
Roy lalu menyapa Adry, "Hallo, Tuan Muda."
"Kita tidak dalam suatu pekerjaan Roy, panggil namaku saja," kata Adry.
"Baik, Kak."
"Hai, Raina lama tidak bertemu denganmu. Kehamilanmu membuat mu bertambah cantik saja."
"Terima kasih, Roy," ujar Raina sambil tersenyum. Hal itu membuat Adry dongkol dan cemburu. Dia masih kesal dengan kedekatan Roy dengan istrinya yang tidak dia ketahui sebelumnya.
"Apakah kakakku ini masih membuatmu jengkel terus kalau iya jewer saja," imbuh pria itu. Raina tertawa kecil melirik ke arah Adry.
"Jangan cemburu, Kak, Raina sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri." Roy menepuk pundak kakaknya.
Setelah itu, Roy duduk di sebelah Adry, menatap ke arah Nita.
"Hai, Nita. Bagaimana keadaanmu?"
"Baik," ucap Nita parau karena perasaannya tidak karuan untuk saat ini.
"Ayo, semuanya makan dulu." Janeta lalu memutuskan basa basi ini yang menurutnya sangat membosankan.
Mereka lalu makan, Janeta dan Carl berbicara dengan Adry juga lainnya tetapi mendiamkan Raina. Mereka semua mengobrol hanya Raina sendiri yang diam. Dia seperti berada di tempat lain. Leon pun terasa asing untuknya. Semua terlihat bahagia dengan pertemuan ini.
Tidak ada yang coba untuk mengajaknya bicara. Ketika Raina mulai memberikan komentar keheningan mulai terjadi hal itu membuatnya mengerti tentang sesuatu.
Mereka mentoleransi keberadaan dirinya demi Adry. Dia melihat tatapan semua orang pada Adry ketika dia tidak perhatikan. Seolah mengatakan ."Kau salah membawanya masuk ke keluarga ini."
Raina memandang ke arah Adry yang menanggapi ucapan Nita dan orang tuanya. Dia membolak-balik makanannya. Dia kehilangan selera makan. Melihatnya saja membuatnya mual dan ingin muntah. Entah itu karena suasana hatinya yang buruk atau memang makanan itu terlihat tidak menarik untuknya.
__ADS_1
"Adry, Nita ingin membuat perayaan ulang tahun yang mewah untuk Leon. Dia sudah merancangnya dengan baik. Aku harap kau dan Raina mau hadir ke sana." Janeta tersenyum pada Nita.
"Nita sangat bagus sekali mengurus Leon. Dia berkembang sebagai mana mestinya. Aku bangga sekali padamu," imbuh Carl.
Keringat dingin mulai membasahi diri Raina. Tubuh Adry juga ikut menegang di samping Raina.
Semua orang sepertinya ingin memancing kemarahan Raina dan membuatnya meledak keras di pertemuan ini. Mereka membicarakan tentang kebaikan Nita dan kedekatannya dengan Leon, seolah dirinya tidak ada di sana.
Mereka semua ingin mempermalukan Raina dengan semua penderitaan anak itu, sewaktu Leon ikut bersamanya.
Raina menatap ke arah Janeta. Wanita itu membalas tatapannya sebentar, yang seolah mengatakan, "Sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang. Aku tidak akan membiarkannya."
Kepala Raina berdenyut dengan keras. Perutnya terasa sesak dan menegang. Pandangannya pun menjadi buram.
Sudah cukup! Dia tidak mau dipandang rendah lagi dan melihat mereka menatap iba pada Adry. Dia tidak mau dihukum lagi, disalahkan, dan dimaafkan. Cinta Adry tidak bisa menambal luka yang telah keluarganya berikan.
(Wah emak-emak ada yang pernah merasakan seperti ini tidak, berada di tengah keluarga suami tetapi seperti diasingkan.)
"Sudah cukup kalian duduk di sini dan menatap Adry dengan iba. Kalian mengadakan pertemuan ini untuk mengatakan ketidaksetujuan kalian dengan kembalinya diriku pada Adry. Kalian menghakimiku dengan mengatakan aku tidak cukup baik bagi Adry dan Leon. Per ... setan dengan kalian semua!"
