Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Lamaran kedua


__ADS_3

Ayu dan Bagus memegangi perut mereka yang kekenyangan. Mereka telah menghabiskan dua piring nasi beserta lauknya tidak menyangka jika ada desert yang lezat. Roti dengan es cream di atasnya. Mereka tidak bisa membiarkan makanan itu terbuang sia-sia jadi akhirnya mereka makan sampai habis namun hasilnya perut mereka serasa mau meledak.


"Apa Ibu bilang makan sedikit saja," ujar Hana membersihkan mulut kedua anaknya secara bergantian dengan tissu.


"Biarkan saja Bibi, biasa anak memang seperti itu jika melihat makanan yang disukainya. Bagus nanti ke kamar yuk. Kakak masih menyimpan banyak mainan."


"Wah, mainan?" tanggap Bagus antusias.


"Ih... aku juga mau lihat boleh?" sela Ayu.


"Tentu saja, Cantik," ujar Leon membuat mata Ayu mengerjap. Dia memegang dadanya.


Roy yang melihat hal itu menaikkan kedua alisnya. Sedari tadi, Ayu terlihat sekali memperlihatkan kekagumannya pada Leon.


Hyun yang baru masuk ke dalam rumah langsung menghampiri Roy.


"Pak, saya sudah membawa barang-barang yang dipesan."


"Kalau begitu masukkan ke dua kamar tamu. Sekalian kau panggil desain interior untuk merancang kamar mereka di lantai tiga. Untuk balkon kamar aku minta untuk lebih ditinggikan."


"Baik, Pak!" Hyun lalu pamit untuk mengerjakan semua perintah Roy.


"Om, nanti aku ada urusan. Mungkin akan pulang malam."


"Dengan siapa? Jangan bilang wanita, kau itu masih muda, harus pandai menjaga diri. Jangan terperosok pada pergaulan bebas."


"Iya, Om."


"Ayo Bagus, Ayu kita ke kamarku," ajak Leon. Bagus dan Ayu lalu mengikutinya.


Sedangkan Hana menata bekas makan mereka.


"Sudah biarkan saja. Nanti akan ada pelayanan yang merapikannya."

__ADS_1


"Jika hanya duduk saja aku bisa mati bosan."


"Kalau begitu ikut aku," ajak Roy menarik tangan Hana.


"Dia membawa Hana ke sebuah lorong di sana ada tiga deret kamar yang saling bersisian."


"Ini kamar tamu rumah ini. Dua diantaranya sudah siap untuk digunakan. Satu untuk Bagus dan satu untuk Ayu."


"Kenapa tidak jadi satu kamar saja mereka?"


"Mereka anak laki dan perempuan harus tidur terpisah."


"Baiklah. Ini kamar sementara mereka sebelum kamar yang asli selesai di rancang sesuai keinginan mereka."


"Memang berapa banyak kamar dalam rumah ini?"


"Ada dua belas, tiga di bawah empat dilantai dua dan lima dilantai tiga. Itu lantai di mana aku berada."


Di sana sudah ada pelayan yang sedang menata baju baru untuk Bagus yang dibawa oleh Hyun. Orang kaya bisa melakukan apapun dengan mudah dan cepat. Pikir Hana.


"Bagaimana kau suka?"


"Ini lebih dari cukup," ungkap Hana melihat semua isi kamar lalu melongok ke kamar mandi.


"Kita ke kamar sebelah." Roy lalu membawa Hana ke kamar satunya.


"Ini lebih luas, kau bisa menggunakannya dengan Ayu. Ada beberapa potong baju yang aku pesan kan untukmu, semoga muat dan pas. Aku juga memesankan sandal dan sepatu. Kau bisa menggantinya jika tidak suka dan tidak pas. Desainernya kenal denganku jadi tidak masalah jika kita mengembalikan barang yang tidak bisa digunakan."


Hana melihat banyak paper bag di atas tempat tidur. Ada merk sepatu mahal di sana. Hana duduk lalu membukanya. Dia pernah mempunyai merk ini ketika almarhum ayahnya masih hidup. Dia sama sekali tidak menyangka jika kehidupannya akan kembali membaik. Dia lalu menatap Roy yang tiba-tiba duduk bersimpuh di depannya.


