Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Stamina Bagus


__ADS_3

"Kaos kakimu ibu simpan di sini." Hana membuka laci lemari plastik bergambar kuda Pony.


"Aku tidak tahu." Hana mau membantu Ayu memakaikan kaos kakiny tetapi Roy mengambil. Dia yang melakukan itu. Hana sendiri memeriksa bawaan Ayu dalam tas.


"Apakah ada yang tertinggal?"


"Tidak, Bu, semua sudah dimasukkan di dalam."


"Kalau begitu kita sarapan sekarang. Ayah sudah siapkan sarapan untuk kita semua." Roy menggendong tubuh Ayu.


Hana menggelengkan kepala. Roy terlalu memanjakan Ayu sehingga sekarang selalu bertindak manja. Semua keperluan Bagus juga dia penuhi tetapi Roy memperlakukannya seperti anak lelaki pada umumnya. Katanya agar dia menjadi pria yang tangguh dan tidak cengeng.


Anak lelakinya juga di beri les tambahan ilmu beladiri. Sedangkan Ayu disuruh memilih les tambahan yang dia suka dan Ayu memilih les menari sama dengan temannya di sekolah. Intinya, Roy memperlakukan kedua anaknya dengan cara yang berbeda walau keduanya dia sayangi.


"Wah, Ayah masak apa?" tanya Ayu. "Pasti nasi goreng."


"Bukan, jika itu khusus ibumu memasak. Ayah hanya bisa masakan western."


"Apa itu western?"


"Masakan ala Eropa."


Sesampainya di bawah Bagus sudah menyelesaikan makanannya. Dia membuka gadgetnya dan menyipitkan mata pada Ayu.


"Ck, sudah besar tapi masih saja minta gendong Ayah!"


"Ayah yang menggendong ku bukan aku yang meminta."


"Dasar manja!" ujar Bagus.


"Bagus kau tidak boleh seperti itu pada adikmu." Ayu menjulurkan lidah pada Bagus, merasa dibela oleh Ayahnya.


"Apa kau sudah membuat kopi?"


"Belum, aku lupa. Ehm bukan, aku menunggu kau yang membuatnya."


"Semua itu kau yang menyiapkan?" tanya Hana meletakkan satu tangan di pinggang.


Roy mengangkat kedua alisnya dengan bangga.


"Kalau begitu mulai besok kau saja yang siapkan sarapannya."

__ADS_1


"Ayu sarapan dulu," bisik Roy pada putrinya. Dia lalu mengikuti Hana yang pergi ke dapur bersebelahan dengan ruang makan.


Satu tangannya memegang pinggang Hana dari belakang. "Jika kau melayani ku setiap malam tidak masalah jika aku memasak untukmu," ucap Roy lirih di telinga Hana.


Hana menabok tangan Roy. "Anak-anak nanti melihatnya."


"Jadi jika anak-anak tidak melihat boleh?"


Hana melebarkan matanya.


Roy tersenyum, lalu bersandar di meja dapur memandangi Hana yang sedang fokus membuatkan kopi untuknya.


Dia melihat rambut Hana yang maju ke depan. Roy lalu menarik ikat rambutnya dan bergerak mengikat rambut Hana.


"Suami istri berbagi ikat rambut, tidak lucu kan?" kata Hana menyerahkan kopi untuk Roy.


"Lucu saja, tidak ada yang protes." Roy menyesap kopinya.


"Ayah, Ibu kami sudah selesai," teriak anak-anak.


Hana dan Roy, lalu mengantarkan keduanya ke mobil. Sopir yang akan mengantar si Kembar ke sekolah. Setelah itu, mereka kembali ke meja makan. Untuk menikmati makanan buatan Roy yang berbau gurih keju dan manis.


"Kau tidak membangunkanku?" tanya Hana menatap Roy. Pria itu nampak sedang menikmati makannya.


Hana yang sedang meminum jus nya tersedak mendengar jawaban Roy yang apa adanya. Secara reflek Roy menarik dan memberikan tisu pada Hana.


"Itu benar. Tadi malam, aku hanya menggunakan kurang dari separuh dari tenagaku." Roy mengatakannya tanpa ekspresi.


Hana hanya bisa menghela nafas, teringat malam pertama mereka dulu. Roy memang benar-benar menghabisinya tidak memberinya jeda untuk istirahat sedikitpun. Seperti binatang yang kelaparan dan memakan habis mangsanya. Seketika bulu roma nya berdiri semua.


