milik kalian. Itu tidak masalah karena pelakunya sudah tiada. Kalian hanya dijadikan saksi saja nantinya."
Karina menganggukkan kepala. "Tapi ayah mengatakan jika dia menyimpan dokumen tentang kasus itu dan menyuruhku menyerahkan pada KPK."
"Itu pilihanmu tetapi itu sama artinya kau dan ibumu akan mendapat masalah baru. Apakah kau siap menghadapi semuanya?"
"Aku tidak tahu." Karina menunduk.
"Sekarang urus saja soal pemakaman Ayahmu. Masalah lain pikirkan nanti."
"Tapi ... bagaimana dengan masalah kau dan kakakmu?"
"Akan ku urus. Kakak pasti akan mengerti dengan keadaanmu." Karina menatap Roy dengan sendu. Dia samasekali tidak menyangka kalau kini dia malah yang ditolong oleh pria itu. Semakin mengenal kakak adik Quandt semakin membuat dia sadar bahwa mereka adalah orang baik terutama istri Adry. Dia sangat lembut dan pengertian.
Pria itu nampak terlihat semakin gentleman ketika menampakkan sisi lembut dan ketenangannya. Maskulinitas-nya semakin bertambah terasa.
"Sekarang, bangkit dan rapikan penampilanmu. Jadilah wanita yang tegar seperti yang ayahmu inginkan."
__ADS_1
Karina menganggukkan kepala.
Sepuluh menit kemudian Karina menemui Ibunya yang sedang bersedih di dekat peti mati Ayahnya. Ibunya memeluk Karina erat setelah melihatnya.
"Teganya Ayahmu meninggalkan Ibu. Padahal dia sudah berjanji untuk bersama dengan Ibu untuk selamanya." Karina membalas pelukan ibunya.
"Ayah sudah tenang dan tidak sakit lagi. Dia melihat kita dari dunia yang berbeda. Jangan buat dia bersedih karena rasa kehilangan Ibu yang teramat sangat. Ingatlah, Ayah akan selalu menemani kita walau kita tidak bisa melihatnya! Karena Ayah sangat mencintai dan menyayangi kita," ucap Karina.
Karina menatap peti mati Ayahnya sewaktu mengatakannya. Ada perasaan perih dan sakit sewaktu mengucapkan hal itu.
Dia sendiri juga merasa kehilangan tetapi benar apa yang dikatakan oleh Roy bahwa ibunya adalah orang yang paling terluka dengan kepergian Ayahnya.
Roy melihat jam yang melingkar di tangan. Dia lalu mendekati Karina yang sedang berjongkok di sisi peti ayahnya.
Dia memberi tanda pada Karina agar keluar dari ruangan itu. Mereka lalu berjalan beriringan keluar dan berdiri di ujung koridor.
"Aku harus kembali," pamit Roy. Wanita itu menengadahkan wajah menatapnya, karena tubuh Roy jauh lebih tinggi dari tubuhnya.
Tampak raut wajah keberatan namun sedetik kemudian Karina mencoba tersenyum sembari menghela nafas pendek.
"Terima kasih atas pengertian dan bantuanmu pada kami."
"Aku sudah menempatkan empat orang ku untuk mengawalmu sampai urusanmu selesai."
"Itu tidak perlu, aku bisa mengatasi semuanya."
"Kau tidak tahu apa yang akan terjadi jadi jangan menolaknya."
"Aku juga sudah memesan penerbangan yang akan membawa kau dan keluargamu kembali."
"Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas kebaikanmu ini. Padahal aku datang dengan niat tidak baik tetapi kau malah menolongku."
"Tidak harus membalas dengan apapun. Kau cukup melakukan semuanya dengan baik."
"Ya, sudah aku pergi dulu. Peswatku akan lepas landas satu jam lagi."
Karina menganggukkan kepalanya. Roy lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi namun baru beberapa langkah dari Karina berada wanita itu lantas mengejarnya lalu berdiri di depan pria itu, memeluknya.
"Terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu ini." Karina lalu mengecup bibir Roy singkat namun sayang Roy malah tidak melepaskannya dan ******* bibir wanita itu walau sebentar.
"Jangan memancing pria atau kau akan pingsan nantinya," ledeknya lalu mengusap bibir wanita itu dan pergi meninggalkan Karina yang termangu.
__ADS_1
"Apakah dia kekasihmu?" tanya Ibu Karina tiba-tiba, memegang bahunya.