
Raina turun ke bawah untuk membuatkan sarapan. Dia dibuat terkejut melihat dua cup kopi panas dan sandwich di atas piring. Mulutnya terbuka lebar.
Adry sendiri duduk di meja makan sembari membaca koran. Mendengar suara langkah Raina pria itu menurunkan korannya.
"Aku telah membuatmu bangun kesiangan maka dari itu aku memesankan makan pagi untuk kita. Ku pikir kita pasti tidak ada waktu untuk menunggu kau membuat makanan," ujar Adry datar.
Ini lumayan dari pada tidak sama sekali, padahal yang diharapkan oleh Raina adalah buket bunga yang dia serahkan setelah apa yang dia berikan malam ini. Namun, sepertinya itu hanya angan-angan saja. Segelas kopi pun tidak buruk.
Mereka makan dalam diam. Raina canggung untuk memulai pembicaraan. Adry pun terlihat tidak terpengaruh setelah yang mereka lalui. Dia masih tetap Adry yang dingin dan arrogant. Dia hanya akan panas ketika mereka di atas ranjang. Pikiran Raina kembali melayang pada malam tadi, dimana dia dibuat bergetar dan melenguh setiap saat. Dia tidak pernah bersama pria lain, namun dia bisa merasakan jika Adry adalah pemain unggul dalam urusan wanita.
"Kenapa kau tidak suka?" tanya Adry melihat Raina hanya memandangi makanannya saja.
"Eh, aku menyukainya," ujar Raina terbangun dari lamunannya. Dia lantas mengiris sandwich dan memasukkan dalam mulut, mengunyahnya pelan.
Gerakan mulut Raina itu membuat Adry terfokus pada bibir berlipstik merah itu. Bibir yang dia ***** hingga bengkak, tidak bosan dia mencicipinya. Raina melirik ke arah Adry.
"Ada apa? Apakah ada yang salah?"
Adry menyentuh bibir Raina dengan ibu jarinya seperti sedang membersihkan sesuatu tetapi sebenarnya tidak ada apapun.
"Sudah," katanya lalu mengambil tissu dan mengelap mulutnya sendiri.
"Aku sudah selesai," kata Adry. Raina mengangkat wajahnya melihat ke arah piring Adry berisi sandwich yang masih separuh.
"Aku akan menunggumu di mobil," kata Adry tidak ingin terpancing lagi gairahnya karena berdekatan dengan Raina.
Raina melihat gerakan Adry yang meninggalkan ruangan itu. Dia lalu menundukkan wajah setelah pria itu tidak terlihat lagi.
Nyatanya, Adry sudah tidak peduli padanya. Malam tadi memang tidak berkesan untuknya. Hatinya merasa sakit mengetahui kenyataan ini.
Ingatan Raina kembali pada Leon, jam sebelas ini dia akan melakukan operasi dan ini sudah pukul delapan pagi. Raina dengan cepat membereskan bekas makanan itu dan meletakkannya di wastafel. Tidak ada waktu untuk mencucinya. Dengan cepat Raina berlari ke atas untuk mengambil jaket dan keperluan lainnya.
Satu jam kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Di sana Leon sedang dicek tekanan darah oleh seorang dokter yang sedang berjaga.
"Ibu, Om," seru Leon senang.
Raina datang memeluk Leon.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Adry pada Leon.
"Sedikit takut, tetapi aku yakin mampu melaluinya dengan baik karena ada doa ibu dan Om."
"Maaf, simpanan darah di tempat kami masih kurang dua kantong lagi untuk persiapan. Adakah diantara kalian yang punya golongan darah yang sama? Ayah atau Ibunya mungkin?" tanya dokter tadi.
"Golongan darah saya sama dengan Leon," kata Adry. Raina lalu berbisik pada Adry apa yang dikatakan pria itu. Raina tidak tahu dengan bahasa Jerman.
"Mereka butuh darah tambahan untuk Leon, jadi aku akan memberikan darahku," terang Adry.
"Memang darah Om dan aku sama?" tanya balik Leon.
"Tentu saja sama karena kau... ," Adry menghentikan kata-katanya menatap ke arah Raina.
"Karena kebetulan darah kita sama jadi Om bisa mendonorkan darah padamu. Nantinya darahku akan mengalir dalam darahmu," kata Adry.
