Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Hampa


__ADS_3

Adry sendiri merasa seperti ada yang hilang ketika mobil mulai berjalan menjauh dari apartemen Raina. Dia hanya diam sepanjang perjalanan sedangkan Nita mengajaknya berbicara tentang perjalanan ke Paris kemarin.


"Bukankah kau katanya mau langsung ke Indonesia?" tanya Adry tiba-tiba membuat Nita terkejut. Mata pria itu menatap kosong ke depan. Biasanya suaminya itu akan bersikap manis padanya ketika mereka bertemu. Namun, kini Adry malah bersikap dingin seolah dia tidak suka jika Nita menjemputnya di sana.


Nita memeluk lengan Adry dan bersandar di bahu kokoh pria itu. "Aku sangat merindukanmu jadi aku terbang dulu ke sini. Acara perhelatan itu akan diadakan empat hari lagi. Kita masih punya waktu untuk pulang kesana bersama."


"Leon sudah bisa ikut terbang kan? Kalau bisa kita bawa pulang sekalian jika tidak biar saja mereka disini dulu. Nanti biar orangku atau orangmu yang akan mengurus mereka kembali ke negaranya."


Adry menghela nafas panjang. Dia mengatupkan lagi bibirnya. Sampai di mansion mereka Adry dan Nita tidak mengatakan apapun. Pria itu bahkan turun terlebih dahulu dan meninggalkan Nita terlebih dahulu masuk ke dalam rumah.


Nita membuka mulutnya lebar. Adry biasanya bersikap manis membukakannya pintu dan mereka akan berjalan beriringan namun baru saja dia tinggal sendiri bersama Raina selama satu bulan kurang, pria itu sudah banyak berubah.


Mungkin ini awal, jadi dia seperti itu. Besok Adry-nya pasti akan berubah kembali seperti semula.


Dia melihat Adry langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Nita mengambilkan baju untuk Adry tidur sebuah piyama sutera berwarna hitam.


Adry lalu keluar dengan hanya memakai handuk saja. Nita lalu membantunya mengelap tubuh Adry. Setelah itu, dia memeluk Adry dari belakang.


"Aku rindu," kata Nita mencium punggung Adry. Adry hanya terdiam terpaku. Nita mulai maju untuk menciumnya. Adry memejamkan mata menerima ciuman itu. Namun, bukannya melihat Nita, di pelupuk matanya hanya ada bayangan Raina.


Dia tetap diam ketika Nita melepaskan handuk itu dan mulai aksinya menggoda Adry. Adry berusaha menerimanya tetapi tidak bisa. Dia tidak menemukan gairah dari sentuhan istrinya itu.


"Apakah kau tidak lelah?" tanya Adry lembut.


"Tidak, aku sangat merindukanmu," ucapnya menyelusuri tubuh Adry bagian bawah.


"Aku lelah, kau saja yang memimpin," ucap Adry tidak ingin mengecewakan istrinya. Namun, alih-alih membuat Nita senang. Milik Adry tidak mengeras seperti biasanya membuat Nita kesal.


"Kau sepertinya lelah." Nita akhirnya menyerah bangkit dan memakai gaun tidurnya. Dia lalu menyerahkan piyama hitam untuk Adry.


"Maaf," ucap Adry. Nita mencoba tersenyum.


"Tidak apa-apa, besok masih banyak waktu untuk kita bersama."

__ADS_1


"Sekarang tidurlah, ini sudah malam. Kau terlihat lelah." Adry lalu berbaring miring membelakangi Nita dan mencoba menutup matanya.


Baru saja berpisah beberapa jam tetapi dia rindu dengan bau harum bunga-bungaan khas Raina. Biasanya dia akan tertidur ketika mencium bau itu. Adry membalikkan tubuhnya lagi melihat Nita yang sedang menatap ke arahnya.


"Kau belum tidur?" tanya Adry.


"Aku menunggumu memeluk diriku," ucap Nita penuh harap. Dia mulai merasa kehilangan Adry namun dia masih berpikir ini hanya sementara waktu saja.


Adry lalu memeluk tubuh proporsional Nita. Tubuhnya memang tinggi langsing, khas seorang model kelas dunia.


