Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kebersamaan


__ADS_3

"Hana apa ini bapaknya anak-anak? Tampan sekali, pantas saja kau jatuh dalam pelukannya?" teriak Ibu pemilik Kontrakan itu.


Hana yang sedang membawa sebuah ember berwarna putih langsung menjatuhkannya ketika melihat sosok Roy.


Wajahnya nampak terlihat pucat pasi, sedetik kemudian dia memperlihatkan ekspresi biasa saja.


"Aku tidak mengenalnya," jawab Hana dengan gigi yang mengatup keras. Kepalanya diangkat, dengan langkah tegas dia menunggu kedua anaknya mendekat.


"Bagas, Ayu, kenapa pergi tidak bilang pada Ibu? Kau tahu Ibu sangat mengkhawatirkan kalian tadi. Ibu takut terjadi apa2 dengan kalian, " omel Hana.


Kedua anak itu lantas menundukkan kepala.


"Aku yang membawa mereka pergi tapi aku te...," perkataan Roy terhenti ketika tatapan mata tajam Hana mengarah padanya.


"Kau tidak seharusnya membawa pergi mereka tanpa seijinku!" tegas Hana. Aura wanita itu begitu kuat sehingga membuat Roy terdiam.


"Bagas tubuhnya sangat panas dan kebetulan Om gagah datang dan dia langsung membawa Bagas ke rumah sakit," Ayu melirihkan akhir kalimatnya ketika melihat tatapan tidak senang dari ibunya.


"Ibu sudah pernah bilang kan agar berhati-hati dengan orang asing karena kita tidak tahu niat mereka itu baik atau jahat," ujar Hana melirik ke arah Roy.


Roy menelan salivanya dengan sulit. Pantas saja jika kedua anak itu sangat takut pada ibunya ternyata dia itu seperti induk ayam yang selalu menjaga anaknya dengan protektif.


"Kita kan pernah bertemu sebelum ini," ujar Roy memberanikan diri. Dia merasa menjadi pengecut di depan Hana. Padahal tubuhnya lebih besar dan Hana juga terlihat sangat muda.


"Kapan? Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya," ucap wanita itu dengan tampang sinis. Tangannya dia lipat ke dada.


"Hana kau jangan terlalu keras pada mereka. Pria ini memang telah membawa anakmu ke rumah sakit. Kau seharusnya berterima kasihlah padanya," ujar Pak Paryo.


Hana menatap malas. "Terimakasih kasih atas semua bantuanmu dan kau bisa pergi dari sini."


"Aku akan pergi setelah membawa mereka masuk ke dalam rumah kalian. Aku juga harus menerangkan kondisi Bagas sekarang ini menurut dokter."


"Kau lihat, dia itu baik. Seharusnya kau memperlakukan dia dengan baik pula. Jangan terlalu sinis pada semua pria. Nanti kau tidak akan pernah menikah!"


"Aku seperti ini saja masih banyak yang datang bagaimana jika aku menjadi wanita ramah?"


"Benar juga. Sekarang bawa pria tampan ini masuk dan kau buatkan air minum. Lalu ucapkan terimakasih dengan benar," ujar Pak Paryo. Dia adalah ketua RT di kawasan ini yang dihormati oleh semua orang.


Hana menarik nafasnya, ekspresinya menyatakan setuju dengan anjuran Paryo.

__ADS_1


"Tuan...?"


"Om gagah," ujar Bagus. Hana menautkan alisnya membuat garis-garis halus di sekitarnya.


"Roy, namaku Roy. Bukankah kita dulu pernah berkenalan?"


"Mungkin karena aku lupa dengan siapa saja aku berkenalan," ujar Hana.


"Om pernah bertemu dengan Ibu?"


"Pernah hanya saja mungkin ibumu telah lupa."


Hana membuang muka ke samping.


"Tuan Roy, tadi Pak RT menyuruhku untuk membawa Anda masuk. Aku tidak tahu Anda sudi atau tidak masuk ke dalam bilik kecilku, namun aku harap Anda bersedia walau sejenak."


"Panggil saja, Roy," ucap Roy berjalan masuk melewati Hana. Wanita itu lantas mengikuti pria itu masuk.


"Mungkin Pak Roy saja. Nampaknya kau jauh lebih berumur dariku." Hana menatap Roy dari bawah ke atas dan tersenyum.


