Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Mentolelir Kesalahan yang Sama


__ADS_3

Raina dan Adry kembali ke hotel mereka. Baru saja membuka pintu, mereka terpana dan saling pandang melihat Rere berbaring dengan menjadikan paha Leon sebagai bantalnya. Tangannya memegang botol susu. Mereka rupanya sedang menonton sebuah acara di televisi.


"Apakah Ibu terlalu lama datang?" tanya Raina membuat dua anak ini terkejut. Rere langsung minta peluk ibunya dan Leon juga tidak mau kalah memeluk ibunya.


"Ibu aku... teriak Rere tidak mau kalah."


"Ibu aku juga... kakak pinjam boleh?" Rere terdiam berpikir.


"Tak boleh...," ujar Rere memeluk leher ibunya erat.


"Ih Rere pelit, nanti Kakak tidak mau ajak main lagi." Leon terlihat merajuk. Satu tangan Raina lalu memeluk Leon juga. Dia membawa keduanya duduk di sofa. Leon duduk bersandar pada Raina dan Rere duduk di pangkuannya.


"Ayah... tidak kebagian Ibu?" tanya Adry mengangkat alisnya.


"Ayah sudah besar," ujar Leon. Dia meletakkan tangannya memeluk pinggang Raina tetapi Rere menarik tangannya.


"Ih... Kaka... ini ibu aku... ," ujar Rere yang tidak mau membagi ibunya dengan siapapun. Raina menghela nafas.


"Rere ikut Ayah yuk, kita keluar cari makanan." Adry menengahi pertengkaran itu. Melihat Raina yang bingung untuk memilih siapa yang akan didahulukan.


Leon sangat merindukan Raina dan mungkin ingin bermanja-manja dengannya sedangkan Rere masih kecil tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


"Ice ceam sto Belly," celetuk Rere.


"Ya, beli ice cream stroberi." Adry mengulurkan tangannya. Rere menatap Raina lalu Leon.


"Ibu ikut?" tanya Rere. Ada rasa takut jika ibunya diambil oleh Leon.


"Ibu di sini saja. Kau pergi jalan-jalan dulu bersama Ayah," ujar Raina.


"Ayo Rere... ini sudah malam, pasti banyak lampu jalanan yang akan membuatmu senang," ajak Adry. Mereka memang jarang ke kota paling hanya sebulan sekali. Rere biasanya akan antuasias jika diajak jalan-jalan memutari jalan utama kota.


"Aku tidak mau," ujar Rere. Dia kembali bergelayut manja dengan Raina.


"Ya, sudah jangan dipaksa, Yah. Kita makan di restoran bawah saja atau pesan makanan ke kamar," ajak Raina.

__ADS_1


"Makan disini saja. Seperti dulu," pinta Leon. Mata Raina menjadi sendu. Dia mengusap rambut Leon dengan lembut.


"Ya, sudah. Kau pesan makanan yang kau mau," ujar Raina.


"Aku mau ayam panggang. Aku rindu masakan itu, apalagi jika ibu yang membuatkan."


"Aku akan memasak makanan apapun yang kau inginkan ketika kita sampai di rumah."


"Aku jadi ingin melihat rumah kita," ungkap Leon.


"Besok, ketika Om Roy sudah sehat kita akan kembali ke rumah."


"Lalu bagaimana keadaan nenek?"


"Dia belum siuman," ujar Adry asal karena dia tidak ingin bertanya pada siapapun tentang keadaan ibunya. Sudah cukup ibunya menjadi biang penderita keluarganya.


Di rumah sakit. Carl menuju ke kamar Janeta. Dia membuka pintu dengan pelan. Nampak seorang perawat dan dokter sedang berbicara dengan istrinya. Terdengar nada suara Janeta yang meninggi namun tidak jelas.


"Bagaimana bisa aku menjadi seperti ini!" teriak Janeta marah dengan suara cadel. Selang infus hampir jatuh karena tarikan kuat dari Janeta.


"Ada apa ini?" tanya Carl melihat suasana sekitar Janeta yang berantakan. Dia menatap Janeta dengan ekspresi terkejut.


Janeta menangis keras memandang Carl.


"Lihat apa yang mereka lakukan padaku!" ucap Janeta.


"Maaf, Tuan. Kami sudah melakukan yang terbaik sebisa kami. Hanya saja tekanan darah Ibu ini naik tinggi sewaktu dilakukan operasi. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawanya," terang dokter yang sedang berjaga itu.