"Aku tidak bisa merangkai kata atau melakukan hal romantis. Tapi aku ingin sekali mengajakmu menikah kali ini jangan menolaknya. Mungkin kau tidak bisa mencintaiku sekarang tapi kita bisa melakukan ini untuk kebahagiaan si Kembar. Aku tidak ingin kau mengatakan ya lalu pergi melarikan diri lagi. Katakan ya memang dari dalam hatimu."


"Aku tidak siap dengan semua ini dan pernikahan yang kau inginkan. Jika boleh aku meminta biarkan kita saling mengenal dulu dan memahami perasaan masing-masing. Ini terlalu cepat bagiku."

__ADS_1


"Pernikahan itu bukan sebuah tawar menawar tetapi itu sebuah janji sakral kita kepada Tuhan yang mengikat satu sama lainnya dalam suatu hubungan suci. Kita tidak bisa mempermainkannya, harus dilakukan dengan sepenuh hati. Walau tidak ada cinta setidaknya ada kepercayaan."


"Kita tidak bisa menjadikan pernikahan itu seperti bisnis yang akan memberi keuntungan keduanya. Karena menikah berarti berkomitmen akan bersama dalam suka dan duka, akan menerima kekurangan pasangannya, akan setia satu sama lainnya. Apakah kau bisa melakukannya? Apakah aku juga bisa mempertahankannya? Jika kita tidak punya pondasi yang kuat maka pernikahan itu akan hancur cepat atau lambat."


"Aku tidak ingin menikah hanya karena anak dan akan membuat batinku tersiksa karena merasa terpenjara oleh hubungan itu. Namun, aku ingin menikah karena aku siap menjalaninya dengan bahagia bukan dengan 'paksaan." Tegas Hana.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir dan mengenalku lebih baik."


"Kalau begitu biarkan aku pulang ke rumahku."


"Bagaimana kita akan saling mengenal jika kau berada jauh dariku. Aku orang yang sibuk Hana jarang bagiku punya waktu di rumah. Jika kau disini kita bisa bertemu saat pagi dan makan malam."


"Jika kau sibuk mengapa kau tidak pergi bekerja dari kemarin."


"Aku membatalkan banyak pertemuan dengan klien dan bawahan ku untuk bertemu dengan kalian." Roy bangkit dan berjalan ke arah jendela melihat pemandangan halaman rumah belakang.


"Untuk soal kebebasan. Kau boleh pergi kemanapun kau mau melakukan apapun yang kau inginkan. Namun, akan ada yang menemanimu untuk memastikan keamananmu, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu," lanjut Roy. "Aku tidak ingin kau menolaknya. Ini syarat mutlak dariku."


"Satu lagi, ini rumahmu jadi kau harus kembali kemari."


"Itu namanya kau mengikat ku. Aku ingin.... "


"Tidak Hana, aku sudah memenuhi keinginanmu dan aku harap kau juga faham apa keinginanku."


"Baiklah aku akan tetap tinggal di sini namun jika kita tidak ada kecocokan, kumohon lepaskan aku. Biarkan aku hidup bebas di luar sana. Anak-anak biar memilih untuk tinggal bersamamu atau aku atau kita bisa merawatnya bersama."


Roy terasa berat untuk mengatakan 'Ya'. Namun, semua yang Hana katakan memang benar. Mereka tidak bisa menikah hanya karena anak. Mereka butuh kepercayaan dan kasih sayang. Hal itu tidak bisa ditumbuhkan dengan waktu satu atau dua hari saja. Butuh pengenalan.


"Aku sebenarnya tidak setuju dengan kata-kata mu. Namun, aku percaya jika kau memang jodohku kau akan tetap berada di sisiku. Jika bukan sebaik apapun aku mengikatmu, kau akan pergi juga."


***


Fix authornya ngantuk jadi kata-katanya ngawur besok mungkin akan di revisi.

__ADS_1


__ADS_2