
"Jangan uji kesabaranku, Adry!" bentak Janeta membuat Adry menaikkan kedua alisnya. Seketika anak buah Janeta yang berjumlah dua puluh orangan menodongkan senjatanya pada Adry.
"Masuk dan cari ular itu beserta anaknya!" seru Janeta pada anak buahnya.
"Kau gila jika ingin melukai mereka! Aku tidak akan membiarkannya!" Bentak Adry maju ke depan tapi Janeta memberi isyarat pada anak buahnya untuk menangkap Adry.
Perkelahian terjadi, Adry langsung berhadapan dengan marinir itu dan mereka berduel secara sengit sedangkan beberapa anak buah Janeta mulai masuk ke dalam rumah secara paksa. Janeta ikut masuk dan melihat keadaan tempat yang didiami anaknya itu.
Rumah itu nampak sederhana tapi nyaman. Ada beberapa mainan anak wanita yang bergeletakan di beberapa sudut ruangan. Rupanya cucu keduanya adalah perempuan. Tidak begitu berarti baginya.
"Raina... dimana kau? Aku datang? Apakah kau tidak ingin menyapa mertuamu ini?" teriak Janeta sehingga suaranya terdengar hingga ke setiap ruangan dalam rumah ini.
"Sudah lama kita tidak bertemu, apakah kau tidak merindukan aku? Aku ingin sekali melihat cucuku itu.... Maukah kau memperlihatkan padaku seberapa cantiknya dia?" Janeta muak mengatakan tentang kepeduliannya pada Raina dan cucu perempuan itu tetapi dia senang mempermainkan keadaan ini seperti sedang bermain petak umpet dengan menantunya itu.
"Nyonya di sana!" seru salah seorang anak buahnya. Janeta tersenyum penuh kemenangan dia melangkahkan kaki menaiki tangga yang terbuat dari kayu yang berderit ketika di injak.
"Ibu, jangan kau dekati Raina dan anakku!" seru Adry dari arah pintu dan berjalan ke arahnya dengan wajah merah padam.
"Aku hanya ingin melihat cucuku," tawa Janeta terdengar menggelegar.
"Ibu aku tidak akan membiarkannya!" teriak Adry tetapi diabaikan oleh Janeta. Dia mulai masuk ke dalam sebuah kamar dengan dinding yang bergambar kuda poni yang cantik. Tangannya menyentuh setiap benda yang ada dan fokusnya kini pada seorang wanita yang memeluk seorang anak, memunggungi dirinya.
"Hallo, Raina apa kabar?" tanya Janeta dengan suara lembutnya yang membuat merinding orang yang mendengarnya.
"Apa yang kau peluk adalah cucuku... ehmmm aku ingin sekali berkenalan dengannya serta memeluk dirinya."
Tubuh wanita itu tetap tidak bergeming. Janeta mulai kesal. Dia mulai menarik rambut panjang yang menutupi wajah wanita itu. Seketika wajahnya memucat menampakkan keterkejutannya ketika melihat wajah wanita itu dan boneka yang dia peluk. Dia mundur lalu tersenyum.
Rupanya anaknya telah pandai memainkan dirinya. Pikir Janeta menggerakkan kepala ke samping lalu berjalan keluar dari kamar itu.
Dia lalu turun dan mendapati anak buahnya telah diikat menjadi satu dan bersimpuh dilantai. Beberapa pegawai keamanan dari Adry terlihat berada di tempat itu. Sedangkan Adry mengaduk kopi dalam gelasnya.
__ADS_1
"Apa kau mau minum, Bu?" tanya Adry santai.
"Boleh, ambilkan aku kopi sianida saja," kata Janeta.
"Aku bukan anak durhaka pada ibunya walau kau ibu yang durhaka pada anak dan cucunya," balik Adry. Dia mengambil satu sachet kopi instan lalu menuangkannya dalam gelas dan memasukkan air panas di dalamnya.
"Jadi kau sudah mempersiapkan kehadiranku?" tanya Janeta. Adry lalu menyerahkan kopi itu pada Ibunya.
Mereka lalu duduk bersama setelah kekacauan ini.
"Aku hanya ingin melihat sampai dimana kegilaaan Ibu untuk memisahkan aku dengan Raina." Adry mulai menyesap kopinya.
Janeta sendiri tertawa keras. "Kau telah berubah Adry!"
"Aku berubah menjadi sedikit pintar agar tidak bisa selalu kau bodohi, Bu," balasnya.
