
"Pak saya sudah mendapatkan identitas dari Hana."
Hyun memberikan sebuah flashdisk berisi tentang Hana. Roy langsung memasangnya di komputer.
"Hana adalah salah satu anak kembar dari Aditya Prawiro dengan Alisa Bernard. Tuan Aditya adalah pemilik dari pabrik plastik. Dia meninggal dunia ketika Hana berumur lima belas tahun."
Roy lalu menyela. "Hana mempunyai kembaran?" Mata Roy melebar dengan antusias. Sebuah senyum hangat tersemat di
"Ya. Coba lihat foto instagram milik Hana beberapa tahun yang lalu. Dia sedang bersama dengan kembarannya. Mereka masih sekolah di SMU dulu."
Roy mengangguk. Berarti dia salah orang selama ini. Dia mengamati foto itu. Hani memang terlihat nyentrik penampilannya sedangkan Hana nampak kalem dan sederhana.
"Alisa menikah lagi dengan David, seorang pengusaha tahu daerah setempat. Namun, mereka tetap tinggal di rumah milik Aditya. David juga punya seorang anak bernama Brandon. Entah karena apa, Hana keluar dari rumah itu. Setelah itu dia hidup berpindah tempat hingga terakhir kali tinggal di kontrakan itu selama lima tahun."
Brandon, bukankah pria yang bersama Hani waktu itu. Mereka lebih nampak seperti kekasih daripada kakak beradik.
Berarti dia telah salah menilai Hana dan itu artinya wanita yang bersamanya bukan Hani melainkan Hana. Hati Roy mendesir sakit dan senang. Dia langsung berdiri melemparkan jasnya dan melepaskan dasi yang melingkar di leher.
"Hana mempunyai dua orang anak bernama Ayu Jelita Prawiro dan Bagus Pangarep Prawiro. Dari keterangan yang di dapat dari kantor kependudukan, Hana mempunyai dua orang anak kembar tanpa ada nama ayahnya. Yang artinya dia adalah singel Mother. Kenapa Pak Roy bertanya tentang wanita ini?" tanya Hyun mengakhiri pencarian data diri Hana.
Roy tidak menjawabnya malah melangkah keluar dari ruangannya.
"Batalkan semua pertemuan dengan siapapun tanpa terkecuali, aku akan libur bekerja dua hari ini. Oh ya daftarkan pernikahanku dengan Hana dalam waktu dekat."
"Bos kau yakin mau menikah?" tanya Hyun terkejut.
"Kau pernah lihat apakah aku pernah bermain-main," ujar Roy meninggalkan Hyun sendiri.
Hyun menggelengkan kepalanya. Bosnya itu memang selalu serius dalam segala hal. Hingga wajahnya pun selalu serius tidak pernah tertawa lepas.
Kini pekerjaannya bertambah lagi karena harus menemui beberapa klien penting. Dia tidak bisa serta merta membatalkan pertemuan penting. Bos memang selalu bisa berbuat semaunya sedangkan bawahan selalu terjepit keadaan.
__ADS_1
Roy lalu pergi ke rumah Hana. Dia nampak tidak sabar untuk bertemu dengan mereka hatinya meletup-letup dengan bahagia. Dia tidak akan hidup sendiri lagi di dunia ini. Tuhan masih baik padanya dengan memberikan hadiah terbesar yang tidak pernah dia duga samasekali. Keluarga yang akan menemaninya hingga akhir hidup.
Ketika lampu merah menghentikan kendaraannya. Roy teringat akan kata-kata Ayu yang mengira jika Ayahnya adalah pria yang tidak bertanggung-jawab. Lalu, apa yang akan dia jelaskan pada anak itu nantinya setelah dia mengatakan bahwa dia ayahnya. Mereka pasti akan bertanya dimana dia dan mengapa dia tidak mencari mereka selama ini. Bisa saja mereka akan marah dan tidak menerima kehadirannya.
Pikiran itu membuat perut Roy melilit. Dia tidak sanggup menghadapi penolakan mereka. Lebih baik jika dia mendekati mereka terlebih dahulu.
Roy melihat toko bunga di pinggir jalan. Dia lalu menghentikan kendaraannya.
"Aku ingin buket bunga besar untuk wanita yang sedang marah, aku butuh membujuknya dengan bunga itu," kata Roy memesan bunga. Dia seperti anak remaja yang tidak tahu harus berbuat apa menghadapi ibu anak-anak yang sedang merajuk.
