
"Aku tahu kau sengaja melakukannya, Bu." Raina bangkit lalu membantu Janeta ke kamar. Mendudukkan di tempat tidur lalu mengambilkan pakaiannya.
"Terserah Ibu mau melakukan apa, semua itu hanya bisa menyakiti hati Ibu sendiri. Semakin Ibu membenciku semakin besar kemarahan keluarga ini pada Ibu. Jika kau tidak lelah hidup dalam dendam maka teruskan karena itu akan membunuhmu perlahan. Aku akan tenang setelah kau tiada," ucap Raina tenang memasukkan gaun melewati kepala Janeta.
"Aku akan mengganti bajuku setelah itu baru aku akan kembali membawa obat dan makanan." Raina lalu meninggalkan kamar itu.
"Ibu...," panggil Regina yang baru bangun di belakangnya ada pengasuh yang akan membantu Raina mengurus Rere.
"Tubuh Ibu kotor, jadi harus mandi dulu baru kau boleh mendekat, Okey." Netra kecil Rere mengamati Raina.
"Ibu basah? Ibu mainan air?" tanya Rere. Raina tertawa.
"Ya, Ibu tadi bermain air bersama dengan nenekmu," jawab Raina. "Sekarang kau bersama dengan Nanny saja. Okey."
"Tapi jangan lama Ibu, aku ingin makan disuapi Ibu," ujar Rere dengan wajah merajuk.
"Siap, nanti kita buat susu dan sarapan untukmu."
Raina lalu masuk ke dalam kamarnya dan langsung ke kemar mandi. Dia meletakkan kedua tangannya untuk menumpu tubuh di wastafel. Memandangi wajahnya sendiri di cermin dengan perasaan marah.
Dia bukannya tidak melihat sikap keterlaluan Janeta hanya saja jika dia melawan dengan kekerasan yang ada malah pertikaian kembali terjadi. Tarik ulur, taktik itu yang dia katakan.
Matanya memerah, menahan air mata. Rasa sakit dan marah bercampur menjadi satu. Dia tidak ingin seperti ini namun dia harus berjuang untuk keutuhan keluarga ini terutama keutuhan hubungannya dengan Adry.
"Ini baru awal Raina, dia belum menggila untuk membuatmu bertekuk lutut," ucapnya pada diri sendiri.
"Aku heran mengapa dia begitu keras kepala, apakah sewaktu di dalam kandungan ibunya itu ngidam batu sampai lahir manusia seperti itu. Bukannya rasa sakit itu membuat pelajaran baginya untuk bersikap baik, tapi dia malah masih sama dan makin menjadi. Untung saja Adry dan Ayah Carl sudah tahu sifatnya jika tidak. Aku yakin dia akan mudah untuk memfitnahku kembali."
"Jangan panggil aku Raina jika tidak bisa memberi kesejukan pada hatimu Janeta. Lihat saja kau pasti akan memelukku suatu hari nanti," geram Raina.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian dilalui Raina dengan berbagai macam kesibukan. Dari mengurus rumah, mengurus mertua dan anaknya belum lagi suaminya yang meminta jatah.
Pagi ini kepalanya sudah mulai terasa pening. Dia malas untuk bangun tetapi Janeta tidak bisa melakukan apa-apa sendiri.
Dia lalu pergi ke dapur untuk memerintahkan pelayan menyiapkan menu untuk makan pagi, membuat kopi untuk Adry dan mertuanya serta susu untuk Leon. Lalu ke kamar Janeta untuk menyerahkan teh hangat.
Setiap pagi tiba Janeta sudah mau dia ajak keluar untuk menikmati cahaya di pagi hari. Dia juga sudah tidak menolak untuk dibersihkan terlebih dahulu jadi Raina bisa merawat Rere setelah melayani Janeta.
Perutnya terasa mual ketika memandikan Janeta. Wajahnya pun telah memucat tetapi dia mencoba untuk bertahan.
"Kau kenapa?" tanya Janeta dengan ketus.
"Tidak apa-apa, mungkin kurang tidur."
"Huh, kurang tidur hampir setiap malam aku tidak pernah tidur," omel Janeta. Raina tersenyum lalu mengambil handuk dan menutupi tubuh wanita tua itu.
