Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Bukan Lawan


__ADS_3

"Hani, kenapa kau menyamar sebagai Hana?" tanya Ibu Alisa pada putrinya.


"Aku terpaksa, Bu, karena hutang perusahaan kita sangat banyak. Jika aku tidak melakukan itu pabrik bisa ditutup dan bukannya itu adalah peninggalan ayah."


"Bukankah sudah kukatakan akan membantu keuangan perusahaan itu setelah kepemilikan saham empat puluh persennya dimiliki oleh Hana," ujar Roy yang tiba-tiba masuk ke dalam. ruangan bersama dengan Hana yang berjalan di belakangnya. Tangan mereka saling menggenggam.


Mata Hani terbelalak lebar. Sejak kapan Hana bersama Roy? Apakah selama ini pria itu sebenarnya tahu jika dirinya bukanlah Hana.


Hani kini mulai bisa memahami situasinya mengapa Roy selalu pulang saat makan malam dan selalu memberi perhatian dengan menyuapi nya. Setelahnya dia akan mengantuk dan tertidur hingga pagi. Pria itu telah mencampurkan obat tidur dalam makanannya sedangkan jika siang dia selalu mendapatkan pengawalan yang ketat.


Roy benar-benar telah menjebaknya dalam situasi ini. Herannya dia tidak tahu akan hal itu.


Pria itu mengenakan stelan hitam dengan jaket kulit yang disampirkan di bahunya yang lebar. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang tinggi dan tegas.

__ADS_1


Hani membuang muka ke samping melihat hal itu. Jauh di dalam hatinya dia iri dengan takdir Hana yang dia pikir selalu beruntung sangat berbeda dengan takdirnya yang buruk.


Kembarannya itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Kasih sayang orang tuanya ketika mereka masih kecil, lalu perhatian dari pria yang dia cintai ketika remaja dan kini keluarga yang hangat dan bahagia. Dia juga punya suami sempurna yang menyayanginya. Keluh Hani dalam hati.


"Hani, kau...," ucap Hana terkejut mendekat untuk melihat kondisi tubuh Hani yang penuh dengan luka.


"Singkirkan tanganmu dari tubuhku, aku tidak perlu ucapan belas kasihmu yang penuh kepura-puraan. Aku tahu dalam hatimu pasti sedang tertawa bahagia setelah tahu apa yang kualami."


Roy tidak terima Hana diperlakukan tidak baik oleh Hani. Dia menarik pinggang Hana dan memeluknya erat.


"Hani!" Ibu Alisa menatap marah dan terkejut pada Hani, setelah mendengar pernyataan Roy.


"Bukan hanya itu, kau membuatnya dibenci oleh keluarga dengan semua fitnah yang kau buat. Kau ingin menyingkirkannya. Benarkah!"

__ADS_1


"Hani, ibu tidak mengira kau setega itu pada saudaramu sendiri!"


Hani menangis menggelengkan kepala. "Itu bohong, Bu."


" Tunggu dulu. Itu bukan apa-apa, masih ada hal lain yang membuatku tidak bisa memaafkan mu serta bertambah jijik aku padamu."


"Kau ikut dalam rencana untuk membunuh Hana. Benar kan?" tanya Roy.


"Itu tidak benar, aku ... aku... tidak tahu dengan hal itu. Pak Maruli hanya menghubungiku lalu memaksaku menjadi Hana," gugup Hani merasa tersudutkan.


Roy tersenyum sinis sambil menaikkan kacamatanya dengan ujung jari telunjuk.


"Kau yakin?"

__ADS_1


Hani merasa ragu dengan katanya sendiri. Lawannya kali ini bukan orang sembarangan. Tuan Maruli saja yang seorang Menteri bisa dikalahkan oleh Roy dengan akal liciknya apalagi dengannya.


__ADS_2