"Dan kita menjadi anak serta orang tua sesungguhnya," kata Leon. Mata Adry berkaca-kaca.
"Ya, kau akan jadi anakku setelah ini." Adry memeluk Leon dan mengikuti Dokter itu setelahnya. Sedangkan Raina menunggu Leon.
"Aku takut," katanya pelan.
"Semua akan berjalan baik-baik saja, percaya dengan Om."
"Tetap disini dan jangan tinggalkan aku seperti ayah," kata Leon ketika brangkar mulai masuk ke dalam ruang operasi.
Langkah Adry dan Raina mulai terhenti. Raina menutup wajahnya yang mulai mengeluarkan air mata. Adry lalu memeluknya untuk menenangkan wanita itu.
Raina merasa ada tempat yang nyaman untuk dia mengeluarkan semua kesedihannya. Hatinya merasa hangat dan jiwanya merasa tenang.
Adry lalu menggiringnya ke tempat duduk. Mereka lalu duduk bersama. Adry meletakkan satu tangan memeluk bahu Raina dan menariknya agar bersandar di bahu Adry. Raina menuruti. Mereka saling terdiam namun hati mereka berbicara tentang sebuah rasa yang baru mereka alami.
"Tenanglah anak kita akan baik-baik saja," kata Adry. Raina menengadahkan wajahnya.
"Kita?"
Adry tersenyum tipis nyaris tidak terlihat, tangannya yang satu memegang pipi Raina yang masih basah dan mengusap jejak air matanya.
__ADS_1
"Anak kita."
Sekarang aku dan kamu telah menjadi kita tapi sampai kapan? Apakah jika Nita sudah datang kata kita itu tidak akan menguap dan menghilang seperti air? Mengapa dirinya tiba-tiba menjadi serakah? Dia ingin Nita pergi dari kehidupan Adry dan menjadi miliknya.
Mereka akan bahagia, dia, Leon,Adry dan mungkin calon anak mereka kedua yang mulai akan hadir di perutnya. Raina lalu mengusap perutnya yang masih datar.
Namun, dia tidak bisa membuat menderita perempuan lain demi kebahagiaannya. Itu tidak adil.
"Raina," panggil Jonathan dari kejauhan. Raina langsung duduk tegak dan melihat ke asal suara.
"Jo," gumamnya pelan.
Jonathan datang dengan satu asisten yang berdiri di belakangnya.
"Aku dengar jika anakmu akan dioperasi hari ini. Jadi aku kemari," kata Jonathan.
"Ya, dia telah memperoleh donor ginjal. Semoga setelah ini dia bisa beraktivitas dengan normal layaknya anak seumurannya," balas Raina.
"Semoga saja," ujar Jonathan. Mata pria itu beralih ke sebelah Raina. Dia menampilkan senyum terbaiknya untuk menyapa sang rival.
"Tuan Quandt, selamat siang. Aku ingin menemani kalian menunggu operasi Leon," kata Jonathan.
Adry tidak mengatakan apapun hanya menganggukkan kepalanya.
"Kaira juga katanya akan kemari," ujar Jonathan lagi.
"Kalian begitu pengertian," ujar Raina.
"Bukankah seperti itu kita. Kau ingat Selena dan Hari? Mereka juga akan kemari menghadiri pernikahan Kaira. Mereka pasti senang melihatmu lagi," ujar Jonathan.
"Aku juga senang jika bisa bersama kalian lagi seperti dulu," ungkap Raina tersenyum.
"Ya, dulu terasa membahagiakan untuk kita,.aku harap kita bisa mengulang semuanya," lanjut Jonathan menatap Raina dengan penuh cinta membuat rahang Adry mengetat. Tangannya di letakkan di pinggang Raina dengan posesif seolah mengatakan jika wanita itu adalah miliknya.
Jonathan sempat melihat tangan Adry. Namun, dia berlagak seperti orang polos saja. Sedangkan Raina merasakan hawa tidak enak dari Adry. Dia menoleh dan menatapnya. Wajah pria itu menoleh ke samping seraya mengusap dagunya tetapi Raina bisa menebak jika Adry tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
"Namun, semua sudah tidak seperti dulu. Kita sudah dewasa dan memiliki batasan sendiri," ucap Raina menengahi ketegangan yang terjadi.
__ADS_1