
"Raina kau kenapa?" Adry yang mendengar teriakan Leon bergegas ke bawah dan melihat keadaan istrinya. Dia sangat terkejut melihat Raina yang kesakitan memegang perutnya dengan wajah pucat pasi.
Adry langsung merengkuh dan melihat kondisi Raina. Nafasnya sesak melihat orang yang paling dia cintai terlihat lemah dan kesakitan.
"Aku... aku... ," Raina akhirnya pingsan di pelukan Adry.
"Ada apa ini?" tanya Carl yang baru saja turun dari lantai tiga kamarnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Frans panggil dokter untuk secepatnya datang kemari!" perintah Adry.
"Tidak sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit saja. Dia akan memperoleh tindakan medis yang lengkap."
"Kau benar Ayah," ucap Adry langsung menggendong Raina.
"Siapkan sopir sekarang!" perintah Adry pada Frans. Dengan gerakan cepat Frans langsung memanggil sopir agar mengantar majikannya ke rumah sakit.
Leon terlihat memeluk kakeknya dengan erat. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya.
"Ibumu akan baik-baik saja," kata Carl menenangkan Leon.
"Tapi... ," ucap Leon menyeka air matanya.
"Dia hanya kelelahan dan butuh istirahat." Carl melirik ke arah Janeta.
"Apakah kau mau tetap ke sekolah? Kalau iya biar Kakek yang mengantar," ucap Carl. Leon mengangguk sambil menahan air matanya.
Carl lalu memeluk Leon. "Semua akan baik-baik saja, kau hanya perlu tenang untuk saat ini."
"Kalau Ayah dan Ibu pergi bagaimana dengan Rere?" tanya Leon.
"Rere belum bangun, Kakek akan mengantarkannya terlebih dahulu baru setelahnya kembali ke rumah ini untuk menjaga Rere."
"Sekarang minum susunya dan makan pagi terlebih dahulu," perintah Carl.
__ADS_1
"Bolehkah makannya kubawa saja," pinta Leon.
"Frans, siapkan bekal untuk Leon berangkat ke sekolah." Frans yang sejak tadi berdiri di sekitar mereka langsung ke ruang makan untuk menyiapkan bekal makan Leon.
"Sekarang sebaiknya kau siapkan diri untuk berangkat ke sekolah, sana ambil tas dan pakai sepatumu."
Leon lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Carl sendiri lalu bangkit dan menatap Janeta dengan tajam.
"Kau senang telah membuat menantumu sakit? Tidakkah kau sadar jika yang kau lakukan malah membuat kami semakin jauh darimu. Raina ingin mendekatkan kau pada kami tetapi jika kau bersikap arrogan dan seenaknya saja seperti itu, itu tidak akan berhasil. Semua itu akan terwujud jika kau berubah."
Carl menghela nafas dalam dengan kesal. "Apakah kau lihat semua usahanya itu, dia tidak tahu jam ketika merawatmu bahkan menyampingkan perhatiannya pada Leon dan Rere yang masih kecil demi agar kau nyaman. Namun, kau seperti anak kecil yang suka merengek dan membuat masalah. Aku saja yang menjadi suamimu merasa muak dengan tingkahmu."
Janeta memandang Carl dengan tatapan tidak percaya dan terluka.
"Tidak ada yang ingin berada di posisiku!" ucapnya marah dengan mata membelalak sengit.
"Kau sendiri yang membuat dirimu seperti itu. Semua orang ingin menolongku tetapi kau membuat benteng penghalang untuk kami masuk."
Dia hendak pergi ke kamarnya namun mendengar teriakan Rere yang memanggil nama Ibunya.
"Ibu... Ibu... Ibu... aku sudah bangun," panggil Rere. Pengasuh mendekat untuk mengalihkan perhatian Rere namun anak itu tetap mencari ke kamar ibunya.
Leon yang mendengar lalu berlari naik ke lantai dua untuk memberi pengertian adiknya. Carl mengikuti langkah kaki Leon.
Sedangkan, Janeta menatap mereka dari kursi rodanya.
"Ibu sedang keluar dengan Ayah," ucap Leon.
Bibir Rere bergetar karena menangis lalu memeluk Leon. "Aku sendiri?" ujarnya.
"Kan ada Kakak," balas Leon. Anak itu menyeka air mata adiknya. "Sudah jangan menangis."
"Ibu kemana? Mengapa tidak mengajakku?" tanya Rere lagi.
__ADS_1
"Ibu sedang ada urusan penting, jadi meninggalkanmu tapi sebentar saja, Ibu akan pulang nanti," terang Leon lembut.
"Kakak sekolah?" Leon menatap Carl.
"Kau berani di rumah sendiri bersama Kakak pengasuh yang baik."
Rere kembali memeluk tubuh Leon erat.
"Aku mau bersama kakak saja sampai Ibu pulang," pintanya.
"Biar Kakak Leon berangkat sekolah ya, kau bersama dengan Kakek saja," bujuk Carl berjongkok di sebelah Rere, mengusap rambut lurus dan kecoklatan miliknya.
"Aku mau dengan Kakak saja." Jika sedang merajuk seperti ini mirip sekali dengan Adry ketika kecil. Keras kepala jika menginginkan sesuatu.
"Bagaimana kalau kau ikut mengantarkan Kakak ke sekolah setelah itu mencari makan di luar dengan Kakek?" tawar Carl berharap anak ini bisa dirayu.
"Aku mau dengan Kakak saja," ujar Rere. Akhirnya mereka mengalah pada keinginan Rere. Jika Rere menangis malah lebih repot lagi.
Janeta lalu meminta pada salah seorang pelayan untuk mengantarnya ke kamar.
Tanpa Raina tidak ada yang menyapanya di kamar. Hal itu membuat Janeta merasa bosan. Dia menatap remote di tangannya. Biasanya jika dia bosan dia mengerjai Raina dengan sederet permintaan aneh. Namun, kini orang itu sedang sakit. Mengapa ada rasa bersalah dalam dadanya karena menyebabkan Raina sakit. Seharusnya dia gembira dan senang. Nyatanya, dia malah merasa ikut khawatir.
Perutnya terasa mulas karena ingin ke kamar mandi. Dia lalu melihat kursi rodanya yang berada tidak jauh dari tempat tidur, mencoba meraihnya. Setelah bisa memegangnya dia berusaha berdiri dan duduk di sana. Namun, yang ada dia jatuh ke lantai dan tubuhnya sempat mengenai besi roda kursi roda dan menimbulkan sedikit baret luka yang tidak berdarah namun terasa sakit.
"Raina," panggilnya reflek. "Kau lama sekali ... kau lihat aku jatuh."
Namun, tidak ada yang datang untuk membantu. Janeta baru saja teringat jika Raina sedang berada di rumah sakit. Dia lalu mencoba bangkit dan meraih besi panjang ditempelkan di tembok, digunakan untuk membantunya berjalan. Jarang dia gunakan karena lebih suka membuat susah Raina. Jika dia melihat kelelahan atau wajah Raina yang ditekuk dia merasa sangat senang. Dia merasa menang bisa mempermainkan wanita itu.
Namun, tanpa Raina tidak ada yang menjaganya. Frans, dia akan memanggil anak itu. Janeta lalu memanggil Frans. Wanita gemulai itu mulai datang
"Frans panggilkan satu pelayan untuk membantuku," ucap Janeta.
"Baik Nyonya," jawab pria itu.
__ADS_1