Carl mendekati Janeta dan memegang tangannya.


"Maaf mungkin istriku sedang shock dengan kejadian ini."


"Iya, Pak. Kami faham."


"Sayang, kita harus menuntut mereka!" ucap Janeta dengan kesulitan karena separuh bagian tubuhnya lumpuh. Wajahnya basah oleh air mata.

__ADS_1


"Ini bukan salah mereka. Mereka sudah melakukan yang terbaik hanya saja kondisimu yang kurang baik sewaktu dilakukan operasi," terang Carl. Dia tadinya ingin meluapkan kemarahannya pada Janeta hanya saja dia tahan. Tidak tega melihat kondisinya yang menyedihkan.


"Kalau begitu kita kembali lagi saja ke Jerman di sana alat-alatnya lebih canggih dan aku bisa pulih seperti semula," pinta Janeta menangis di pelukan Carl.


"Kau baru saja sadar dan kita tidak bisa pergi dari sini secepat itu. Setidaknya menunggu kondisimu stabil. Selain itu aku juga harus menunggu kondisi Roy stabil."


"Roy...." Janeta terdiam. Dia ingat terakhir kali dia menembak dada Roy.


"Aku... aku... melakukannya karena tidak sengaja," ucap Janeta. Carl melepaskan pelukannya dari Janeta. Dia mundur.


"Seharusnya kau minta maaf atas semua yang telah terjadi bukannya malah menutupi kesalahanmu terus!"


"Anak itu yang salah?"


"Aku tanya apa salah, Roy? Roy tidak pernah membantahmu sedikitpun."


"Dia menghalangiku membawa Adry pulang, dia ... ingin menjauhkan aku dari anakku dengan cara liciknya."


"Sudahlah Janeta, aku lelah dengan semua sandiwaramu hentikan itu atau aku akan layangkan surat gugatan cerai sekarang juga dan kau bisa tinggal sendiri di penthouse milikmu dan berbuat apa saja yang kau sukai di sana!" Geram Carl.


Janeta terdiam, matanya membelalak lebar. Dia lalu merebahkan pelan tubuhnya lagi.


"Pergilah, kenapa kau lelah-lelah datang kemari jika hanya ingin menghujatku. Kau dan mereka sama saja, akan meninggalkanku sendiri."


"Terserah padamu Janeta. Teruskan saja pikiran burukmu. Jika kau seperti ini terus tidak akan ada orang yang tahan untuk berada di sampingmu. Tidak aku, Adry apalagi orang lain. Kau wanita paling keras kepala dan ambisius yang pernah kutemui. Aku lelah dan aku akan kembali jika pikiranmu telah tenang dan kau sadar dengan apa yang kau perbuat."


"Kalau begitu pergilah! Aku tidak butuh pria sepertimu! Kau hanya bisa menyalahkan aku tetapi kau tidak bisa melakukan apapun. Bahkan jika tidak ada aku, kau tidak akan bisa membawa Roy datang ke keluarga kita!" ungkap Janeta dengan suara yang tinggi. Kata-katanya memancarkan kemarahan.


Carl memberi isyarat pada Dokter untuk menyuntikkan obat penenang pada Janeta.


"Maaf Nyonya kamu harus melakukan penyuntikan ini."


"Suntik apalagi? Apa kalian akan membunuhku?" teriak Janeta tidak terima dan berusaha untuk memberontak. Carl menggelengkan kepalanya berjalan mundur ke belakang.


"Kali ini kau harus tenang dan ikuti semua kata-kataku. Aku lelah dengan semua yang telah terjadi. Kau dan apa yang kau lakukan menyakiti semuanya. Mungkin ini balasan Tuhan atas apa yang kau lakukan dulu dan kemarin. Ini bukan apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan Roy yang di sebabkan olehmu. Kau tega pada Adry dan membuatnya menderita itu masih kutolelir karena kau adalah ibunya dan berharap yang terbaik untuk anak kita. Namun, ketika kau mencoba membunuh Roy. Anak yang selama ini berusaha menjadi anak yang baik hanya karena dia bukan darah dagingmu. Aku tidak bisa menerimanya walau kau mengajukan seribu alasan, Janeta. Aku tidak akan menerimanya."

__ADS_1


__ADS_2