
Hani pergi dengan Maruli ke sebuah apartemen.
"Roy bukan orang se mengerikan yang kau ceritakan. Dia bersikap biasa saja padaku layaknya seorang kekasih pada pasangannya. Aku sendiri menikmati peran ini."
"Ha... ha... kau jangan lupa dengan tugasmu di sana untuk mengambil semua bukti yang dia bawa."
"Aku tidak lupa. Aku sudah membongkar brangkasnya ketika dia sedang pergi ke kantor. Ini Flashdisk yang kau cari kan?" ujar Hani menyerahkan flashdisk pada Maruli.
"Kau memang wanitaku yang paling pandai."
"Berarti pekerjaanku selesai dan sesuai perjanjiannya kau harus menutup semua hutang keluarga ku di bank milikmu!"
"Itu soal gampang Sayang."
"Itu menurutmu soal mudah tetapi bagiku adalah hidup dan matiku!" Hani menatap tajam pada mantan Jendral yang sekarang menjabat sebagai sebagai mentri.
"Boy, hilangkan hutang Nona Hani dari bank kita tetapi sebelumnya kau cek dulu apakaj disk ini palsu atau tidak!" kata Maruli yang tidak kau salah langkah.
Pria yang namanya dipanggil segera mendekat lalu meneliti disk itu.
"Ini bukan disk aslinya Bos. Ini hanya salinan belaka."
"Kau membohongiku!" Maruli menarik rambut panjang Hani. "Apa kau mau mempermainkan aku? Hah!" seru Maruli hingga terdengar ke seluruh sudut ruangan.
__ADS_1
"Tuan... data itu bobol ke sebuah stasiun TV nasional. Lihat Tuan," seru pria lain berbadan tegap menyetel sebuah siaran breaking news.
Dada Maruli naik turun tidak beraturan. Matanya merah, nyalang seperti ingin menghabisi Hani.
"Dasar wanita ******!" Dia menarik rambut Hani dan menghajarnya habis-habisan.
"Ampun Tuan, aku tidak bersalah dalam hal ini. Aku selalu mengikuti apa yang kau perintahkan."
"Aku tidak pernah percaya dengan wanita ****** sepertimu. Aku yakin kau itu jatuh cinta pada pria itu lalu berkhianat, benar kan?" murka Maruli dengan mata berapi-api.
"Tidak... sama sekali tidak seperti itu," ungkap Hani gugup. Dia juga tidak tahu bagaimana Roy sudah mempersiapkan semuanya dengan begitu baik.
Tangan Maruli diangkat tinggi-tinggi hendak menampar wanita itu lagi. Namun, suara tembakan terdengar keras.
"Kau!"
"Sungguh bukan aku."
"Maaf Pak Maruli, kami mendapat perintah surat penangkapan Anda." Polisi itu memberi tanda agar menyelamatkan Hani yang terluka parah. Wajahnya sudah tidak berbentuk dan pelipis kepalanya mengalirkan darah segar.
"Apa kalian tidak tahu siapa aku?"
"Kami tahu jika Anda adalah atasan kami. Namun, kami hanya melakukan tugas."
__ADS_1
"Siapa yang memberi perintah?" tanya Maruli dengan gaya pemimpin yang tenang.
"Bapak Presiden langsung yang ditandatangani oleh Pak Kapolri."
"Pak Presiden?" ulang Maruli.
"Ya, maaf jika kami harus menangkap Anda sekarang. Kami tidak ingin membuat keributan, ada baiknya Anda menyerahkan diri dengan mudah."
"Lalu alasan penangkapan sendiri?"
"Atas tindakan pencucian uang yang terjadi lima belas tahun lalu." Wakil ketua KPK maju ke depan membuat Maruli terkejut. Bukan karena dia tertangkap tetapi orang-orang yang selama ini baik padanya kini mulai mengkhianati setelah dirinya terjebak. Ini pasti ulah Roy. Dia akan membuat pembalasan.
Dengan langkah lemas karena tidak bisa mengelak dari bukti yang ada Maruli keluar dari apartemen dengan pengawalan ketat. Wajahnya disembunyikan dibalik topi dan masker.
Dia sempat melihat Roy tersenyum penuh kemenangan dengan Nakamoto di sudut lain pintu apartemen.
Pria itu memberi tanda agar dia tidak bertindak lebih karena anak dan menantunya dikelilingi oleh anak buah Roy.
Permainan yang dia mainkan selama ini dan tertata rapi kini berbalik arah.
***
Sorry, dua bulan ini authornya banyak banget kegiatan RL jadi jarang up. Ini akan tamat kok dua hari lagi, InsyaAllah, jadi jangan pada ngambek ya... Love you semuanya
__ADS_1