Dia mencium rambut Nita mencoba mencari ketenangan di sana namun tidak bisa yang ada hanya rasa gelisah saja yang menerpa.


Pagi harinya Adry membuka matanya. Dia mulai merindukan bau kopi yang membangunkannya di pagi hari dan suara Raina yang renyah memanggilnya dengan lembut. Adry lalu duduk dan melihat Nita masih tertidur lelap.


Dengan langkah gontai dia pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Bathtub masih kosong. Adry mulai mengisinya. Adry langsung mandi saja dari air pancuran yang deras mengusir pikirannya yang kacau.


Dia telah terbiasa dengan kebiasaan Nita mungkin semua akan kembali lagi seperti dulu dan semua yang Raina lakukan akan terlupakan nantinya. Dia ingin menjajal hatinya terlebih dahulu lebih condong kemana, ke Raina kah atau Nita. Dia tidak ingin membuat keputusan yang salah yang bisa menyakiti semuanya.


"Kau tahu Sayang, postingan terakhirnya dibanjiri oleh like dan komentar. Padahal aku hanya memakai baju daster emak-emak ketika sedang di bandara Paris."


"Kau itu aneh saja!'' ucap Adry memakai pakaiannya.


"Itulah cara untuk mengambil hati masyarakat, kita harus pandai mengangkat topik ke publik agar dapat sambutan hangat dari mereka. Mereka sangat senang dengan apa yang kulakukan. Kata mereka berarti aku sudah menaikkan budaya kita ke ranah dunia dan tidak malu menjadi orang Indonesia."


"Mengambil hati itu dengan jatidiri kita buka berpura-pura agar mendapat popularitas tinggi."


"Ish, kau itu bukannya mendukung malah menyalahkan." Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar mereka.


"Saya Daniel, Tuan dan Nyonya."


"Masuk." Terlihat pria berpakaian jas lengkap masuk ke dalam kamar mereka.


"Nyonya, sarapan sudah siap," kata kepala pelayan itu. Nita lalu mendekat.

__ADS_1


"Kau tolong foto aku yang sedang memasang dasi Tuanmu," ucap Nita. Pelayan itu menerima handphone Nita. Adry menghela nafas panjang.


"Tunggu," Nita lalu menggelung asal rambutnya sembari melihat ke arah cermin. Sedikit menyapukan bedak.


Dia lalu memasangkan dasi Adry, pria itu melihat malas. Semuanya tentang konten, batin Adry. Semua diabadikan lewat foto berkali-kali.


"Kau harus melihatku dengan cinta, Sayang," kata Nita menarik tali dasi itu.


"Sudah!" ucap dingin Adry menarik dasinya dari tangan Nita, lalu berjalan keluar kamar.


Nita mengambil handphone itu dari tangan pelayan dan berjalan di belakang Adry.


"Apa kau sudah menyiapkan semua menu yang aku pesan?" tanya Nita.


"Sudah Nyonya," jawab kepala pelayan itu.


"Bagus!"


Mereka lalu sarapan pagi bersama.


"Sayang, lebih bagus mana ini atau ini?'' tanya Nita memperlihatkan foto-foto mereka tadi.


"Yang pertama," jawab Adry asal. Jika sebelumnya Adry tidak masalah dengan perilaku Nita kenapa kali ini dia kesal.


Biasanya Raina akan menyiapkannya makan. Bahkan akan menyuapinya ketika dia kesiangan dan sedang memakai sepatu.


Raina pasti sedang makan bersama dengan Leon sekarang. Sedang masak apa dia kali ini? Pikir Adry yang mulai bercabang sekarang. Tubuhnya berada di sini tetapi hatinya ada di sana.


"Apakah Raina juga merasa hampa saat ini?" Adry menatap Nita yang sedang menyuapkan bubur gandum sembari menatap handphonenya. Bukannya malah mengajaknya berbicara dan memerhatikan apa yang dia mau.


"Letakkan handphone itu dan mulai makan Nita!" seru Adry tidak bisa menutupi kekesalannya.


"'Goyang jarinya, tekan tombol like dan masukkan favorit."'

__ADS_1


__ADS_2