"Aku akan pikir ulang menikah denganmu," ucap Hana. Dia meneruskan makan pagi yang Roy buat untuk mereka semua. Sebuah roti panggang yang dimasak ala Perancis. Lezat dan rasa gurih susunya merasuk hingga ke dalam. Ini adalah potongan kedua roti yang dia makan. Dia tidak tahu jika Roy adalah chef yang bisa diandalkan.


"Kau hanya bercanda kan, Sayang?" Roy meletakkan alat makannya dan menatap Hana dengan seksama


"Belum separuh saja sudah membuat tubuhku sakit semua bagaimana jika... kau tahu... aku tidak bisa membayangkannya."


Roy tertawa dan menggelengkan kepala. Dia kira karena apa, Hana akan membatalkan rencana menikah mereka ternyata hanya karena faktor itu. "Semua wanita menyukainya dan mencari pria sepertiku tapi kau...?"


Hana terdiam, menikmati makan paginya. Tidak peduli dengan keterangan yang Roy katakan. Pikirannya sendiri sudah cemas dengan malam-malam yang melelahkan akan dia lalui bersama Roy nantinya. Apakah dia akan kuat melayani nafsu berat suaminya?


"Kau akan terbiasa nanti," ucap Roy dengan kilat mata genitnya. Dia geli dengan pemikiran Hana. Namun, itu lumrah karena Hana adalah pemula sedangkan dia dulunya adalah pecinta hal itu. Namun, tidak dengan semua wanita hanya kekasihnya atau pasangannya saja.

__ADS_1


"Seharusnya kau yang mengerti diriku bukan aku yang mengikutimu," debat Hana kesal. Tubuhnya masih terasa remuk dan dia bahkan sukar untuk berjalan normal.


"Daripada memikirkannya bagaimana kalau kita lakukan saja?" ajak Roy. Dia menggerak-gerakkan dua alisnya ke atas.


"Tidak. Kau harus pergi bekerja dan aku akan tidur. Sepertinya butuh tukang urut," gerutu Hana.


"Kau hanya butuh berendam air hangat dan mengkonsumsi beberapa vitamin. Aku akan memberikannya nanti."


"Soal itu kau tidak bercanda kan?" Hana takut sendiri dengan ucapan Roy yang mengatakan baru mengeluarkan separuh tenaganya.


"Tidak! Apakah kau pernah melihatku bercanda?"


"Tidak." Hana menyandarkan tubuhnya di kursi, menarik nafas dalam. Apakah dia bisa mengimbangi calon suaminya dalam hal bercinta? Pikir Hana.


"Aku akan memanggil instruktur olah raga dan Yoga kemari, agar tubuhmu lentur dan tidak mudah cepat lelah."


"Apakah tubuhku kaku sehingga perlu dilenturkan?" Hana sewot mendengarnya.


"Bukan kaku, hanya saja agar kau tidak mudah tegang dan kita bisa melakukannya dengan banyak variasi."


"Pak Roy," panggil Hana lambat namun Roy menggelengkan kepalanya.


"Sayang jika hanya kita berdua dan Ayah jika bersama anak-anak."


Hana menarik nafas panjang. "Sayang, aku kira kau itu pria yang kaku dan dingin. Nyatanya jika berhubungan dengan hal mesum kau itu sangat panas dan cepat tanggap."


"Hubungan badan memang bukan segalanya dalam cinta tetapi tanpa itu akan terasa hambar. Percaya padaku. Jika kita bisa menjadi pasangan hebat di ranjang maka akan menjadi pasangan luar biasa di dunia nyata."


Hana menyeka keringat yang membasahi dahinya. Dia lalu menghabiskan jus nya dan bangkit.


"Kau mau kemana?"


"Mandi, disini terlalu gerah." Hana melangkah pergi.


"Biar aku bantu." Hana menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Roy.


"Tidak!"


Tetapi Roy tidak mendengarnya. Dia bangkit. Hana yang melihat langsung berlari.


"Tidak... aku ingin mandi sendiri," ujar Hana. "Akh!" Tubuhnya sudah melayang dan berada di atas bahu Roy. Pria itu menepuk keras pantat Hana.

__ADS_1


"Jadi anak penurut."


__ADS_2