Raina membawa Janeta keluar kamar.
"Untuk apa? Tidak ada yang peduli aku bisa berjalan normal atau tidak," ujar Janeta. "Mungkin untuk bisa menjatuhkan ku lagi," lanjutnya.
"Itu bagus, aku tidak apa-apa asal Ibu sudah pulih kembali normal. Kita nanti bertarung lagi untuk memperebutkan perhatian Adry."
Janeta terkadang kesal dengan sikap Raina yang tidak mempan dia hina atau ejek. Sesekali dia menimpali tetapi dengan jawaban yang tidak bisa dia balik.
Dia juga tidak menyerah walau berkali-kali dia menyerang atau sengaja membuat masalah. Hanya sedikit mengomel tetapi tetap merawatnya dengan baik.
Kadang Janeta sengaja membuat ulah agar Raina datang di tengah malam. Wanita itu memang datang dan menyelesaikan pekerjaannya lalu tidur lagi. Adry sendiri hanya menatap Janeta tajam dari luar kamar. Anaknya itu terlihat kesal dan marah. Namun, Raina hanya mengusap lengannya dan membawa Adry kembali ke kamar. Seolah sentuhan Raina adalah obat dari semua masalah Adry.
"Ayo Bu, kita ke bawah," ujar Raina setelah menyisir rambut Janeta. Dia membantu Janeta naik ke kursi roda lalu mendorongnya keluar kamar. Dari kaca jendela Janeta bisa melihat Raina yang berkali-kali memegang kepalanya. Namun, dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan melakukan hal menyebalkan serta merepotkan Raina.
__ADS_1
Perut Raina terasa semakin kencang dan melilit. Kepalanya juga terasa sangat sakit. Pagi ini, dia bahkan tidak mandi karena takut dengan dinginnya air tetapi tetap membersihkan tubuh Janeta. Untung saja sekarang ini wanita itu tidak memintanya membantu ketika sedang buang air besar. Tidak seperti saat awal-awal.
Sikapnya juga sudah lebih baik. Walau masih berbicara walau dengan nada ketus dan tidak enak di dengar. Setidaknya dia sudah tidak berusaha untuk berulah atau ingin mencelakai Raina lagi. Raina bersyukur untuk perubahan ini.
"Frans... ambilkan obat Ibu di kamar," perintah Raina pada Frans yang ada di dekatnya. "Sekalian lihat apakah makan pagi sudah siap semua. Suamiku panggil dia untuk turun makan pagi. Leon juga kenapa dia belum terlihat sama sekali. Kau lihat juga."
Frans menghitung perintah Raina dengan jarinya. "Akan saya lakukan semua perintah Anda Nyonya."
"Ya ... ya... aku mengandalkan mu kali ini."
"Ini sudah jadi tugas dan tanggung jawab saya un... ," perkataan Frans terhenti ketika Raina merenggangkan telapak tangan ke arahnya.
"Jika kau terus berbicara kapan melakukan tugasmu. Ini sudah siang!"
Frans lalu berlari pergi sebelum Raina mengomel. Omelannya membuat Frans pusing tujuh keliling karena tidak akan berhenti sebelum semua nampak sempurna.
"Tidak biasanya kau menyuruh pelayan untuk membantumu. Katanya kau ingin melakukan segala sesuatunya sendiri," sindir Janeta.
"Bu, aku sedang tidak ingin berdebat."
"Sekarang nampaknya kau yang kesakitan. Janeta mengambil teh dengan satu tangannya dan meminum.
Raina tidak memperdulikan ucapan Janeta, dia duduk di salah satu kursi dan memijat kepalanya.
"Ibu, apa kau melihat buku tugasku yang kukerjakan di ruang tengah semalam."
"Tunggu aku meletakkannya di ... aww," Raina memekik kesakitan. Dia terlihat memeluk perutnya dengan wajah pucat sembari meringis .
"Ayah... Ibu kesakitan. Cepat kemari... ," teriak Leon meminta bantuan Ayahnya.
__ADS_1
"Raina kau tidak apa-apa kan? Kau tidak sedang bercanda."
"Sakit Ibu... ," ucap Raina dengan mata setengah terpejam.