
"Hallo, Sayang!" panggil Adry kepada Nita lewat sambungan telepon.
"Hallo juga, lama sekali kau tidak menghubungiku, sudah satu Minggu, aku mulai curiga jika kau sudah melupakan aku?" kata Nita dengan nada merajuk. Adry melirik ke arah Raina yang sedang menatap ke luar jendela.
"Tentu saja tidak, aku banyak sekali pekerjaan kau bisa tanya pada Roy jika aku selalu pulang malam. Leon anak Raina juga baru melakukan operasi donor ginjalnya. Semua sudah dilakukan dan berjalan dengan lancar."
Adry melihat ke arah Raina yang menatapnya tajam. Kok, seperti ini rasanya punya dua istri harus menenangkan keduanya. Dia seperti maling yang ketahuan dan semuanya serba salah.
"Oh, syukurlah, lalu bagaimana dengan proses bayi tabung itu?" tanya Nita lagi.
"Semua sudah dilakukan dan ke...mungki...nan besarnya akan berhasil," ucap Adry lirih merasa bersalah terhadap dua istrinya. Raina memalingkan wajahnya lagi ke arah luar jendela. Mengapa terasa perih? Dia pasti bisa melalui semuanya, berusaha terlebih dahulu selebihnya biar Tuhan yang menentukan takdir mereka.
"Perkerjaanku di Paris sudah selesai tinggal menjadi mentor serta juri sebuah ajang kecantikan. Jadi aku tidak bisa pulang ke rumah kita di Jerman. Ehm aku akan kembali ke Indonesia aku menunggumu di sana."
"Kemungkinan dua Minggu lagi," kata Adry dengan berat.
"Dua Minggu... lama sekali," kata Nita.
"Menunggu anak dalam kandungan Raina mapan," kata Adry menghela nafasnya. "Mungkin bisa lebih, kita lihat nanti."
"Okey, jika bisa kau akan terbang ke Jerman tetapi kau tahu pekerjaanku sangat banyak dan kau pun punya banyak pekerjaan di sana. Ya sudahlah kita nikmati saja semuanya. Namun, aku rindu padamu."
"Aku juga rindu," ucap Adry. Raina membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Ya, Tuhan jangan bilang jika dia hanya dijadikan budak se .... x dan tempat cetak anak dari Adry. Itu sangat menyakitkan walau memang perjanjiannya seperti itu.
"Aku dipanggil oleh Angel, aku matikan dulu teleponnya. Bye Sayang, I Love You...," ucap Nita.
__ADS_1
"I Love you juga," ucap Adry sembari menutup matanya. Mengapa sekarang terasa sulit untuk dikatakan dan dia merasa tertekan untuk mengatakannya?
"Raina, itu... ," kata Adry.
"Sudah tidak perlu kau jelaskan lagi!" ucap Raina kesal.
"Kau marah?"
"Marah pun tidak berarti apa-apa bagimu," ujar Raina sewot. Adry lalu meminggirkan dan menghentikan kendaraannya di pinggir jalan.
"Kemarilah," ajak Adry.
"Untuk apa?" kata Raina tetap duduk ditempatnya.
"Kemarilah, aku ingin memelukmu." Adry menarik tangan Raina. Raina masih melihat ke arah jendela dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucapnya. Raina menyeka hidungnya dan menghadap Adry.
"Mau mengatakan apa?"
"Kemari dulu." Raina lalu menuruti Adry duduk di pangkuan pria itu. Adry memeluknya erat.
"Maaf, jika aku membuatmu terluka," katanya. Air mata wanita itu tidak dapat ditahan lagi. Raina memeluk leher Adry dan bersandar di dadanya.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun tetapi yang pasti aku tidak ingin kehilanganmu dan Leon, memikirkannya saja membuatku gila."
__ADS_1
"Aku tidak bisa menyakiti wanita lain hanya untuk kebahagiaanku sendiri," kata Raina.
"Tidak perlu menyakiti kita bisa bersama tanpa seorang pun yang tahu," kata Adry. Raina menghapus air matanya.
"Kau ingin menjadikan aku sebagai wanita gelapmu setelah aku memberikan dua anak untukmu?" Raina tertawa sumbang.
"Bukan seperti itu hanya saja... kita buat semuanya mudah," ucap Adry yang bingung sendiri dengan apa yang akan dilakukannya ke depan.
"Mudah? Okey, aku mengerti, mudah bagimu itu sulit untukku. Mari kita perjelas. Sudah sepuluh tahun aku hidup tanpa kepastian dan aku lelah. Setelah Leon sembuh, aku akan mencarikannya ayah yang baik untuknya dan selalu ada untuknya. Dokter Ryan, adalah orang yang selalu disebut Leon sebagai ayahnya. Jonathan, dia masih mencintaiku sampai saat ini dan kau hanya menawariku hubungan tidak jelas. C'mon Adry, hidup itu terlalu singkat untuk kulalui dengan tangisan setiap saatnya dan itu semua terjadi karena kau!"
"Jika kau tidak bisa menawariku sebuah kebahagiaan maka mundurlah dan biarkan aku hidup bahagia bersama dengan Leon! Toh, kau juga akan hidup bahagia bersama Nita."
"Dua Minggu waktu kita bersama setelah itu, kita kembali ke dunia kita. Kau dengan istrimu dan aku dengan Leon. Setelah itu, kau bisa ambil anak dari perutku. Bukan karena aku ingin menjualnya tetapi karena kau sebagai ayah meminta bayaran atas keselamatan putramu sendiri." Adry menelan Salivanya dalam-dalam.
"Di situ aku bisa paham kasih sayangmu kepada Leon hanya sebuah kepalsuan belaka. Yang kau butuhkan pewaris bukan anak tempat kau mencurahkan cinta, perhatian dan kasih sayang. Jika kau mencintai anakmu kau akan mengorbankan segalanya demi dia bahagia. Jika kau cinta dengan dirimu maka kau akan mengorbankan segalanya demi kebahagiaanmu. Semua pilihan ada pada dirimu."
"Pilihanku hanya dua, aku dan Leon akan jadi keluargamu atau aku dan Leon akan mencari pria yang bisa mencintai kami se - u -tuh -nya." Tubuh Adry membeku seketika mendengar ocehan wanita itu yang membuat pikirannya terhempas sampai ke dasar jurang yang dalam.
Adry bersandar di kaca mobil dengan memegang dahinya. Dia tidak menyangka Raina yang terlihat lembut akan berubah menyeramkan. Singa betina mulai marah ketika sarangnya mulai diganggu. Dia mulai menunjukkan taringnya yang tajam dan auman yang membuat singa jantan bertekuk lutut.
"Jangan kau kira kediaman dan sikap manisku itu menunjukkan kelemahan, justru itulah senjata yang dimiliki wanita untuk memperdaya pria," batin Raina.
Raina lalu kembali lagi ke tempat duduknya dan untuk sesaat mereka terdiam larut dengan pikiran masing-masing.
"Kita akan terdiam di sini atau melihat keadaan Leon?" tanya Raina dengan nada emosi.
__ADS_1
***
Mikirnya buat satu bab lama babe, yang sabar ya, masukkan favorit, like dan komentarnya syukur vote di kasih ke ane.