"Kau sudah mengamankan mereka?"
"Sepertinya kali ini aku kalah lagi dengan Raina," ujar Janeta meminum kopi itu lalu tersenyum. "Namun, aku tidak menyesal bertemu denganmu. Aku merindukan anakku yang penurut dan penyayang."
"Yang bodoh dan bisa dikadali," lanjut Adry lalu mereka berdua tertawa bersama. Menikmati kopi dalam diam.
"Setelah ini pulanglah pergi, Bu. Jangan kembali lagi kemari. Mungkin kali ini aku akan membiarkan Ibu membuat kekacauan tetapi lain kali aku tidak akan membiarkannya."
"Anak durhaka... benar-benar kau tega mengusir ibunya. Padahal aku ingin sekali bersama denganmu seperti dulu."
"Tidak untuk saat ini karena aku belum bisa mempercayai serta menerimamu kembali setelah apa yang kau lakukan."
Janeta menghela nafasnya. Dia lalu berdiri dan mengambil tas yang sedari tadi ada di genggamannya.
"Ya, sudah kali ini kau antar aku hingga ke pantai, setelah itu, aku akan pergi dari sini."
__ADS_1
"Okey, tidak masalah." Adry menghabiskan kopi itu. Dia lalu mengikuti ibunya berjalan ke arah mobil Jeep yang tadi wanita itu curi dan kenakan untuk sampai di sini. Sebetulnya mobil itu memang sudah Adry siapkan sebelumnya untuk Janeta gunakan.
Dia juga melemahkan keamanannya agar wanita itu mengira dia telah menang darinya. Padahal lautan di sekitarnya selalu dalam pengawasan Adry sehingga dia bisa selalu mengawasi keadaan tempat ini setiap waktu. Benda apapun yang melintas pasti akan diketahuinya.
Seseorang mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga Adry.
"Apakah Ibu memanggil pesawat ke sini?"
"Ya, kapal hanya untuk membawa Ibu kemari dari pulau seberang sedangkan pesawat untuk membawa kita kembali dengan cepat. Ayah dan Leon anakmu mungkin mencariku jika aku pergi terlalu lama."
Adry menganggukkan kepala. Dia memberi isyarat pada anak buahnya melalui pandangan mata agar meningkatkan kewaspadaan.
Mereka lalu menuju tempat lepas landas pesawat jet. Janeta tetap terlihat tenang. Wanita itu tidak menampakkan penyesalan atas apa yang dia lakukan. Bahkan terlihat seolah tidak ada kesalahan yang berarti yang dia buat tadi.
Adry bergidik ngeri membayangkan jika dia terlambat mengetahui rencana ibunya maka nyawa Raina mungkin akan jadi taruhannya. Ibunya bisa gelap mata jika menginginkan sesuatu. Hanya butuh waktu dua hari bagi Janeta mempersiapkan kedatangannya ke pulau ini dan membuat huru-hara besar.
Dia sudah mempersiapkan semuanya dari kemarin dan memberikan instruksi pada anak buahnya akan apa yang mereka lakukan ke depan.
Setidaknya sampai saat ini Raina dan Regina masih aman bersama dengan Roy. Adiknya itu diam-diam telah membawa mereka jauh dari pulau ini, sekembalinya dari Jerman.
"Kau yang merancang ini semua, Nak?" tanya Janeta diperjalanan. Dia melihat ke sekeliling jalan yang mereka lewati.
"Sebagian besar tatanan dan bentuk rumah di pulau ini adalah impian Raina dan aku coba membuatnya menjadi kenyataan."
"Sangat romantis sekali. Kau sama seperti ayahmu selalu melakukan yang terbaik untuk pasangannya." Adry tersenyum kaku yang tidak sampai ke matanya.
Akhirnya mereka telah sampai di landasan udara. Adry menghentikan kendaraannya di dekat pesawat jet milik keluarga Quandt.
"Untuk terakhir kali biarkan aku memelukmu, Nak," kata Janeta. Adry nampak ragu tetapi melihat Janeta yang nampak berharap dia lalu mendekatkan diri pada Ibunya.
"Aku sangat menyayangimu Nak dan akan melakukan apapun agar kau bahagia," bisik Janeta di telinga Adry lalu tangannya mengambil sebuah bius gun dari tasnya dan menembakkan tepat di punggung pria itu.
__ADS_1
"Ibu... kau mengkhianati ku lagi," ucap Adry dengan mata menyalang marah.