"Kau bebas memanggilku apa saja. Aku akan memanggilmu ibunya anak-anak."


"Panggil saja Hana," ucap wanita itu membenarkan ikat rambutnya yang ditekuk asal.


"Terserah," ucap Hana cuek.


Roy lantas meletakkan bungkusan plastik ke atas tikar dan berdiri.


"Bagas, Ayu kalian sudah makan atau belum. Ibu sudah menyiapkan makan untuk kalian," ujar Hana.


Ayu menatap ke arah Bagas lalu beralih ke arah Roy. Hana mengikuti arah tatap anaknya.


"Mereka belum makan tadi sudah aku tawari tetapi kata mereka ingin di makan di rumah saja. Lihat, aku sudah membawanya."


"Jadi percuma saja ibu memasak?" ungkap Hana duduk dengan lemas di lantai. Wajahnya nampak lelah lahir dan batin. Dia masih muda tapi hidup membuat wajahnya nampak lebih dewasa dari umurnya. Namun, garis-garis kecantikan masih terlihat jelas. Wajar bila banyak yang mengejarnya.


"Kami akan memakan masakan Ibu," ujar Bagas duduk di dekat ibunya. Hana tersenyum dengan sangat manis sambil mengusap kepala Bagas.


"Eh apa ini?" tanya Hana melihat perban elastis yang ada di balik kaos Bagas.

__ADS_1


"Bahunya mengalami sedikit cedera sehingga harus dipasang itu sampai keadaannya membaik. Di samping itu dia juga terkena gejala tipes."


Hana menangkup pipi Bagas. Ekpresinya menyiratkan kesedihan tapi tidak dia ungkapkan.


"Anak Ibu pasti kuat," hanya kalimat itu yang dia ucapkan menanggapi keadaan Bagas saat ini. Luar biasa. Pikir Roy.


Bagas sendiri hanya mengangguk.


"Memang hari ini Ibu masak apa?" tanya Ayu melihat ke arah lemari kayu berisi makanan.


Hana tersenyum kaku, dia berusaha bersikap biasa saja.


"Pak Roy, Terima kasih atas bantuan Anda dan kau bisa pergi sekarang dari sini!" usir Hana.


"Om Gagah, juga belum makan. Boleh dia makan di sini juga?" ujar Ayu tiba-tiba.


Hana mengusap tengkuknya dan nampak berpikir. Beberapa saat kemudian dia ingin mengucapkan sesuatu namun ditariknya lagi ketika melihat tatapan penuh harap kedua anaknya.


"Apakah dia juga mau makan di tempat ini?" Hana terlihat tidak ingin menatapnya.


Mata Ayu bersinar seperti menunggu Roy mengatakan 'Ya'.


"Aku mau," ucap cepat Roy membuat Bagas dan Ayu tersenyum lalu mereka bertos ria.


"Aku akan ambilkan makannya," ujar Bagas hendak bangkit.


"Tidak usah biar Ibu saja. Kau masih sakit jadi tidak boleh banyak bergerak," ucap lembut Hana pada Bagas.


Dengan malu Hana mengambil nasi dan kerupuk dari dalam lemari. Menatap kedua makanan itu dan menghela nafasnya sebelum membalikkan tubuh. Terserah apa yang akan dikatakan pria itu dia tidak peduli. Ini makanan halal dan dari hasil jerih payahnya sendiri. Tidak meminta atau mengemis pada orang lain.


"Uang Ibu hanya cukup untuk membeli ini saja," ucap Hana menunduk.


"Tidak apa-apa. Itu enak karena Ibu yang memasak," ujar Bagas. Terlihat sekali jika anak itu sangat menyayangi ibunya.


Roy bisa membaca situasinya. Tadi Hana mengusirnya karena tidak ingin dia mengetahui keadaan wanita itu dan anak-anaknya. Sikap kerasnya dia perlihatkan untuk menyembunyikan kerapuhan dalam diri.


"Ibu jangan khawatir karena tadi Om Gagah juga membeli makanan untuk kita semua." Ayu lalu membuka satu tas plastik besar berisi lima kotak makanan.


"Kalau begitu biar makanan ini Ibu simpan saja di lemari." Hana merasa rendah diri menatap isi kotak makanan itu

__ADS_1


"Jangan!" cegah Roy.


"Aku suka kerupuk dan sambal. Itu perpaduan yang membuat nafsu makan kita meningkat," lanjut Roy.


__ADS_2