
"Rere kupas bawangnya!" perintah Raina pada Regina.
"Ini pedih di mata, Bu!" ujar Regina.
"Kapan kau akan belajar jika mengupas bawang saja tidak bisa."
"Ada pelayan jadi untuk apa aku belajar memasak!" ujar Regina.
"Ish, kau sangat berbeda dengan Leon, dia itu...."
"Ya, Kak Leon memang yang terbaik, dia bisa melakukan apapun dan selalu bisa membuat Ibu dan Ayah bangga. Jadi tidak usah bedakan aku dengannya!" Regina meletakkan bawang dan pisau di meja dengan kesal lalu meninggalkan Raina sendiri di dapur.
"Re, bukan seperti itu maksudnya!"
"Ya, aku memang anak terburuk. Ibu sangat bangga pada kakak dan sangat sayang pada Aaric!" tuduh Rere lalu berlari menangis keluar dari rumah.
Adry yang melihatnya lalu mendekat ke arah Raina yang terpaku. Dia memegang bahu Raina.
"Dia sedang memasuki masa pubertas pertamanya, kita harus sabar menghadapinya."
"Tapi dia...," ujar Raina dengan mata memerah
"Biar aku saja yang bicara padanya. Kau jangan bersedih seperti itu, semua akan baik nanti. Percayalah!" Raina memeluk Adry.
"Aku menyayangi semuanya," ungkap Raina.
"Ya, tapi terkadang anak menangkapnya berbeda." Adry mengusap punggung Raina.
"Apakah perlu kupanggil kan pelayan untuk membantumu."
"Tidak usah aku bisa melakukannya sendiri." Raina melepaskan pelukannya mengingat tentang masakannya yang belum selesai.
"Sungguh? Kita masak besar kali ini apa kau sanggup?"
"Kau meragukan kemampuanku!"
"Tidak pernah karena itu aku sangat mencintaimu." Adry mengecup kening Raina.
"Aku tinggal dulu, putri kecilku pasti sedang merajuk di kamarnya."
"Ya, dia selalu mendengarkan apa yang kau ucapkan!"
Adry lalu pergi dari dapur bersih di rumah itu. Hana yang berdiri tidak jauh dari dapur lantas mendekat ke arah Raina.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Hana.
"Banyak," jawab Raina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan disini hingga semuanya selesai."
"Itu bagus, karena aku butuh asisten untuk memasak." Mereka lalu tertawa kecil.
Raina mengatakannya dengan nada santai. Dia bahkan menutupi masalah keluarganya tadi, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang harus ku lakukan?"
"Kau bersihkan semua bumbu itu terlebih dahulu."
"Kita akan masak apa?"
"Udang bakar, cah brokoli dengan salmon, ayam, aku tidak tahu harus dimasak apa, itu untuk yang tidak suka pada udang. Apa kau punya usul yang bagus?"
"Aku tidak tahu selera kalian, jadi tidak bisa memutuskan harus diapakan ayam ini?"
"Tenang saja, semua sudah terbiasa dengan masakan Indonesia."
"Bagaimana jika ayam tangkap?"
"Wah, resep itu belum pernah ku coba, tapi aku pernah memakannya dan rasanya, lezat. Kalau begitu kau masak ayam itu dan nasinya sekalian."
"Sungguh?" tanya Hana tidak percaya Raina mempercayakannya masak untuk sebuah keluarga besar yang pasti selera makannya berkelas.
"Apakah aku dalam mode bercanda? Tidak kan?"
" Baguslah! Kalau begitu mari kita eksekusi semuanya!"
Mereka mulai sibuk di dapur. Raina mengajak Hana berbicara dengan santai terkadang bergurau dan mereka tertawa bersama. Hana yang tadinya merasa canggung dan takut menjadi rileks.
"Roy memang benar. Kau orangnya sangat bersahabat."
"Apalagi yang dia katakan mengenaiku," tanya Hana mulai memasukkan adonan desert ke dalam kulkas. Wanita itu nampak mahir dan cekatan dalam mengolah semua masakan yang ada.
"Katanya aku harus berbicara banyak denganmu, agar mengerti jika...," Hana menghentikan pembicaraannya. Tidak tahu harus berkata apa.