"Mungkin rangkaian bunga anggrek putih ini menggambarkan tentang ketulusan dan kemurnian dari ucapan maaf anda. Atau bunga mawar putih yang menggambarkan permintaan maaf dan cinta."
"Lebih baik yang Anggrek saja," pilih Roy. Dia tidak mencintai Hana dan begitu pula sebaliknya.
"Jika untuk pasangan lebih elok mawar putih atau Lily?"
"Dia... dia kami belum jadi pasangan mungkin setelah ini... aku tidak bisa menjelaskannya secara terperinci."
"Terserah kalian saja. Aku tidak mengerti tentang itu. Hanya saja cepat."
Pemilik toko tertawa kecil, "Bertengkar dengan seseorang yang penting bagi kehidupan kita memang tidak enak."
Roy lalu duduk menunggu. Pikirannya sedang tidak tenang menunggu bunga itu selesai dibuat. Dia melihat toko mainan di seberang jalan. Dia tersenyum lalu segera berlari ke sana hingga menabrak seseorang.
"Maaf... maaf...," ucap Roy. Di toko dia tidak tahu harus membeli apa. Dia belum pernah menjadi ayah dan kini dia tahu dia adalah ayah dari dua orang anak. Amazing. Dia sangat bersemangat hingga tidak bisa berpikir.
"Aku ingin mainan untuk anak umur.. ." Dia lupa bertanya mereka umur berapa. "Sekitar tuju atau delapan tahun."
"Laki atau perempuan?"
"Keduanya."
__ADS_1
"Robot yang harus di pasang dan dirangkai sendiri itu bisa melatih otak dan motoriknya. Kau bisa melakukannya dengan anakmu, bukankah itu menyenangkan? Alat musik ini bagus untuk anak perempuan juga boneka, dia lebih suka barbie atau boneka karakter, semua tergantung dengan seleranya."
"Aku ambil semuanya," perintah Roy dengan mata yang berkilat karena bahagia. Dia seolah ingin mengatakan pada semua orang jika dia adalah seorang ayah untuk dua anaknya.
Satu jam kemudian Roy datang ke rumah Hana. Jantung berdetak lebih kencang, seperti orang yang akan menemui calon kekasih untuk pertama kalinya tetapi itu bukan kekasih melainkan keluarga? Apakah mereka sudah menjadi keluarga? Hana? Belum tentu dia menerima ajakannya menikah. Dia harus mau untuk kebaikan mereka.
Hana sedang mengambil cucian yang sudah kering dari jemuran yang menggantung di depan rumah. Dia masih memakai daster tadi dengan kaki hanya memakai sandal jepit.
Tangannya menyeka dahi yang basah oleh keringat. Sedangkan tangan yang lain memegang baju.
"Panas sekali cuaca hari ini. Untungnya semua jemuran kering." Hana membalikan tubuh, melihat Roy ada di depannya.
Sebenarnya saat itu Roy ingin sekali memeluk Hana dan mengucapkan terimakasih karena telah memberinya dua orang anak yang cantik dan tampan namun dia tahan.
"Kau... kok sudah datang?" tanya Hana ketus seperti biasa.
"Kau menungguku?" Roy membalasnya dengan senyum lebar. Matanya bersinar dengan bahagia.
"Tidak... hanya saja kau bilang akan datang malam hari? Ini baru jam empat," ujar Hana.
Belum juga dia menjawab Ayu sudah keluar dari rumah.
"Tuh kan bener, Om datang lagi."
"Om bawa banyak mainan untuk kalian di mobil. Ambil sendiri sana," perintah Roy.
"Kakak... Om bawa mainan, ayo kita ambil."
Bagus lalu keluar. Mereka berdua pergi ke mobil Roy dengan cepat setelah Roy memberikan kunci mobilnya.
"Kau kemari memberikan banyak barang, rumahku akan terasa penuh dan sempit nanti," Hana masuk ke dalam rumah membawa pakaian yang kering. Roy mengikutinya. Hana meletakkan itu di atas tikar mulai duduk untuk melipat pakaian.
__ADS_1
"Hana, aku ingin memberikan ini," kata Roy mengeluarkan buket bunga besar dari belakang tubuhnya. Dia sudah siap dengan caci maki yang akan Hana ucapkan nantinya.