Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Terjebak Pesona Memikat


__ADS_3

"Sangat berbahaya," ucap Roy, kedua tangannya, memegang leher Karina lembut


Cara bibir Roy mendekat, menarik diri Karina membuatnya ingin merasakan bibir pria itu. Mustahil untuk mengabaikannya.


"Mengapa aku sangat berbahaya?"


Tatapan Roy menjelajah dari bibir Karina ke matanya. "Karena kau seperti ular betina yang terlihat jinak ketika dilihat tetapi bisa mematukku kapan saja."


Pria itu melonggarkan jari pada leher Karina. Bukannya bergerak menjauh wanita itu malah semakin mendekat.


"Seburuk itukah aku dimatamu?" tanya Karina meletakkan tangannya di dada kukuh Roy. Pria itu tidak terasa lunak di balik kemeja satinnya.


"Aku tidak memburu kekasih siapapun," tegas Roy bergerak menjauh.


"Aku senang mendengarnya, Roy." Karina mendekatkan bibirnya di bibir Roy. Merasakan nafas pria itu di antara nafasnya. "Aku bukan milik siapapun," bisiknya.


Roy ragu sejenak, lalu memagut bibir Karina. Ciuman dengan bibir tertutup seperti seorang yang ragu untuk melakukannya. Dia mulai menurunkan tangan dan memegang pinggang Karina, mendekatkan tubuh mereka. Di saat itu Karina mulai membuka mulutnya. Mendorong untuk merasakan lebih dalam.


Ketika Roy melakukannya, dia kehilangan kendali. Seperti perbauran antara Bourbon dan birahi yang memuncak. Dia ingin menjelajahi diri Roy dan bersamanya berjam-jam. Namun, dia merasakan jika Roy menciumnya untuk sebuah maksud dan tujuan.


Mungkin tujuan pria itu hanya ingin sekedar menghabiskan malam dengannya. Pria seperti dia pasti akan berganti wanita setiap Minggu bahkan bisa saja setiap hari. Karina tidak tahu karena pria itu pendiam dan penuh misteri.


Namun, itu tidak akan terjadi sekarang. Ketika mereka baru saja bertemu. Dia tidak siap untuk melakukannya. Tangan Roy mulai menekan kuat bagian bawah punggungnya sehingga bagian lunak Karina bertemu dengan bagian keras pria itu.


Ciuman itu terus berlanjut Karina mendapati dadanya menegang dengan sebuah peringatan yang tidak asing. Ransangan seksual harus dipenuhi jika tidak maka dia akan terserang asma berkekuatan penuh.


Sebuah fakta yang membuatnya frustasi dalam hidupnya selama beberapa tahun ini. Fakta yang membuatnya melajang hampir sepanjang waktu. Dia tidak berani untuk melaju ke depan walau dia sangat tertarik untuk berhubungan dengan seseorang.


Roy mengancam keberadaan udara dalam paru-paru Karina. Wanita itu beringsut mundur tetapi Roy tetap mengejar bibirnya.


Karina berusaha untuk mengambil pelan nafasnya tidak mampu untuk mengambil nafas dalam. "Tunggu dulu."


"Oh, apakah aku terlalu berlebihan?"


"Kau tidak tahu."


Karina mengulurkan tangannya, kepalanya terasa berputar dan teringat inhaler dalam tasnya. Bukannya mendorong kuat pria itu. Dia malah hanya merenggangkannya. "Aku tidak bisa bernafas."


Roy tersenyum untuk sesaat. Namun, detik berikutnya dia melihat wajah Karina yang memucat. Wanita itu tidak sedang bergurau.


"Kau tidak apa-apa?"


"Tas," ucapnya. Serta merta Roy membawa Karina ke tempat duduk panjang dari kayu di halaman belakang dan dia masuk ke dalam rumah dengan cepat untuk mengambil tas Karina. Semua orang menatapnya.


"Ada apa Roy?"


"Tas Karina tertinggal," ucap Roy lalu pergi ke tempat Karina berada. Dia bersimpuh di sisinya lalu mencari sesuatu dalam tas. Sebuah botol kecil inhaler ada di sana, menyerahkan pada wanita itu.

__ADS_1


Dia teringat Nita juga memakainya ketika penyakitnya semakin kritis dan menyerang ke seluruh tubuh wanita itu.


Roy mengamati Karina dengan kedua tangan pada sisi tubuh wanita itu. Dia melihat jika nafas wanita itu sudah mulai pelan tidak cepat seperti tadi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Roy khawatir.


Dengan malu-malu, Karina mengangguk. "Ini asma tetapi tidak selalu datang."


Alis pria itu bertaut mendengar penjelasan Karina. "Bagaimana kalau kupanggil petugas medis kemari?"


