Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pria Hangat


__ADS_3

"Jika kau melakukan itu karena ku kau salah. Adakalanya kau akan bosan dengan semua keinginanku suatu saat nanti. Namun, jika kau melakukannya karena itu tidak baik untukmu atau orang di sekitarmu, di dasari atas kesadaran penuh, itu baru benar."


Hana mengambil bajunya dari ruang ganti, sesat dia menghela nafas berat melihat barang-barang Karina yang masih memenuhi ruangan itu.


Ketika membuka pintu ruang ganti, dia terkejut melihat Roy ada di depannya.


"Aku tidak pandai menebak isi hati wanita. Apa maksud perkataanmu?"


"Jangan lakukan jika itu karena aku. Kau pria yang bebas boleh melakukan apapun juga."


"Hana, aku benar-benar serius denganmu," ucap Roy. Tatapan matanya tajam serasa menguliti Hana.


"Karena anak? Tidak perlu, Anak-anak sudah bahagia menemukan Ayahnya dan mereka juga masih punya Ibu. Itu cukup. Jadi tidak perlu mengorbankan diri demi kebahagian mereka."


Roy terpaku mendengar jawaban Hana yang dingin. Ada kalanya wanita itu nampak hangat adakalanya juga dia seperti membentengi diri dengan sangat rapat. Sehingga tidak mudah ditembus oleh Roy. Karakter Hana tidak mudah ditebak.


Hana melewati Roy, dia melangkah keluar kamar dengan baju serta handuk di tangannya.

__ADS_1


"Kau mau kemana?"


"Aku akan mandi di kamar Ayu."


"Kenapa tidak dikamar ini?"


"Tidak. Aku nyaman di sana."


"Hana...," gumam Roy namun wanita itu malah sudah keluar kamar. Dia tidak tahu harus melakukan apa?


Roy kira semua sudah membaik setelah kejadian tadi. Akan tetapi pikirannya salah. Hana terlalu lembut hatinya. Terlalu manis sehingga dia tidak ingin membuat pahit hidup seseorang. Dia tidak senang akan sesuatu tetapi dia tidak ingin mengatakannya. Bukan karena dia tidak perhatian tetapi dia hanya ingin membuat orang sekitarnya nyaman. Sangat berbeda dengan sifat Roy yang pemaksa dan apa adanya.


"Kakak Ipar tadi menyuruh kita untuk turun makan malam."


"Anak-anak belum pulang kan?" Hana duduk di depan meja rias hendak mengerikan rambutnya yang panjang. Roy meminta pengering dan sisir dari tangan Hana.


"Biar aku membantumu," kata Roy.

__ADS_1


"Tidak usah," tolak Hana. Roy menatap Hana, membuat wanita itu mengalah. Roy mulai mengeringkan rambut Hana, sedangkan Hana mulai memakai pelembab.


"Anak-anak akan makan diluar," terang Roy.


"Mereka pasti senang." Hana sebenarnya tegang ketika tangan Roy mulai menyentuh rambutnya tetapi dia berusaha untuk terlihat normal. Dia harus bisa mengatasi semuanya.


Dia membayangkan ayahnya yang melakukannya. Ayahnya sangat baik dan penuh perhatian. Dia sering melakukan hal kecil pada putrinya sehingga membuat rindu ketika ayahnya tiada. Kini Roy yang melakukannya.


Seharusnya dia bahagia jika memiliki suami perhatian, dia harusnya menerima lamaran Roy. Namun, kenapa hatinya masih menolak? Hana tidak tahu.


"Rambutmu lebat dan lembut," puji Roy ketika memberi pelembab di rambut Hana. Pria itu memang sudah menyiapkan semuanya dari kosmetik dan semua kebutuhan kecil bagi wanita, sampai pembalut sudah Roy siapkan di ruang pakaian.


"Ayah dulu sering memberikan minyak rambut sewaktu aku kecil karena rambutku sangat tipis. Setelah memakai minyak rambutku menjadi seperti ini. Jika Hani, dia tidak suka dengan bau minyak itu dan menolak untuk memakainya. Rambutnya jauh lebih tipis dari punyaku."


"Ayahmu nampaknya sangat menyayangi kalian?"


"Sangat, dia sosok yang hangat dalam keluarga. Ketika ayah tidak ada, rumah bagai neraka. Semuanya berubah. Hani sibuk degan teman-temannya dan Ibu sibuk mengurus perusahaan sehingga tidak punya waktu untuk anak-anaknya."

__ADS_1


Roy kini mengerti. Hana ingin mencari sosok pria seperti ayahnya untuk menemani hidupnya. Sosok pria hangat. Biasanya wanita yang ditinggalkan ayahnya semasa kecil akan mencari sosok tersebut pada diri pasangannya. Dia memang lebih posesif nantinya karena takut kehilangan lagi. Itu yang membuat Hana takut untuk membuka hati. Oleh karena Roy belum bisa memberikan cinta seperti yang Ayah Hana berikan.


Apakah dia bisa melakukannya?


__ADS_2