"Aku merasa tidak bisa berada di sini karena beberapa alasan. Satu statusku, kalian terlihat, wah." Hana mengatakannya dengan susah, agar Raina tidak berpikir buruk dengan masalahnya.
Raina yang mendengar lalu tertawa keras. "Itu wajar. Aku dulu pernah merasakannya. Tapi nasibku dengan kau jauh berbeda. Kau langsung diterima di keluarga ini dan Roy juga langsung menerimamu dengan sepenuh hati. Sedangkan aku harus berjuang untuk mendapatkan hati semua orang termasuk hati suamiku."
"Sungguh?" tanya Hana tidak percaya.
"Ya. Banyak sekali masalah yang terjadi. Aku tidak bisa membukanya satu persatu karena itu sama saja dengan membuka luka lama." Raina menghela nafasnya.
"Aku juga dulu dari keluarga tidak mampu," jujur Raina.
"Ya, Roy pernah mengatakannya."
__ADS_1
"Intinya jika kau melakukan semuanya dengan hati dan perasaan maka semuanya akan berjalan dengan baik sesuai dengan yang kau inginkan. Walau awalnya terasa sulit. Sabar adalah kunci dari menyelesaikan semua masalah yang ada."
"Aku melihat suamimu sangat mencintaimu."
"Tentu saja, karena dia melihat perjuanganku dalam mempertahankan keutuhan keluarga. Jika tidak, aku akan mencincang nya seperti bawang ini."
Mereka tertawa lagi.
"Bagaimana kau bertemu dengan Roy jika boleh tahu?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Setahuku, aku ada di sebuah kafe mengerjakan tugas kuliah. Aku mengantuk dan tidak sadarkan diri di sana. Lalu tiba-tiba aku terbangun dan...." Hana terdiam. Menjatuhkan spatula ke lantai. Matanya memerah dan meneteskan air mata. Wajahnya berubah menjadi takut dan cemas serta tertekan.
Raina yang tahu ada yang tidak beres lalu mematikan kompor. Dia mendekati Hana.
"Hana, kau baik-baik saja! Hana... Hana... .''
" Dia... Dia...." Hana lalu berjongkok dan menutup wajahnya. Tubuhnya bergetar terdengar isakan kecil dari mulutnya.
"Roy... pelayan!" panggil Raina yang nampak khawatir. Dia memeluk Hana.
"Jangan sentuh aku!" ucap Hana bergerak ke belakang hingga tersudut.
"Roy! Atau siapa pun cepat datang ke dapur!" teriak Raina melihat ke sekitar. Dia tahu keadaan Hana tidak baik-baik saja. Anak itu nampak trauma oleh suatu hal.
Roy yang sedang lewat di sekitar dapur lalu mendekat ketika mendengar teriakan Raina.
"Ada apa?" Roy lalu melihat Hana duduk di lantai.
"Ya, Tuhan Hana. Apa yang terjadi tadi? Kenapa dia sampai seperti ini?"
"Aku tidak tahu, aku hanya bertanya kapan kalian bertemu lalu dia seperti ini."
Roy mendesah menarik rambutnya ke belakang. Janeta dan Carl lalu mendekat.
"Ada apa?" tanya Adry yang mendengar teriakan Raina. Untung saja anak-anak berada di lantai, kamar Aaric atas sehingga tidak tahu apa yang terjadi.
"Dia mungkin mengalami trauma. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang," terang Roy pada keluarganya.
"Trauma?" gumam yang lain menatap miris pada Hana.
"Ya, ini salahku dan aku yang harus bertanggung jawab."
"Bisakah kalian tinggalkan kami sendiri," kata Roy mencoba bersikap tenang.
"Baiklah, tapi setelah ini kau harus menceritakan pada kami. Biar kita atasi bersama-sama," ujar Carl.
"Iya, Ayah. Aku tahu itu," ujar Roy. Raina ingin sekali memeluk Hana, namun wanita itu nampak takut pada sentuhan semua orang. Hana menyembunyikan wajahnya diantara dua lutut.
__ADS_1
"Ayo semuanya, biarkan Roy mengatasinya. Raina kau bisa meneruskan masakannya nanti," perintah Carl. Semua mulai meninggalkan Roy sendiri bersama Hana di dapur.