Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Petuah Sangat Dokter


__ADS_3

Setelah beberapa pertanyaan Rama mulai menghentikan hipnoterapinya tetapi sebelum itu dia memberi beberapa pengertian pada Hana dalam alam bawah sadarnya.


"Apa kau merasa pria bermata coklat itu merasa menyesali semua yang telah terjadi?"


"Ya, dia meminta maaf padaku namun itu terlalu sakit untuk dilupakan. Jika aku menatapnya, aku langsung teringat akan kejadian itu."


"Apa kau membencinya?"


"Awalnya iya, kini hanya ada rasa takut yang tidak bisa ku cegah. Jangan katakan padanya masalah ini karena itu adalah alasanku menolak menikah dengannya." Rama menutup mulut dan menatap jahil pada Roy. Dia menggerakkan jari telunjuk padanya.


"Jadi kau sangat takut?"


"Iya, aku tidak suka jika berdekatan dengannya namun dia baik pada anakku jadi aku tidak bisa menolak hal itu. Lagipula terkadang dia juga menyenangkan ketika diajak berbicara."


"Dia menyenangkan, itu awal yang bagus. Okey, Hana aku akan memberikan stimulan padamu agar kau bisa mengatasi ketakutanmu. Jadi dengarkan aku baik-baik."


"Roy tidak se mengerikan yang terlihat. Dia pria yang lembut hatinya jika kau mengenalnya dengan baik. Dia sangat merasa bersalah padamu dan mencoba memperbaiki semuanya. Satu hal yang harus selalu kau ingat jika dia sangat mencintaimu."


Roy, ingin menyela tetapi Rama Merenggangkan tangan ke arahnya


"Tidak, dia mencintai istrinya bukan diriku. Dia masih menyimpan foto mereka. Alasannya menikahiku karena anak-anak."


"Tidak, dia mencintaimu, kau adalah masa depannya sedangkan istrinya adalah masa lalu. Percayalah padanya karena dia tidak akan pernah menyakitimu lagi. Kau dengar yang kukatakan Hana!"


"Ya, aku mendengarnya."


"Ingat percayalah jika dia tidak akan menyakitimu karena dia sangat mencintaimu. Sekarang kau bangun dari tidurmu dan buka mata dalam hitungan ke tiga. Satu, dua, tiga."


Hana lalu mulai membuka matanya. Dia lalu melihat semuanya terutama menatap Roy yang duduk di salah satu sofa menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dimengerti oleh Hana.


"Apa yang terjadi?"


"Tidak terjadi apa-apa. Bagaimana perasaanmu apakah lebih ringan dan enak?" tanya Rama.


Hana memegang dadanya yang sudah tidak terasa nyeri lagi. Dia merasa lega dan enakan, tidak seperti biasanya. Seolah beban yang menghimpit dadanya hilang seketika.

__ADS_1


"Roy duduklah di dekat Hana."


Roy lalu bangkit dan duduk di sofa, di sebelah kaki Hana. Wanita itu ikut duduk menghadap Roy, lalu tersenyum gugup.


"Hana coba tatap Roy, dia ingin mengatakan sesuatu tentang perasaannya."


Hana nampak ragu, dia menatap Rama. Pria itu malah menganggukkan kepala. Dengan malu Hana menatap Roy.


"Apakah kau takut padanya?"


"Tidak."


"Sungguh?"


Hana mulai menatap Roy dengan intens. Roy balik melihatnya dengan lembut. Tangannya dengan pelan mulai diangkat menyentuh kulit wajah Hana.


Awalnya Hana terkejut, namun dia diam saja. Tetap menatap Roy.


"Dengarkan aku, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku menghormatimu sebagai ibu dari anak-anakku dan aku juga menyayangimu."


"Sangat mencintaimu. Jadi jangan takut padaku lagi. Jika kau tidak nyaman terhadap satu hal tentang ku, tinggal katakan saja tanpa ada rasa takut."


"Sungguh?"


"Ya," ucap Roy. Walau dia belum ada rasa cinta pada Hana tapi dia mencoba untuk menghadirkan nya demi kesembuhan wanita itu.


Rama lalu memberikan beberapa cara untuk mengatasi trauma Hana.