"Tidak!" Karina meletakkan satu tangan di bahu Roy. "Aku terserang jika saat seperti ini." Lalu dia menunduk.


"Aku menginginkannya tetapi tidak ingin menjadi seperti ini."


"Mungkin kau bisa memasukkan ini dalam daftar ciuman mematikan." Karina terkekeh tetapi itu tidak lucu untuk Roy mendengar kata mati. Bayang-bayang kematian Nita, masih terasa untuknya.


Sial. Seharusnya dia tidak terlibat hal ini dengan Roy. Dia di sini untuk melakukan tugasnya dan malah terjebak dalam pesona pria itu.


"Aku harus pergi," kata Karina berdiri. Roy menarik tangan Karina hingga wanita itu terduduk kembali.


"Seharusnya aku tidak berada di sini denganmu," kata Karina menatap mata cokelat terang Roy.


"Katamu kau bukan milik siapapun."


"Memang tapi bukan itu intinya."


"Apa maksudmu?"


"Kita belum selesai."


"Apa kau selalu sesombong ini?"


Roy tidak menjawab, dia bangkit dan membantu Karina untuk berdiri.


"Aku bisa pulang sendiri," ujarnya.


"Aku yakin kau bisa melakukannya tetapi aku tidak akan membiarkan hal itu. Aku akan mengantarmu sampai depan pintu villamu."


Berdebat membutuhkan banyak tenaga dan Karina tidak sebodoh itu untuk melakukannya. Lagipula, dadanya masih terasa sesak dan dia tidak ingin sesuatu menimpanya jika dia berkeliaran seorang diri di pulau ini. "Baiklah."


Roy tersenyum penuh kemenangan dan dia meletakkan satu tangannya di punggung wanita itu dan membimbingnya ke mobil Jeep miliknya.


"Apakah itu pondok tempatmu tinggal?" tanya Karina ketika mereka melewatinya.


"Ya, apa kau ingin mampir?" Pipi Karina merona membayangkan pikiran apa yang ada dalam otak pria itu. Masuk ke sana dan melakukan hal lebih.


"Tidak, terimakasih."

__ADS_1


"Mungkin lain kali, atau bisa juga besok. Kita bisa berenang di pantai lalu makan siang di pondokku," ajak Roy. Untuk sesaat Karina tercengang.


"Apakah itu tidak terlalu cepat?" tanya Karina.


"Bukankah kalian biasanya hanya butuh hubungan sementara?"


Kenapa kata-kata pria itu terasa menyakitkan untuknya. "Ya, hanya untuk bersenang-senang," lirihnya tersenyum kecut.


Mereka lalu kembali ke villa Karina.


***


"Kau makan siang atau menghabiskan waktu dengan pria itu, hingga kau pulang ketika sore?" tanya Michael ketika pagi harinya.


Karina hanya mengedikkan bahu, tersenyum lalu berbaring di sisi Mitch.


"Aku merasa luar biasa," kata Mitch.


"Kau selalu merasakannya jika sudah menghisap barang haram itu."


"Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan."


"Roy bertanya apa yang kau beli dan aku pura-pura bodoh untuk tidak menjawabnya."


Mitch mengusap hidungnya.


"Apakah kau tidak bisa berhenti mengkonsumsinya?"


"Aku seperti akan mati jika berhenti dari obat-obatan itu. Mereka itu adalah pendorong hidup agar aku bisa melalui semua ini dengan tegar. Menurutmu jika aku tidak melakukannya bagaimana aku bisa menemui penggemar dengan senyuman lebar dan tetap terlihat fit padahal aku tidak tidur selama semalaman dan harus mengerjakan pekerjaan yang padat?"


Karina berdecak. "Setiap artis yang memakai itu selalu mencari alasan agar dibenarkan ketika memakainya."


"Tetapi itu hidupmu dan aku tidak bisa melarangmu sepenuhnya hanya saja aku sudah berkali-kali memperingatkanmu," lanjut Karina.


"Aku tahu Nona Larasati," goda Mitch mengerlingkan matanya.


"Apakah kau sudah bisa masuk ke ruangan itu?" tanya Mitch.


"Itu sulit karena diberi garis pengaman dengan sinar laser."


"Mereka benar-benar menjaga baik tempat ini. Kita bahkan tidak punya celah untuk bernafas jika melakukan kesalahan."


"Tapi kita tidak bisa mundur."


"Aku mungkin akan ke rumah Roy besok dan mungkin dia punya laptop yang menyimpan peta pulau ini dan kelemahannya."


"Jebak dia dengan pesonamu, Sayang."

__ADS_1


"Aku malah yang takut terjebak dengan pesonanya."


__ADS_2