Kemudian dia menoleh menatap ke arah Leon dengan lembut. "Nak, Ibu sangat menyayangi kau harus selalu mengingatnya," ucapnya parau.
Adry hendak berdiri tetapi Raina memegang bahunya. "Kau tetap di sini saja dan jangan buat keluargamu kecewa."
Sebelum Adry sempat bereaksi Raina berlalu.
Raina pergi ke arah toilet lalu tetap berjalan hingga sampai ke pintu belakang restauran. Tubuhnya menggigil, terkena angin malam yang dingin karena dia melupakan mantelnya.
Kepalanya terasa sakit tetapi dia menahannya dengan mengeratkan gigi hingga rasa sakit menghujam di kepalanya.
__ADS_1
Raina berjalan melewati satu perempatan jalan sebelum hujan badai menyentuh tubuhnya. Dia melihat Taxi dan menyetop lalu naik ke atas. Buliran bening mengalir ketika dia duduk dan menutup pintu taxi.
Sedangkan Adry ingin bangkit dan mengejar Raina tetapi sebelumnya dia ingin mengatakan sesuatu pada keluarganya.
Dia menggebrak meja dengan kuat membuat semua orang terkejut. Adry tidak pernah terlihat emosi yang menjadi sebelumnya. Dia adalah tipikal pria lembut dan sopan.
"Apa ini!" teriaknya. Dia menatap ibunya dengan penuh kemarahan. Matanya memerah dan hampir keluar karenanya. Nafasnya pun terlihat memburu. Dia tidak peduli dengan tatapan ibunya yang terlihat terkejut dan ketakutan.
Carl sebagai kepala keluarga mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jangan marah pada ibumu Adry, dia hanya berusaha agar semuanya kembali membaik. Dia ingin menyatukan kita. Jika kita tidak mengadakan makan malam ini kita tidak akan pernah bersama lagi. Lagipula biarkan dia pergi, dia hanya sumber masalah keluarga ini. Kau lihat kan semuanya tidak bermasalah hanya dia saja."
Adry mengumpat dengan nama binatang. Hal itu membuat ibunya meringis. "Bukankah Ibu sudah cukup menyakitinya. Semuanya harus diakhiri untuk malam ini. Aku tidak akan membiarkan Raina menjadi korban lagi dari siasatmu. Raina tidak akan terpancing emosinya jika Ibu tidak memulai terlebih dahulu. Kegilaan Ibu akan derajat dan nama baik membuatku muak. Ini terakhir kalinya Ibu berusaha untuk memisahkan ku dengan Raina."
"Sayang, maaf Ayah tinggal dulu. Kau baik-baiklah di rumah ya..., Ayah harus mengurus ibumu terlebih dahulu" ucap Adry pada Leon ketika berpamitan pergi. Adry lalu memeluk Leon dan mencium pucuk kepalanya.
Leon menahan tangisnya sekuat tenaga hanya bisa membalas pelukan ayahnya dengan erat untuk mengungkapkan perasaannya yang khawatir, rindu dan ingin bersama kembali bersama dengan orang tuanya.
"Sabar Sayang, semua akan baik-baik saja." Adry mengusap punggung Leon dan berjalan keluar.
"Kak, aku turut prihatin."
Adry tidak mengatakan apa-apa hanya menyentuh bahu Roy dan keluar dari ruangan itu. Dia langsung berlari mencarimu Raina namun tidak melihatnya, bertanya pada penjaga pintu.
"Apa kau melihat wanita hamil berbaju hitam lewat sini?" tanya Adry was-was. Sembari memegang mantel Raina yang tadi dia ambil.
"Saya tidak melihatnya coba Anda bertanya pada penjaga yang berada diluar. Adry lalu berlari ke arah pelataran hotel dan bertanya pada penjaga.
"Oh, dia baru saja keluar tadi."
"Apakah kau melihatnya naik taxi atau apa?" tanya Adry cemas.
__ADS_1
"Dia terlihat berjalan melewati jalanan ini."
Adry mengumpat kesal. Dia lalu pergi dengan cepat mencari Raina di sekitar jalan yang ditunjuk tetapi tidak menemukannya.