"Yang pertama harus kau lakukan adalah fokus pada hal penting. Apa hal penting dalam hidupmu saat ini Hana?"


"Kebahagiaan anak-anak."


"Kau benar dengan memilih itu sebagai prioritas. Kau memang Ibu yang hebat."


"Jika bukan karena anak-anak, aku mungkin sudah akan mati bunuh diri. Anak-anak yang menguatkan hati dan jiwaku sehingga aku punya semangat untuk hidup," terang Hana.

__ADS_1


"Karena itu kau mulai menghabiskan waktu untuk anak-anakmu. Isi kegiatanmu dengan hal yang berhubungan dengan mereka."


"Ketika berhadapan dengan trauma psikologis, fokuslah pada apa yang benar-benar perlu dilakukan dalam keseharian, sehingga kau dapat menghemat energi fisik dan emosional."


Hana mengangguk. Roy mendengarkan dengan seksama.


"Yang kedua adalah kembali ke rutinitas dan cintai diri sendiri. Konsumsi makanan yang sehat, cukup tidur, berolahraga secara teratur, dan melakukan berbagai hal lain untuk menjaga tubuh agar berfungsi dengan baik."


"Selain itu, cobalah melakukan hal-hal yang kau sukai, untuk menghilangkan stres. Wanita suka belanja. Ajak dia berbelanja Roy, jangan hanya mengurungnya dalam istana ini."


"Beres, asal dia mau," balas Roy.


"Beraktivitas dapat membantu mengalihkan pikiranmu dan mengatasi trauma," lanjut Rama.


"Karena itu dalam keseharianku selalu disibukkan dengan pekerjaan. Jika aku punya waktu senggang dan melamun maka bayangan kejadian dulu akan kembali lagi," ungkap Hana.


"Kau sudah melakukan hal benar dalam menghadapi rasa cemas dan gelisahmu."


"Yang ketiga, tenangkan diri dengan menarik napas. Itu jika kau mulai merasa tidak nyaman karena mengingat hal buruk yang telah terjadi dalam hidupmu." terang Rama.


"Ketika cemas, stres, marah atau gelisah muncul, cobalah tarik napas dalam-dalam beberapa kali agar kamu dapat berpikir jernih dan menjadi lebih tenang. Kamu juga bisa mencoba meditasi untuk membantu menenangkan pikiran. Roy pandai melakukannya. Minta bantuannya untuk mengajarkan meditasi padamu."


"Lalu selanjutnya kerjakan secara bertahap.Tekanan dalam pekerjaan atau aktivitas bisa memicu stres. Untuk itu, bagilah tugas besar menjadi beberapa bagian yang bisa dikerjakan secara bertahap. Lakukan semampu mu. Ketika mulai merasa penat, ambil jeda sejenak, lalu mulai kerjakan lagi.


"Ini yang sangat penting dalam mengatasi depresi, tidak menyalahkan diri sendiri. Rasa bersalah, malu, marah, kecewa, sedih, dan mengasihani diri sendiri secara berkepanjangan, justru akan menjadi penyakit bagi diri sendiri. Kau tidak akan bangkit malah semakin terpuruk dalam keadaan. Kau seperti dalam lubang gelap. Bukannya bergerak untuk mencari cahaya kau malah merutuki kesalahan dan nasibmu yang buruk. Menerima apa yang terjadi dapat mempermudah proses pemulihan diri dari trauma.''


"Aku akan datang sesuai jadwal untuk membantumu keluar dari masalah ini. Jika kau tiba-tiba merasa tertekan kau bisa langsung menghubungiku lewat sambungan telepon. Jika gawat dan butuh penanganan cepat akan datang segera. Roy, kau harus selalu mengawasinya. Tidak boleh lengah karena dia bisa membuat tindakan yang ekstrim."


"Aku akan selalu mengawasinya selama dua puluh empat jam, hingga dia benar-benar puluh dari traumanya."


"Itu bagus, kau yang membuat luka kau pula yang harus mengobatinya."


Roy mengangguk. Tangannya meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat.


"Beri aku satu kesempatan untuk membuktikan semua kata-kataku. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kau sukai lagi. Kau bebas menentukan apa yang kau mau dalam hidup ini."

__ADS_1


__ADS_2